Re-Na terbangun dengan kepala yang teramat sakit. Sudah dua hari ia tidak mengikuti acara apa pun. Baik itu acara penghargaan drama atau jadwal syuting yang tertunda menjadi besok sore. Mulanya ingin memaksakan diri. Justru berakhir pingsan di tempat yang tidak tepat. Untunglah ada manajernya. Jadi, hal ini tidak tersebar pada awak media. Menjadi aktris ternyata cukup melelahkan. Bagaimana selalu kekurangan tidur dan melewatkan makan. Walaupun begitu, ia suka melakoni segala kesibukan ini. Membuatnya sedikit melupakan permasalahan Chan-Hoo. Berita sudah dimuat pada media cetak kalau seorang pria misterius menemui di lokasi syuting. Seperti angin yang berhembus kencang. Hal ini juga terdengar oleh pihak agensi. Selain karena kondisi yang kurang baik, Re-Na diijinkan untuk libur bekerja selama dua hari. Untuk meredam gosip yang terlanjur tersebar.
Untunglah hanya dua hari. Karena sangat membosankan seandainya ia terus-terusan berada di apartemen tanpa ada yang dikerjakan. Ya, walaupun sesekali manajernya membawakan beberapa pekerjaan baru. Seperti pemotretan majalah dan iklan merk kosmetik ternama. Re-Na merasa nantinya kembali bekerja sampai pagi.
Ting Tong.
Ia membuka kelopak mata dengan malas. Berjalan keluar kamar. Melewati dapur dan ruang tamu. Kemudian berjalan menuju pintu masuk. Melihat pada layar monitor di samping pintu, memastikan siapa yang datang terlalu pagi untuk mengganggu. Lalu, mendecak setelah tahu siapa yang datang. Sepertinya pekerjaan milik Re-Na benar-benar banyak karena libur selama dua hari. Setelah itu, ia membukakan pintu bagi tamu yang terlalu pagi mengganggu hari tenangnya.
“Masuklah, Jun Ha-Oppa.”
“Terima kasih.”
Sosok tinggi berambut hitam keriting dan bermata sipit itu menunjukkan senyum ramah. Lalu, mengganti sepatunya dengan sandal yang disediakan. Berjalan menuju ruang tamu. Tanpa bertanya pun, pasti manajernya sudah tahu kalau Re-Na baru bangun tidur. Dilihat dari piyama dan raut wajah pucatnya.
“Kau belum mandi meskipun sudah jam sepuluh pagi?” tanya Jun-Ha terheran. Padahal di hari biasa Re-Na adalah sosok yang rajin. Karena persiapan syuting dimulai jam lima pagi. Sehingga ia harus bangun satu jam sebelumnya.
“Jangan cerewet. Untuk hari ini saja. Aku sedang menikmati masa liburan,” jawab Re-Na sembari memejamkan mata. Rasanya ia benar-benar butuh istirahat sebelum kembali ke rutinitas.
“Kau belum menonton berita terbaru?”
Re-Na masih cuek berbaring di sofa, memejamkan mata, dan memainkan boneka beruang kutub berwarna putih yang sekarang dipeluk. “Tidak. Televisi terlalu membosankan.”
Manajernya hanya bisa menggeleng terheran. Padahal susah payah datang di pagi hari. Justru Re-Na belum mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dalam waktu dua hari menghilang dari layar kaca.
“Hei, bangunlah dulu. Ada yang ingin aku sampaikan.”
“Oppa bisa mengatakannya sekarang. Aku tidak benar-benar tertidur.”
Dengan langkah perlahan, Jun-Ha duduk di hadapannya. Dari awal mulanya mengintip hingga membuka sebelah mata. Jun Ha menyodorkan sebuah artikel berita pada internet. “Buka matamu yang benar lalu baca ini.”
Akhirnya Re-Na menurut dan membuka kelopak mata setelah mengambil ponsel yang disodorkan oleh manajernya. Awalnya ia membaca dengan raut wajah tenang. Setelah puluhan detik berlalu, matanya menatap kaget dan bangkit duduk. Sedangkan Jun Ha sudah kembali pada sofa empuk berwarna krem yang dipilihkan dulu, waktu ia baru saja debut sebagai aktris. Karena seluruh barang-barang di sini dari perusahaan.
Ia membaca ulang berita yang memuat tentang diriku. Lalu, menatap wajah manajernya yang mengangkat bahu. Lalu, bergumam kecil, bangkit berdiri, mengembalikan ponsel, dan berjalan menuju kamar. Beberapa kali terdengar keributan dari dalam kamar. Hingga Re-Na kembali hadir membawa ponselnya.
“Sejak kapan berita ini dimuat pada media, Jun Ha-Oppa?”
“Sudah sejak kemarin. Namun, waktu hendak menghubungi, ponselmu mati. Jadi, aku memutuskan untuk datang keesokan harinya. Bagaimana? Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Pada artikel tertulis kalau pria masa lalunya melamar untuk menikah. Tentu saja berita itu sama sekali tidak benar. Beberapa hari lalu Chan-Hoo datang hanya untuk mengucapkan selamat. Bukannya mengajak Re-Na untuk menikah.
“Aku tidak tahu. Apakah agensi sudah mengetahuinya?”
“Ya, Direktur memintaku menggelar konferensi pers setelah kau kembali bekerja.”
Jujur, Re-Na merasa bingung sekarang. Memang benar kalau dulu ia sangat menyukai Chan-Hoo. Berharap menjadi pendamping hidup pria itu. Tapi, sekarang jauh berbeda. Selain perasaan yang terasa berubah dari beberapa tahun silam. Ia tidak yakin bisa memulai semuanya dari awal.
“Kurasa aku harus menemuinya secara langsung.”
“Oke. Aku memberimu kesempatan. Tolong jangan membuat sebuah skandal baru.”
Sungguh menyebalkan. Bagaimana mungkin Re-Na menyebabkan skandal. Padahal kemarin Chan-Hoo yang tiba-tiba datang. Ia tidak yakin siapa yang menyebarkan berita bohong itu. Dalam hatu berharap bukan pria itu pelaku yang menyebarkan rumor. Menurutnya hanya seorang pengecut melakukan hal semacam itu. Dan, ia tahu Chan-Hoo bukanlah salah satunya.
.+.+.+.+.+.
Re-Na menunggu di ruang tamu yang luasnya mungkin cukup memuat lima belas orang. Entah sejak kapan perusahaan ini semakin berkembang dan memiliki gedung bagus berlantai empat di daerah Gangnam. Cukup sukses bagi perusahaan yang baru merintis selama tiga tahun. Selain sangat luas, ruang tunggunya memiliki banyak lukisan abstrak pada dinding, vas kaca transparan besar berisi bunga kasablanka, dan jenis bunga lain dengan berbagai warna yang membuatnya terkagum. Selain aroma bunga terasa menenangkan. Di hadapannya terdapat tiga sofa berwarna cokelat tua sama seperti yang ditempati.
Tadi sekretaris menyuruh untuk menunggu sebentar. Ia tidak tahu apakah pria itu ada di dalam ruang kerja. Karena kesal membaca berita yang kemarin terbit, membuatnya datang terburu-buru ke tempat ini. Setelah mendengar berita langsung dari manajernya.
“Sudah lama?”
Re-Na menoleh mendengar suara khas itu. Chan-Hoo mengenakan blazer berwarna hitam dan dasi berwarna biru tua. Ia sampai terpana dibuatnya. Sosok yang pernah menghuni hati terdalamnya ternyata sudah dewasa.
“Baru saja,” jawab Re-Na tersenyum kaku.
Chan-Hoo duduk di sebelahnya. Dapat tercium aroma parfum yang dulu biasa dipakai sewaktu bersama Re-Na. Ia tidak menyangka kalau pria muda ini masih memilih aroma yang sama sebagai parfum sehari-hari. Aroma maskulin yang sangat dikenal. Ia tidak tahu alasan yang mendasarinya.
“Apa yang membawamu pagi-pagi datang kesini?”
“Aku mempunyai alasan. Jadi, jangan tersenyum begitu. Tentu saja bukan atas keinginanku untuk berkunjung.”
Herannya bukan cemberut. Chan-Hoo justru tersenyum semakin lebar. Kalau dulu mungkin saja ia akan ikut-ikutan tersenyum. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Re-Na bukan lagi wanita yang berharap menjadi orang terpenting. Meskipun hatinya tidak bisa berbohong memiliki perasaan itu. Kadang-kadang ada sebuah rasa sakit di dasar hati ketika merindukan Chan-Hoo. Dan, ia membenci perasaan tidak berdaya itu.
“Lalu, apa alasanmu?”
Entah karena benar-benar tidak tahu. Atau, Chan-Hoo berpura-pura? Yang pasti ia bingung dengan sikap yang ditunjukkan sekarang.
“Di setiap media sedang membicarakan kita. Parahnya lagi mereka mengatakan kalau kau datang untuk melamarku.”
Chan-Hoo tidak bereaksi. Hanya untuk membenarkan atau mengelak berita itu. Pria itu terlihat bimbang beberapa saat. Bahkan mengabaikannya dan mengotak-atik ponsel tanpa tujuan yang jelas.
“Jawaban seperti apa yang ingin didengar?” tanya Chan-Hoo menatap matanya lekat-lekat. Seakan Re-Na bisa pergi begitu saja dari sini.
“Aku membutuhkan jawaban jujur, Oppa.”
Bukannya menjawab. Chan-Hoo justru menengok ke belakang dan memanggil sekretaris. Wanita itu cukup cantik. Dagunya lancip, wajahnya sangat tirus, dengan tulang pipi yang kurang menonjol sewaktu tersenyum seperti sekarang. Bibir merah muda itu begitu tipis dan memiliki mata sipit.
“Kenalkan, ini adalah Re-Na. Wanita yang pernah kuceritakan padamu, Ha-Ni.”
Wanita itu melangkah ke tempatnya lalu membungkuk setengah badan dan tersenyum penuh. Seolah-olah Re-Na adalah sosok yang sudah lama saling mengenal. Karena merasa tidak sopan jika menampilkan raut wajah kurang bersahabat. Ia balas tersenyum. Tidak benar-benar tulus namun bisa dikatakan ramah.
“Hai, Eonni. Salam kenal,” ucap Ha-Ni mengulurkan tangan. Re-Na ikut menjabat tangan. Walaupun ingin menolak dan bersikap acuh. Tentu saja hal itu tidak dilakukan. Citranya sebagai aktris pendatang baru bisa di cap jelek. Sudah cukup skandal menyebalkan itu membuatnya kerepotan seperti sekarang.
“Oh, ya. Salam kenal.”
“Re-Na cantik, kan? Jauh lebih cantik dari foto yang kutunjukkan padamu?” Chan-Hoo kembali bertanya. Ia menautkan alis terheran. Sebenarnya sedekat apa hubungan mereka? Hingga bisa menceritakan hal pribadi. Contohnya saja, Re-Na.
Ia masih terdiam mengamati mereka berdua. Sampai suara Ha-Ni menyadarkannya dari lamunan.
“Tentu saja. Re Na-Eonni lebih cantik jika melihatnya secara langsung. Aku merasa beruntung dapat bertemu.”
“Terima kasih.”
Ia menjawab singkat. Bukannya terkesan sombong dan mengakui yang dikatakan oleh Ha-Ni. Rasanya aneh mendengar seseorang memujinya dengan raut wajah begitu tulus. Kebanyakan aktris senior membicarakan Re-Na. Entah karena sifat yang sangat pendiam atau sering dikatakan sombong. Telinganya sudah terbiasa mendengar itu di lokasi syuting. Tapi, wanita muda ini kurasa sedikit berbeda.
“Tolong siapkan teh.”
Sekarang Chan-Hoo terlihat serius memberikan tugas kepada Ha-Ni. Meskipun hanya sebuah tugas kecil yang dikerjakan oleh sekretaris. Tadi, ia sempat merasa cemburu melihat kedekatan mereka. Namun, sekarang sudah tidak terlalu memikirkannya lagi.
Tangan Chan-Hoo terulur meraih telapak tangannya. Mengusap dengan begitu lembut. Dan, memandang penuh kasih. Ia merindukan tatapan ini. Namun kenyataan tidak seindah bayangannya dulu. Semua sudah berubah. Bukan lagi seorang gadis lugu yang akan percaya bujukan manis. Merasa tindakan Chan-Hoo berlebihan. Ia melepaskan genggaman tangan pria yang sangat dikaguminya.
“Semua telah berubah, Oppa. Aku sudah mengatakannya berulang kali.”
“Maafkan aku. Mungkin terdengar lancang. Tapi, memang benar kalau aku menginginkanmu menjadi istriku.”
Re-Na menatap mata itu. Mencoba mencari kebohongan di sana. Berharap kalau Chan-Hoo tengah bercanda. Harusnya pria itu bersikap seperti biasa. Mengabaikannya bukan hal baru. Kenapa sekarang menyambut perasaannya? Ia tidak bisa seenaknya memutuskan kontrak dan kembali pada Chan-Hoo. Ini bukan cuma tentang dirinya. Melainkan melibatkan banyak pihak. Bukan hanya dari pihak agensi atau manajernya. Ia memikirkan perasaan penggemar kalau sampai berhenti menjadi aktris. Pikiran itu sempat terbesit sekilas. Karena tiba-tiba bayangan sewaktu trainee muncul. Bagaimana sulitnya melewati masa-masa itu.
“Aku sungguh tidak bisa.”
Tangan Chan-Hoo mencoba merengkuhnya namun segera ditepis. Sontak saja Re-Na bangkit berdiri karena menghindari Chan-Hoo memberikan kenyamanan sewaktu berada di dalam pelukan. Ia takut kembali goyah. Perlu waktu setahun lebih hingga mulai merelakan perasaannya. Tapi, entah mengapa Chan-Hoo kembali membawa penyesalan yang terlambat.
“Dengarkan aku, Re-Na.”
Ia mundur perlahan. Berjarak cukup jauh dari Chan-Hoo. Rasanya ia tidak ingin kembali mengingat perasaan itu. Bagaimana setiap harinya mengurung rasa sedih tak tertahankan di hati. Membuatnya berulang kali meneteskan air mata. Siapa pun akan menyerah jika perasaannya tidak disambut. Ia bahkan tidak yakin wanita lain mampu menunggu begitu lama.
“Oppa tahu hal paling naif yang pernah kulakukan? Aku berusaha mengumpulkan uang untuk bertemu denganmu. Tapi, kau malah mengabaikanku.”
Chan-Hoo menunduk menyesal kemudian menatap matanya. Mungkin berharap kalau Re-Na akan berubah pikiran. Untuk sekarang ia tetap berpegang teguh pada keputusan menjadi aktris. Tidak ada yang salah. Kecuali kemunculan pria masa lalu yang tiba-tiba dan membuat hatinya menanyakan keputusan yang telah diambil.
“Maafkan aku. Itulah yang ingin kuperbaiki. Dan, salah satu alasan mengapa aku menjelaskan kepada wartawan berniat untuk melamarmu.”
“Jujur. Aku sudah memafkanmu, Oppa. Tapi untuk dekat seperti dulu lagi, maaf aku tidak bisa. Apalagi untuk hubungan serius. Itu bukan hal yang mudah untuk diputuskan. Mengenai masalah skandal yang ditimbulkan. Aku akan mengatasinya.”
“Apa kau tidak ingat pertemuan pertama kita?”
Chan-Hoo bangkit berdiri. Kembali meraih lengannya. Namun, buru-buru ditepis. Kini mereka berhadapan. Tinggi badan Chan-Hoo begitu menjulang. Ia harus mendongak untuk menatap mata itu. Ia memang merasakan hal yang sama dari beberapa tahun lalu. Hanya saja semua sudah terlambat untuk mengulang semuanya.
“Aku mengingatnya. Bahkan detail kecil sekali pun. Hanya saja aku tidak ingat mempunyai perasaan sebesar itu padamu.”
Tanpa menoleh lagi, Re-Na berjalan menuju pintu keluar. Hatinya terasa menyesakkan. Semakin mempercepat langkah menuju lift, berada dua blok dari sini. Setelah beberapa detik berlalu, matanya terasa panas. Padahal sudah berusaha untuk menahannya. Ia memencet tombol sewaktu tiba di depan lift. Sebelum pintu itu terbuka. Air matanya terlanjur jatuh dan membasahi wajah. Rasanya hari ini menjadi bertambah buruk.