30. Dua Sosok Yang Berbeda

1272 Words
Kemudian Lisa berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. Tak apa-apa, dia tak melakukan sesuatu yang salah. Bohong atau tidak, tak masalah baginya. "Su-sungguh?" Lisa menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon beringin besar yang ada di lapangan parkir sekolah. Dia mengikuti Rio yang sebelumnya mengatakan akan pulang dengan naik sepeda motor. Rio bukanlah pemuda yang dipenuhi romantisme, tapi dia senang melihat perhatian Lisa yang tertuju padanya ketika keduanya sedang terlibat percakapan yang rasanya begitu menyenangkan. "Ya, aku juga senang dengan organisasi yang tak bisa dikatakan besar ini. Meskipun tak populer, tapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya dibandingkan organisasi sekolah yang lain." "Itu bagus, berarti Rio-san memiliki selera yang melebihi orang banyak." Lisa tersenyum, kedua matanya seperti mengikuti lengkungan di bibirnya, terlihat seperti bulan sabit. "Yah, selain itu, apa kau tahu alasanku tetap bertahan di organisasi ini, Lisa?" Sang gadis menggeleng, tapi dia ingin tahu kisahnya. "Itu karena aku ingin menjadi ahli tanaman. Kau tentu tahu rumor mengenai diriku yang hampir meledakkan laboratorium sekolah kita, kan? Saat itu aku sedang membuat eksperimen untuk membuat tunas cepat tumbuh, tapi gagal dan malah merugikanku." Rio terkekeh saat menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dulu. Lisa tertawa kecil menanggapinya. "Lalu, apa selanjutnya?" "Yah, setelah itu aku tak lagi diperbolehkan mendekati laboratorium yang bahkan masih belum selesai direnovasi itu." Kerusakan yang hampir dibuat oleh Rio menjadikan sekolah harus memperbarui keamanan di sana. Mereka memasang alarm kebakaran otomatis dan juga memasang banyak hydrant di beberapa sudut. "T-tunggu sebentar. Jadi kau bereksperimen tanpa melihat dulu kondisi laboratorium kita? Untung saja tak ada ledakan atau kebakaran di sana." Lisa menatap horor pemuda yang sedang tertawa menanggapi pertanyaannya itu. "Hahaha, tentu saja! Aku tak melihat keadaan saat itu. Lagipula aku melakukannya sendiri, karena merasa itu bukan sesuatu yang membahayakan. Tapi ternyata malah membuatku di-blacklist dari tempat yang aku sukai." Lisa tertawa, ternyata rumor itu benar, dan setelah mendengarnya langsung, Lisa jadi merasa Rio adalah seorang pemuda baik yang hanya menyukai tanaman. Keduanya lalu bersiap untuk pulang bersama, dengan Lisa yang akan naik ke boncengan sepeda motor matic milik Rio. Namun secara tiba-tiba ada teriakan nyaring yang mengejutkan mereka. "RIOOO!" teriak seseorang sambil berlari ke arah sang pemilik nama yang dipanggil dan Lisa yang tak jadi naik ke boncengan belakang. "Katanya kau mau membersihkan gudang dan aula! Kau lupa dengan hukumanmu, ya?!" "Ck, kakak kelas OSIS yang menyebalkan itu." "Siapa dia?" tanya Lisa sambil berdiri di samping Rio yang masih berada di atas motornya. "Azmi, salah satu seksi keamanan di OSIS kita. Dia itu gila kebersihan, kau tahu? Tadi pagi aku 'kan terlambat, dan yang menangkapku waktu itu dia," jelas Rio sambil bersiap menarik gas. "Ayo, cepat naik. Nanti dia keburu menyusul ke sini." Lisa memandang ragu, dia mundur perlahan. "Aku tak bisa, kau sudah ada janji dengan anggota OSIS itu," tolak Lisa dengan halus. "Eng, baiklah, maaf ya, ternyata aku sudah buat janji dengan orang ini." Lisa tersenyum kecil. "Ya, tak apa-apa. Aku akan pulang sendiri saja." "Okay, hati-hati. Kapan-kapan kita pulang bersama yah," pamit Rio sambil turun dari motor. Lisa mengangguk singkat dan pemuda itu melambaikan tangan ke arahnya. Lambaian tangan Rio dibalas gumaman pelan oleh Lisa yang ikut memberikan salam perpisahan. Rio dan temannya sudah beranjak pergi meninggalkan Lisa sendirian di parkiran, seraya menatap punggung tegap mereka, lantas menyisakan keheningan bagi sang gadis. Lisa lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya, dia baru sadar bahwa hari sudah semakin sore. Gadis bersurai cokelat itu bergegas merapikan penampilannya, lalu berjalan kembali ke gedung dan mampir sebentar ke ruang organisasi untuk mencari barang yang tak sengaja ia tinggalkan di sana. Harus cepat-cepat pulang ke rumah, batinnya gelisah. Ini sudah pukul lima lebih beberapa belas menit, dan seperti perkataan Sarah sebelumnya, tak baik bagi seorang gadis sepertinya pulang terlalu sore seperti ini. Apalagi tak ada seorang pun yang bisa menemaninya pulang. Walau tadi sempat ditawari ajakan pulang oleh Rio, tapi dia tetap tak bisa karena janji pemuda itu dengan temannya. Langkah kaki Lisa baru saja mencapai lapangan sekolah ketika matanya tak sengaja menangkap dua sosok manusia yang sedang naik sepeda bersama. Hal semacam ini sudah terlalu sering dilihat olehnya, bahkan sebelum hubungannya dengan Dino benar-benar berakhir. Di atas sepeda itu, ada Dino dan Rosa—tentu saja. Ikatan cinta yang rumit akhirnya selesai. Jadi, sah-sah saja bagi kedua pemeran utama itu menjalani kisah cinta yang bahagia. Namun, untuk hal kecil seperti kisah cinta masa SMA, bahkan Lisa yang mencoba sekuat tenaga untuk melupakan saja masih bisa merasakan sesak di d**a yang menyerangnya secara tiba-tiba. Padahal dia tak punya penyakit apa pun di bagian tubuhnya yang itu. Lisa tersenyum sedih saat menatap kemesraan kedua orang itu, dirinya masih saja terluka ketika paham bahwa dia tak bisa berhenti mencintai Dino sedetik pun, tapi mencintai seseorang bukan berarti bisa memilikinya sepenuhnya, 'kan? Terus menerus meratap juga tak bisa mengubah apa pun, terlebih ini adalah masalah perasaan. Jantungnya yang kering dan mati harus kembali hidup dan berdetak seperti dulu lagi, sebagaimana dulu ketika dia masih belum berhubungan dengan Dino. Kembali ke waktu saat dia hanya menjadi dirinya sendiri. Lisa yang sedang berjalan sendirian berhenti melangkah, dari arah belakang terdengar derap langkah yang seakan mengikutinya. Sang gadis menoleh, dan mendapati Gavin si adik kelas sedang ada di belakangnya, tengah berdiri sambil tersenyum miring dengan ekspresi yang siap mengejeknya. "Lihat, siapa ini? Kau masih menyukai kapten, 'kan? Cepat kejar sebelum terlambat, dan berhentilah bersikap menderita seperti ini." Lisa mengernyitkan kening, dan tak membalas. Pemuda yang lebih muda setahun darinya ini pasti hanya ingin menutupi perasaannya yang sakit setelah apa yang dialaminya di lorong seolah tadi. Kasihan sekali, pastilah Gavin sama menderitanya seperti dia waktu itu. Bahkan hari ini pun, Lisa masih merasa bahwa dia terlihat menyedihkan. Lisa baru saja akan kembali meneruskan langkahnya dan mengabaikan Gavin seperti biasa, saat tak sengaja matanya mendapati botol minum yang tadi dia tinggalkan untuk sang pemuda sedang digenggamnya dengan hanya menyisakan setengah botol saja. Lisa mengulum senyum, yang kemudian berubah menjadi tawa kecil. Sebuah tawa yang belum pernah dia perlihatkan kepada siapa pun selain kepada Dino, beberapa tahun yang dulu. Gavin tercengang sedetik, lalu secepat kilat berubah ketus lagi. "Apa? Kau mau mengejekku?" tanyanya dengan nada menantang. Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya, masih sambil terkikik pelan. Gavin pun mendekat, dan memicingkan matanya, berusaha terlihat tegas di mata sang gadis. "Apa maksud dari tawa menyebalkan itu?" tanyanya sekali lagi. Lisa yang telah berhenti tertawa, masih tetap menggelangkan kepalanya. "Huh!" Gavin mendengkus kesal. "Aku sedang bertanya, kenapa kau malah menertawakanku?!" "Maaf," bisik sang gadis dengan suara pelan. "Tapi aku hanya ... penasaran." "Penasaran kenapa?" sahut Gavin seraya bersungut-sungut. "Apa kau sudah baikan setelah minum sedikit air, Gavin-san?" tanya sang gadis, masih dengan tawa kecil yang mengiringi. Lisa tak tahu seperti apa ekspresi Gavin saat mendengarnya, karena dia langsung balik badan dan melanjutkan tujuannya pulang ke rumah. Gavin yang baru sadar dengan situasi segera membuang botol air minum yang tengah ia genggam. "A-aku hanya mencoba untuk tak membuatnya sia-sia, bodoh!" Lisa berpura-pura tak mendengar penjelasan Gavin, ia mengangkat satu tangannya, melambai seakan tak peduli dan terus melangkah ke depan, namun diam-diam gadis itu tertawa kecil. Sedangkan Gavin yang tak terima terus menyampaikan berbagai macam alasan seraya berteriak dari arah belakang, dan Lisa pun tak sanggup untuk tidak tertawa mendengarnya. Di antara Lisa dan Gavin yang terlihat akrab, bahkan tak ada yang menyadari jika ada dua orang yang sedang menaiki sepeda berhenti tak jauh dari gerbang sekolah, berdiam diri di sana meski tak ada apa-apa, terpatri tanpa alasan walau hanya seperkian detik, sembari menatap kedua orang yang sedang berjalan bersama. * Kosa Kata yang muncul dan akan muncul * Wakatta*: Berarti "Aku mengerti" dalam bahasa Jepang. Senpai* : Kakak kelas, senior, kakak tingkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD