Titik-titik Tanpa Garis Temu

1103 Words
Awan baru saja akan menikmati makan malam ketika istrinya menelepon. Dia mengangkat sambil menyiapkan makan malam. “Makan malam apa?” tanya Liana lembut. “Ayam bakar,” jawab Awan menunjukkan sekilas isi kotak makanan, lalu memindahkannya ke piring. “Kamu udah makan?” Liana mengangguk. Sambil makan, Awan bercerita tentang hari pertamanya di kantor sebagai Elang. Liana mendengarkan dengan saksama sembari memberi respons ketika diperlukan. Awan bahkan menunjukkan tanda tangan yang masih terbilang amburadul karena tadi buru-buru belajar. “Toko gimana, aman?” tanya Awan kemudian. “Aman, Kak. Tenang saja. Onel bisa diandalkan, kok.” “Kantor kamu?” “Sementara ini aku kurangi job dulu sih, Kak, biar bisa bantu lihat toko.” Melihat wajah tidak enak suaminya, Liana cepat-cepat menambahkan keterangan. “Aku malas lama-lama di kantor kalau nggak ada kamu. Kalau turun kan, ada Onel.” Awan tersipu mendengar kalimat istrinya. Dia jadi merindukan suasana toko juga kantor mereka. ELWE Furniture dan ELWE Design sengaja Awan dan Liana bangun di gedung yang sama untuk memudahkan mereka berkoordinasi. Gedung tingkat dua yang mereka miliki lantai dasarnya digunakan untuk toko sekaligus bengkel di bagian belakang, sementara lantai atas untuk kantor Liana yang setengahnya mereka desain seperti apartemen studio. Baik Awan maupun Liana sering menghabiskan waktu di studio karena harus menempuh jarak kurang lebih setengah jam jika ingin pulang, yang tentu saja tidak efisien, terutama pada jam sibuk. Studio itu sudah seperti rumah kedua bagi pasangan ini. Jika salah satu harus lembur, mereka sering kali memilih menginap di sana karena tidak ingin berada di rumah sendirian. “Berarti nggak bakal ada lembur kan selama aku di sini? Jangan nginap di studio selama aku nggak ada, ya.” Liana mengangguk mendengarkan semua titah Awan. Mereka melanjutkan obrolan sampai ada pemberitahuan antrian telepon dari Dex. Awan berniat menutup sambungan setelah berjanji akan menghubungi kembali. “Besok-besok saja telepon lagi. Kakak istirahat saja setelah ini. Aku juga mau cek desain yang sedang dikerjakan biar bisa tidur nyenyak.” “Jangan begadang,” tutur Awan. Meskipun itu perintah, dia mengucapkan dengan nada lembut yang disukai Liana. “Iya. Kakak juga, ya. Jangan sampai sakit.” Awan mengangguk. “Harus kuat, dopingnya lagi jauh,” ucapnya seraya tertawa. “Ada-ada saja,” ujar Liana sambil meggeleng. Namun, tak ayal pipinya memerah. Senyum terkulum menghiasi wajahnya. “Ah … kalau tahu bakal rindu gini, mending kemarin kamu aku bawa aja ke sini.” “Terus, toko sama kantor gimana? Kalau libur selama di Jakarta, bisa-bisa menggembel kita pulang nanti.” “Nggak apa-apa sih, kalau sama kamu.” “Aku yang nggak mau,” potong Liana cepat. “Nggak mau hidup susah sama aku?” “Nggak mau jadi gembel.” Tawa Awan pecah melihat ekspresi sang istri. Dia tahu, dalam benak Liana bayangan mereka menggembel sudah tergambar jelas. “Kak, kok jadi malah makin panjang obrolannya? Angkat teleponnya.” Awan seketika tersadar bahwa tadi ada panggilan masuk dari Dex. Dia memberikan ciuman virtual pada Liana sebelum menutup telepon, baru mengirim pesan untuk Dex. Ponselnya kembali berdering sebelum Awan selesai mengetik pesan. “Jadi gimana? Kabar apa yang kamu punya?” “Di waktu sekitar kecelakaan, Pak Bima berada di pusat perbelanjaan tidak jauh dari tempat Bapak makan. Lalu, dia punya janji juga di restoran tersebut dan berada di sana selama beberapa jam.” “Pusat perbelanjaan?” “Dia membeli barang untuk perempuan, Pak. Tas dan sepatu.” Awan mengangguk berkali-kali, tidak ingin memusingkan lebih lanjut mengenai hal bersifat pribadi itu. “Tidak ada yang aneh?” lanjutnya, kembali fokus pada kegiatan dan keberadaan Bima di hari kecelakaan. Dex menjelaskan tidak ada apapun yang aneh dari gelagat Bima selain fakta bahwa pria itu sempat mematung di belakang mobil Elang ketika datang. Dari informasi tersebut Awan yakin Bima hapal kendaraan yang Elang gunakan. Awan tidak bisa mencurigai Bima hanya karena pria tersebut menatap mobil Elang beberapa saat. Namun, fakta perebutan tender dan hubungan kurang baik karena tender tidak bisa disingkirkan begitu saja. “Dex, cari informasi mengenai pergerakan Bima seminggu ini, temukan apapun yang mencurigakan. Sepertinya, kita harus menggali lebih dalam.” “Baik, Pak.” Apartemen Elang yang lengang terasa sepi. Awan duduk di sofa tamu, menyisir pandangan ke seluruh ruangan. Dia mencari petunjuk dari setiap benda yang dilihat. Merasa tidak puas, Awan memasuki walk-in-closet saudara kembarnya, memeriksa setiap inci ruangan, berharap menemukan sedikit saja petunjuk. Sayangnya, sudah berjam-jam Awan berada di sana, mengubek semua yang bisa dibongkar, tetapi tidak menemukan apa-apa. Dia duduk bersandar pada salah satu lemari karena kelelahan, badan juga pikiran. Tiba-tiba, penyesalan menyergap. Beberapa tahun terkahir, komunikasi di antara mereka memang tidak intens. Terlebih, setelah Awan pindah ke Makassar dan merintis bisnisnya bersama Liana. Mereka yang dulunya hampir tiap hari saling memberi kabar kala kuliah terpisah, perlahan-lahan sibuk dengan urusan masing-masing. Awan dengan cita-citanya membuat furnitur dan menjual sendiri produknya, Elang dengan tanggung jawab yang diembannya sejak kecil, menjadi penerus utama bisnis orang tua mereka. Semua ini terjadi bukan karena perselisihan. Kesibukan yang mengurangi inrensitas komunikasi perlahan membuat mereka salilng sungkan. Elang takut mengganggu kehidupan rumah tangga saudara kembarnya, sementara Awan tidak ingin membebani Elang dengan hal remeh tentangnya ketika sang saudara harus membuat banyak keputusan bagi perusahaan yang dibangun dari nol oleh ayah mereka. Menatap sekeliling yang terlihat baik-baik saja, membuat Awan pesimis. Tiba-tiba dia merasa bahwa dirinya berlebihan. “Mungkin yang Mama sampaikan benar,” ucapnya pelan pada diri sendiri. Namun, cincin yang tidak ada di tubuh Elang memberinya firasat kuat jika terjadi sesuatu pada saudaranya. Kecelakaan ini juga terjadi hanya dua minggu menjelang rapat direksi, menguatkan firasat Awan mengenai kecelakaan Elang. Awan pun berdiri, melangkahkan kaki ke tempat tadi dia duduk, lalu mengambil ponsel. Dia membuka aplikasi percakapan dan mulai mengetik. Tidak lama, pesan terebut dihapus. Awan melakukan panggilan. “Ko, aku minta data lengkap setiap dewan direksi juga komisaris, ya, termasuk data keluarga intinya. Kirimkan segera.” Dalam setengah jam, Awan sudah mendapatkan data-data yang diminta. Dia kemudian memasuki ruang kerja Elang, menyibukkan diri di sana. Setelah membaca-baca laporan, lelaki itu mencetak beberapa halaman yang dirasa perlu. Awan juga berkali-kali menelepon Yoko, meminta informasi-informasi yang kemudian ditambahkan pada kertas-kertas yang sudah dicetak. Setelah yakin pada data-datanya, Awan bermaksud kembali menghubungi Yoko, tetapi diurungkan kala melihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul dua. Awan akhirnya memilih mengirim pesan terkait hal-hal yang dia minta untuk diperiksa lebih lanjut. “Jika ini terjadi sebelum rapat direksi, aku tidak bisa menutup mata dari kemungkinan kalau rapat direksi merupakan akar dari segalanya.” Awan kembali menatap kertas yang berserakan di atas meja. Dia menggaruk alis, berpikir keras kala menatap kertas-kertas tersebut yang sayangnya malah membuatnya terlelap dalam posisi duduk di kursi putar Elang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD