Re-Na memulai harinya di pagi hari. Terbiasa sibuk merupakan hal biasa. Sama seperti hari ini. Ia sedang menunggu jemputan dari manajernya. Di dalam hatinya ingin tetap melakoni segala rutinitas ini. Tapi, ada sebuah keinginan untuk membangun sebuah keluarga bahagia. Ia berharap mendapat sekali saja kesempatan itu. Memikirkan sebuah keluarga yang akan dibangun bersama Chan-Hoo membuat perasaannya terasa bahagia. Apalagi kalau nanti ada seorang anak yang menemani hari-harinya. Semua memang ada dalam angan-angannya. Dan, menunggu diwujudkan supaya segera terlaksana. Sayangnya harus atas persetujuan perusahaan. Masih sulit mendapatkan ijin menikah. Karena Re-Na berada di puncak karirnya. Re-Na duduk di sofa ruang santai. Membuka album foto dan melihat banyak foto yang sudah diambilnya bers

