Part 2

1427 Words
Pekerjaannya hari ini telah usai dan Dini tengah bersiap untuk pulang. Namun, di perjalanan menuju lift, Dewi menarik tangannya dan membuat Dini terkejut. "Dewi, ngagetin aja!" sembur Dini sambil menepuk pelan lengan teman kantornya tersebut. Dewi hanya memperlihatkan cengiran khasnya tanpa rasa bersalah. "Jadi gimana nge-date sama Pak Hendery, lancar?" Dini langsung mematung di tempat ketika mendengar kata Hendery disebut. Bayangan lelaki itu menyatakan perasaan dan hendak melamarnya masih terngiang-ngiang di kepala hingga membuatnya pusing. "Cuma makan siang biasa antara atasan dan sekertarisnya, kamu gak usah sebar gosip yang aneh-aneh, deh, Wi." Dini mencubit lengan temannya tersebut. Sang korban menjerit tertahan dan langsung mengelus lengannya sambil mengerucutkan bibir. "Jahat kamu! Masa aku dicubit," keluhnya. "Habisnya kamu kalau ngomong suka ngawur, kalau sampai ada yang denger kan gak enak sama Pak Hendery nantinya." "Iya, maaf." Akhirnya Dewi mengalah. Dini hanya tersenyum memaklumi tingkah temannya tersebut, lalu keduanya berjalan bersama menuju lift dan masuk. Di dalam lift, Dini hanya diam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, Dewi yang melihatnya sungguh penasaran. Apalagi teman kantornya itu sedikit murung setelah kembali dari makan siang bersama sang atasan. Apa ia habis dimarahi atau terjadi sesuatu antara Dini dengan Pak Hendery. Dewi hanya bisa menerka-nerka tanpa berani menanyakannya pada Dini. Ia sudah tahu tabiat gadis itu, selalu memendam apa pun sendirian dan tidak ingin berbagi. Ia selalu bilang jika tempatnya untuk berbagi keluh-kesah hanyalah pada Tuhan. Hanya saja menurut Dewi itu malah akan membebani Dini. Tidak terasa lift telah berhenti di lantai satu, tetapi Dini masih asik dengan dunianya sendiri. "Aku duluan ya, Din." Ucapan Dewi mengejutkan Dini yang masih termenung, ia tidak menyadari jika dirinya sudah sampai dan pintu lift telah terbuka. "Ah, iya. Hati-hati di jalan." Dini melambaikan tangan pada Dewi dan keluar dari lift. "Karena pembicaraan tadi, aku jadi melamun terus. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung, tunjukkan kuasa-Mu ya Allah," lirihnya. Ia gelisah sekarang, apalagi ketika perjalanan menuju kantor seusai makan siang tadi Hendery mengatakan jika minggu depan ia akan dibawa untuk bertemu orang tua sang atasan. Padahal Hendery sendiri yang berkata akan menunggu jawabannya satu bulan, tetapi bertemu kedua orang tua atasannya. Ah, rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia. Ia hanya tidak ingin mengecewakan Hendery dan keluarganya jika jawabannya nanti tidak sesuai dengan harapan mereka. Ia juga tidak ingin melihat wajah sedih atasannya ketika penolakan lah yang akan ia terima suatu saat. Karena jujur saja, memang kata itu yang paling mungkin Dini ucapkan sebagai jawaban. Dini takut, bimbang, dan gelisah. Ia berhenti sejenak, menutup kedua matanya dan menarik napas panjang. Setelahnya ia memohon kepada Allah, mencoba menenangkan hatinya dan kembali berjalan pulang. Mengenai masalah kedua orang tua Hendery, Dini sudah mengenal ayah Hendery karena mereka beberapa kali bertemu di acara formal atau ketika rapat karena perusahaan Hendery dan ayahnya saling bekerja sama. Yang ia gugupkan adalah bertemu sosok perempuan yang telah melahirkan Hendery. Ia takut jika pada pertemuan pertama, dirinya akan membuat kesalahan dan menimbulkan kesan buruk. Sejujurnya itu yang ia inginkan, hanya saja apakah ia masih bisa bertatap muka dengan sang atasan jika hal itu benar-benar terjadi? Memikirkan hal itu membuat kepalanya semakin berdenyut. "Sebaiknya aku segera pulang sebelum kepalaku benar-benar meledak karena mikirin hal kayak gini," ocehnya pada diri sendiri. Sesampainya di rumah. Diri langsung melempar tubuhnya ke atas sofa apartemen dengan posisi tengkurap. Wajahnya ia tutup dengan bantal lalu teriakan yang teredam bantal pun terdengar. Dini langsung mendudukkan diri setelah sedikit lega karena berteriak tadi. Tiba-tiba ingatannya jatuh pada kenangan masa lalunya bersama Dika, sang kakak angkat sekaligus pria yang ia cintai diam-diam. Kenangan ketika dirinya masih duduk di bangku SMA, saat itu Dika baru saja lulus dan akan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia harus pergi ke luar kota karena universitas yang ia pilih memang berada di sana. Saat ini Dini menangis, ia takut ditinggalkan oleh sang kakak. Itulah pikiran orang tuanya dulu saat melihat putrinya menangis. Sebelum kepergian Dika ke kota lain. Dini selalu menempel pada kakaknya dan Dika pun tidak keberatan akan hal itu. Keduanya melakukan berbagai hal dan sangat lengket. Dini selalu mengekor ke mana pun Dika pergi hingga membuat sang kakak terkadang menjadi risih. Saat itu lah Dini sadar, bahwa ketakutan yang ia alami saat itu adalah karena ia memang benar telah menyukai Dika, bukan sebagai kakak melainkan sebagai seorang lelaki. Pertemuan pertama mereka di rumah sakit pasca ibu kandungnya meninggal sampai akhirnya mereka tumbuh bersama di rumah yang sama membuat perasaan kagum Dini berubah menjadi cinta. Cinta diam-diam yang selalu Dini doakan akan menjadi kisah indah seperti Ali dan Fatimah putri Rasulullah. Cinta yang selalu ia idam-idamkan hingga membuatnya terkadang melakukan zina pikiran karena otaknya tidak bisa terlepas dari bayang-bayang wajah tampan Dika. Cinta pertama Dini. "Astagfirullahaladzim," lirih Dini setelah ia menyadari tengah memikirkan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. "Aku bisa beneran stres kalo kayak gini!" Ia memukul kecil kepalanya yang masih tertutup kerudung. Akhirnya ia bangkit dan memutuskan untuk mandi agar tubuhnya segar. Ia berharap dengan mandi akan membuat otaknya menjadi dingin juga. Setelah belasan menit ia selesai mandi, Dini berjalan ke dapur. Perutnya lapar dan harus segera diisi, karena itu ia ingin memasak untuk makan malam. Dini memang memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri ketika kuliah dahulu. Alasannya adalah karena ia tidak ingin melihat wajah Dika setelah lelaki itu memperkenalkan Amelia sebagai kekasihnya beberapa tahun yang lalu. Dika terkadang menceritakan keluhan hubungannya dengan Amelia yang bisa dibilang sering putus nyambung. Hal itu membuat Dini tak nyaman dan sedikit menyakiti hatinya. Dika tidak akan pernah menyadari hal itu karena yang ada di matanya hanyalah Amelia sang pujaan hati. Baru saja ia hendak menyalakan kompor untuk memanaskan minyak, pintunya diketuk dari luar. Dini bergegas keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang dan mengabaikan rasa laparnya. Dari lubang kecil di pintu, ia tahu siapa tau yang datang. "Kak Dika?" lirihnya, ia sedikit terkejut karena lelaki itu datang ke apartemennya. Dini segera membuka pintu dan mempersilakan sang kakak untuk masuk. "Kakak ngapain ke sini?" tanya nya tanpa basa-basi. Dika menghiraukan adiknya dan langsung duduk di sofa setelah meletakkan tas kerjanya dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Dini berdecak sebal karena pengabaian sang kakak. Ia kembali ke dapur untuk membuatkan minuman. Dilihat dari setelan yang dipakai Dika, gadis itu bisa langsung tahu kalau Dika baru pulang dari kantor dan langsung kemari. Hanya saja, yang ada di pikirannya saat ini adalah untuk apa lelaki itu datang ke rumahnya sekarang? "Kak, ngapain ke sini? Disuruh Mama?" Dini ikut duduk di sofa samping setelah meletakkan minuman. Dika masih mengabaikannya dan langsung meminum teh buatan Dini. Ia melirik sang adik yang saat ini terlihat sedikit lucu karena wajah sebalnya. Dika meletakkan gelas dan menatap Dini cukup lama hingga membuat si adik salah tingkah. "Aku mau ngajak kamu keluar habis ini, kamu mandi dulu, terus dandan yang cantik." Akhirnya Dika bersuara setelah diam sekian lama. Dini mengerutkan dahi. "Mau ke mana malam-malam begini? Lagian aku mau masak, belum makan malam." "Gak usah banyak protes, nanti makan malam bisa di luar sama aku. Kamu turutin aja kata Kakak. Oh iya, pinjem kamar mandi sebelah juga. Aku juga mau mandi." Dini bahkan belum mempersilakan kakaknya untuk menggunakan kamar mandi di kamar sebelah, tetapi lelaki itu dengan seenaknya bangkit dan meninggalkan Dini yang masih duduk di sofa. Dini hanya menatap punggung sang kakak yang perlahan mulai menghilang di balik pintu dengan hati yang bertanya-tanya. Namun, akhirnya ia tetap menuruti perkataan Dika. Bukankah ini kesempatan yang bagus untuknya? Sudah berapa lama ia tidak pergi berdua dengan Dika? Ia juga sedikit merindukan sang kakak yang hanya bisa ia temui dua minggu sekali ketika berada di rumah sang ibunda, karena setiap dua minggu sekali Dini dan Dika akan menginap di rumah Miranda, sang ibu saat weekend. Setelah selesai mandi dan berdandan seadanya, Dini keluar dari kamar. Dika telah menunggunya di sofa. "Makin cantik aja adeknya Kak Dika. Sayang masih jomblo." Dika tertawa ketika mengucapkannya. Entah itu sebuah pujian atau sarkas dari Dika. Namun, pipi Dini bersemu mendengarnya. Bodoh memang, meski baginya agak menjengkelkan, tetapi jika mendengarnya langsung dari mulut Dika, maka bagi Dini hal itu adalah sebuah pujian. "Sebenarnya kita mau ke mana, Kak? Aku gak akan ikut kalau Kakak masih main rahasia kek gini." Dika mendekat ke arah Dini lalu tersenyum lebar, membuat debaran jantung Dini semakin kencang melihatnya. "Ya Allah kuatkan hamba," batin Dini. "Kita mau ke toko emas buat beli cincin." Jantung Dini seolah berhenti berdetak. "Cincin? Untuk siapa? Untuk Mama? Untuk aku?" tebak Dini dalam hati. Keduanya keluar dari apartemen dan menuju basement. Masuk ke mobil Dika dan pergi ke tempat yang akan dituju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD