Bab 5 - Viral

1016 Words
Pagi ini Linggar berangkat lebih awal. Deni belum terlihat. Bangku sebelah masih kosong, tas belum ada, kursi belum digeser dan masih miring seperti biasanya. Linggar duduk, buka catatan pelajaran yang sudah seminggu tak disentuh. Tak lama kemudian Wiwin masuk, rambut dikuncir satu, seragam masih rapi karena masih pagi. Wiwin duduk di bangkunya sendiri tanpa lirik kiri-kanan, menaruh tas dengan bunyi berdebum, lalu membuka dompet kecil, mengeluarkan earphone. Linggar tidak menyapa. Wiwin juga tidak menyapa. Dua menit kemudian, dari bangku Wiwin ada suara lirih. "Viral ya, semalem." Linggar melirik. Wiwin masih memasang earphone, matanya ke arah meja. Tidak melihat ke Linggar. "Udah lihat?", tanya Linggar. "Adik gue yang bilang." Wiwin memberitahu sambil mengedikkan bahu. "Katanya, teman-temannya pada share video lo." Linggar menyahut. "Oh." Hening lagi. Wiwin pasang earphone, tapi yang satunya belum. "Tuh objek beneran ada.. apa kalian setting sendiri?", tanya Wiwin tanpa intonasi khusus, seperti bertanya jadwal piket. "Nggak tau," jawab Linggar jujur. Wiwin akhirnya melirik ke lawan bicara. Satu detik. Dua detik. Lalu siswi ini pasang earphone yang kedua, membuka catatan pelajarannya. Linggar balik ke catatannya sendiri. Kini Linggar tidak benar-benar membaca. Matanya di halaman, pikirannya di detik 1:47. --- Di luar kelas, langit pagi masih putih dan seragam. Bel pertama belum bunyi. Hari baru dimulai, dan di kolom komentar video penampakan angka views masih terus naik. Deni datang tujuh menit sebelum bel, nafas agak tersengal sebagaimana orang yang baru berhenti lari. "Bro," kata Deni sambil jatuhkan tas ke bangku, "gue baru liat komen dari akun analisis konten. Mereka bilang kita perlu balas. Buat video respons." "Kapan?", tanya Linggar. "Sekarang trending banget. Kalo nunggu lama, momentumnya kabur." Linggar mempertimbangkan. "Ntar, voice meet-nya kita bahas. Masih jam empat." "Oke. Tapi gue kasih tau dulu: gue nggak mau disuruh balik ke TPU itu malem-malem." Linggar hampir senyum. "Gue juga nggak mau." "Bagus." Deni duduk, membuka tasnya, melirik ke arah Wiwin yang sudah memalingkan muka ke jendela. "Win. Lo tau kita viral?" "Tau." "Komen dong di video kami." "Nggak ah." "Napa?" "Males." Deni melirik Linggar dengan tatapan yang artinya: lo lihat nggak. Linggar melirik balik dengan tatapan yang artinya: biarin. Deni mengangkat bahu dan mulai mengeluarkan buku. --- Jam istirahat pertama, Linggar tidak ke kantin. Dia duduk di bangku taman belakang yang setengahnya ternaungi pohon mangga tua, earphone masuk satu sisi, ponsel di pangkuan. Layar terbuka di kolom komentar video TPU. Views: 78.441. Naik hampir dua kali lipat dari semalam. Linggar scroll pelan. Ada komentar analisis panjang dari akun yang isinya biasanya bahas video horor daerah. Ada thread Twitter yang nge-quote video mereka dan sudah diretweet lebih dari dua ribu kali. Ada yang tagging akun komunitas urban legend Bandung. Ada juga yang nge-DM langsung ke akun mereka, minta behind the scenes, minta lokasi. Yang terakhir itu Linggar abaikan. Satu pesan DM dari akun media konten regional masuk jam enam pagi: Halo kak, kami dari Bandung Mistis ID, tertarik untuk collab konten investigasi TPU Kebon Jati. Apakah kakak-kakak ada waktu untuk— Linggar tutup DM. Belum waktunya. --- "Lo di sini." Linggar angkat kepala. Wiwin berdiri di ujung lorong batu, tangannya memegang botol minum miliknya sendiri, bukan yang dilempar kemarin, yang itu sudah gepeng di tempat sampah kelas. Ekspresinya seperti biasa: datar, sedikit nggak sabaran. "Dicari Deni," ucap Wiwin. "Dia nanya lo di mana." "Gue di sini," jawab Linggar. "Gue tau. Makanya gue ke sini." Wiwin duduk di ujung bangku yang sama, berjarak satu lengan. Tidak memandang Linggar, matanya ke arah lapang yang sepi. "Videonya udah hampir delapan puluh ribu," kata Linggar. "Iya." "Dari adik lo lagi?" "Dari grup angkatan." Linggar mengangguk. Hening sebentar. Wiwin membuka tutup botolnya, meneguk tanpa basa-basi. "Lo nggak penasaran sama objeknya?", tanya Linggar. "Nggak." Satu detik. "Penasaran dikit." Linggar hampir senyum tapi tidak jadi. "Detik 1:47. Rambut itu gerak." Wiwin tidak langsung bereaksi. Jarinya memutar tutup botol bolak-balik. "Lo udah pause di sana?" "Iya." "Terus?" "Gue tutup aplikasinya." Wiwin menoleh ke arah Linggar untuk pertama kalinya sejak duduk. Satu detik, dua detik, ekspresinya sulit dibaca, antara mau ketawa atau mau bilang sesuatu yang lebih serius. Tapi belum sempat apa-apa, ponsel Linggar bergetar. --- [ KAMERA VLOG - XLOG ] Deni: LING LO DI MANA Deni: gue cari dari tadi Linggar: belakang. taman mangga. Deni: OH SITU Deni: gue ke sana. ada yang harus lo liat Sintari: gue juga mau liat nih apaan Deni: ntar lo liat di voice meet aja Sin jam 4 Sintari: oke Sundari: ada apa Den Deni: ada DM dari akun konten regional. mereka mau collab Linggar: udah gue baca. ditunda dulu. Deni: HAH kenapa Linggar: momentum belum puncak. kasih mereka nunggu dua hari lagi. Deni: oke oke mastah Sintari: bener sih, biar tambah penasaran dulu Sundari: setuju [Deni bereaksi 👍 pada pesan Linggar] --- Wiwin berdiri terlebih dulu sebelum Linggar memasukkan ponsel ke saku. "Bel sebentar lagi," ucap Wiwin. Linggar mengangguk, ikut berdiri. Mereka jalan berdampingan menuju lorong dalam, jarak di antara mereka tetap satu lengan, tidak lebih dekat, tidak lebih jauh. Wiwin tidak bicara, Linggar juga tidak. Di tengah lorong, sekelompok anak kelas lain yang lewat tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka. "Eh, itu bukan yang bikin video TPU?", bisik salah satu, cukup keras untuk didengar. Yang satunya langsung buka ponsel, geser-geser, lalu mendongak ke arah Linggar. "Iya! Yang ada objeknya itu!" Linggar tidak berhenti berjalan. Wiwin juga tidak, tapi bahunya sedikit naik, gerakan kecil yang mungkin hanya Linggar yang perhatikan. Mereka lewat begitu saja. Sepuluh langkah setelahnya, Wiwin bicara tanpa menoleh. "Jadi sekarang lo udah dikenal juga di sini." "Keliatannya." "Nggak takut?" "Takut apanya?" Wiwin mengangkat bahu. "Jadi sasaran." Linggar tidak langsung menjawab. Di ujung lorong, bel masuk berbunyi panjang. "Udah dari dulu juga sasaran," ucap Linggar akhirnya, suaranya datar. "Bedanya sekarang ada yang nontonin." Wiwin tidak membalas. Mereka masuk kelas dari pintu yang sama. Deni sudah duduk di bangkunya, tangan sibuk menggeser layar ponsel dengan ekspresi yang jarang terlihat: serius, alis sedikit berkerut. Melihat Linggar dan Wiwin masuk, Deni hanya melirik sebentar sebelum kembali fokus ke ponsel. Wiwin langsung menuju bangkunya sendiri, duduk tanpa basa-basi. Kali ini dia tidak memasang earphone, mengetuk meja pelan, seperti menunggu sesuatu. "Dia nanyain nggak, benjol di pale lo, Ling?" "Nggak." ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD