Bab 1 - Footage Terganggu

1011 Words
"Aku mungkin tak punya arah lagi, padam lagi semangat memulaiku teringat pendirian lawan. Aku merasa takkan bisa bawa diri lagi selain menjadi seperti mereka." "Jadi.. mengapa perlu kau katakan hal ini? Bukankah tak lagi bermakna dan mengubah keadaan?" "Karena.. aku bukan sebaik-baik saksi atas keadaan hidupku ini. Baik yang telah lewat, ataupun yang masih wacana, yang lagi diusahakan ini." "Hari esok--" --- "Heh, Linggar, Deni," potong seorang siswi terdekat yang duduk anteng baca ponsel. "Kalian pada ngomong apa sih, sok bijak banget ngobrolnya. Berisik!!" "Emang kita tereak-reak, Win?" tanya siswa yang disela ini. "Lo aja teriakan ngomongnya." "Kami lagi ngonten, Win. Jadi kudu pake bahasa baku. Hadeh.. Gue jadi lupa mau ngomong apa tadi." "Ngonten apaan? Nyampah kali." Wiwin bicara lagi sambil menggulir dan menyuapkan kripik. "Udah banyak bullshitnya." "Berisik lo." Salah satu siswa meraih ponsel dan menutup rekaman, yang satu balik protes di posisi masih membelakangi Wiwin, lanjut menggerutu. "Kita ulang aja, Den. Tapi gue nggak mau hapus yang ini," ucap Linggar, meski Deni masih bicara dalam debatnya pada Wiwin, Linggar mulai menonton file galeri yang baru. "Ya udah.. Lo berdua ngonten di luar aja, kantin, ato di lapang kek. Perpus juga sepi. Sana. Jangan di sini." Deni menjulurkan lidah, mengulang ucapan Wiwin dengan maksud mengolok dan mengejek, bukan mengulang sepenuhnya. "Wawaw.. wewew.. di luar.. wangan wi wini.." "Ih, lo nih," dengus Wiwin mengambil botol setengah berisi, langsung melemparkannya ke punggung Deni, tak suka dengan gerakan b****g anak itu. "Sana..!!" Werr..rrr! Bletakh . . ! "Aakh!" Linggar mengerang kepalanya terhantam botol terbang. "Duh.. Anjir—" Linggar memegangi pelipis atas yang ngilu di urat saraf, Wiwin melonjak dari tempat duduknya dengan wajah panik. Deni berbalik dengan cepat, ekspresi kekonyolannya hilang seketika. "Loh— Lo gimana sih, Win?!" Deni langsung membalikkan badan, matanya melebar melihat Linggar duduk tertekuk di kursi, botol plastik terguling ke kolong. "Bukan gue yang kena, tapi dia?!" "Den, serius, udah." Linggar menekan suara sambil menarik lengan Deni yang masih terlihat ingin berbalik ke arah Wiwin, menggenggam Debi, seperti mencoba mengendalikan anjing yang baru saja melihat kucing liar. "Kita keluar. Sekarang." Deni menghela napas panjang tapi mengangguk, lalu mengumpulkan buku-bukunya, dia dimasukkan dengan kasar ke dalam tas sebelum akhirnya mengikuti Linggar menuju pintu. Wiwin masih berdiri, wajahnya campur aduk antara bersalah dan kesal. Dia lihat, Linggar bahkan tak menoleh. Linggar dan Deni keluar ruangan, meninggalkan bangku syuting dan botol plastik isi air di lantai, udara tegang tersisa di kelas kosong. --- Koridor sekolah lebih dingin daripada kelas, dan Linggar menarik napas dalam-dalam saat mereka berjalan menuju kantin. "Lo tahu nggak." Deni tiba-tiba bicara, suaranya masih kesal tapi sudah lebih rendah. "cewek kayak si Wiwin tuh sering ngerasa bener. Ngotot banget sampe nggak mikirin orang laen." Linggar mengeluarkan ponsel dari saku, membuka fitur kamera dengan gerakan cepat. "Ulangin tuh, Den. Tapi pelan-pelan, biar suaranya kerekam jelas." Deni mengerutkan kening, tapi kemudian tersenyum kecil saat menyadari apa yang Linggar lakukan. "Serius lo mau rekam opini gue soal cewek?" tanya Deni, sudah menyesuaikan langkahnya agar lebih dekat dengan jangkauan ponsel di tangan Linggar. Suara Deni mulai lebih terukur, seperti sedang berbicara pada podcast. "Jadi, menurut gue, kebanyakan cewek, eh, perempuan tuh.. terlalu fokus sama pendapat mereka sendiri, sampe nggak mau denger orang. Kayak si Wiwin tadi. Padahal kita lagi ngobrol serius, eh dia malah nyela." Linggar mengangguk, menggeser ponselnya sedikit ke atas agar lebih stabil. "Terus? Lo merasa kaum hawa tuh gimana?" "Nggak semua sih," Deni buru-buru menambahkan, melirik ke sekeliling koridor yang sepi. "Yang kayak gitu biasanya jadi yang paling ribut pas keganggu. Padahal kita cuma ngobrol biasa kan. Mereka yang bikin ribut." Tangan Deni bergerak liar, mencoba menggambarkan sesuatu, di udara. "Dan parahnya, mereka nggak pernah mau ngaku pas salah. Pokoknya harus orang lain yang salah." Di koridor, sekelompok siswa lain lewat sambil tertawa. "Nah, lihat tuh. Kalo cowok ribut mah biasa aja. Tapi kalo cewek ribut, kita langsung dikasih label 'cerewet' atau 'nyebelin'. Padahal sebenernya sama aja." Linggar mengerutkan kening. "Jadi buat lo, ini masalah gender?" "Bukan!" Deni berhenti mendadak, membuat Linggar hampir menabraknya. "Ini masalah sikap. Tapi..." Deni menggaruk, mencari kata-kata yang tepat. "Mungkin.. Lo pernah ngerasa nggak, kalo cewek itu lebih sering dikasih kelonggaran buat ngelakuin hal-hal tertentu?" Di balik layar ponsel, Linggar tersenyum kecil. "Misalnya?" "Misalnya... Ng.." Deni melirik ke kiri-kanan, lalu bicara. "Kalo cewek ngelempar botol, orang bakal bilang, 'Ah, namanya juga perempuan, emosional.' Tapi kalo cowok yang ngelempar? Langsung dicap kasar, preman, gak berpendidikan. Aneh kan?" "Apa hubungannya?" "Gue nggak tahu. Tapi..." Deni menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecut. "Lo suka bawa gue pergi kalo ada masalah. Nggak pernah kebalik." "Den," panggil Linggar pelan, "lo mau ngomong apa sebenarnya?" Deni mengangkat bahu. "Gue cuma mikir... mungkin kita terlalu fokus nyalahin orang. Wiwin salah lempar botol? Iya. Tapi gue juga salah, gue yang ngeprovokasi dia. Dan lo... Lo suka jadi penengah. Capek nggak sih, ngalah terus?" --- Wiwin muncul di ujung koridor dengan mata berkaca-kaca, menjinjing perban dan es batu dalam plastik mini. Deni adalah yang pertama melihat. "Loh, Win?" ujarnya. "Dia bawa apa tuh?" Linggar menoleh ke belakang, matanya langsung mendapati Wiwin sudah di depan. "Linggar.. Gue..." Wiwin memulai, suaranya pelan di tengah kalimat. Kantong es batu Wiwin angkat setinggi d**a. "Pala elo... kan kena lempar, tadi." Suasana lebih tegang dari yang seharusnya. Tapi tak ada yang bicara soal pencuri mangga yang melemparkan batu tes. Deni menghela napas, tiba-tiba menepuk bahu Linggar. "Ling.. Gue ke kantin dulu," ucap Deni, isyarat bahwa ia memberi mereka ruang daripada benar-benar lapar. Langkah Deni menghilang di belokan koridor. Wiwin menggerakkan kakinya lagi, kali ini lebih pasti. "Sini, gue lihat dulu." Wiwin gemetar meraih rambut Linggar untuk memeriksa bagian yang kena lempar botol minumnya. "Njir, bener.. Lo emang benjol. Untung anak PMR stay di sekretariat. Duh, swer.. Gue salah lempar tadi, Ling. Nggak nyangka bakal kena pala lo." Linggar mengernyit saat jari-jari Wiwin menyentuh pelipis atas yang masih terasa panas. "Nggak parah kok," ucap Linggar, diam berdiri saat Wiwin dengan hati-hati sudah menempatkan batu es ke bagian yang menyembul di kulit kepala. Dinginnya batu es menusuk, tapi entah kenapa, justru itu yang membuat Linggar sedikit lega. ---​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD