Malam hari Re-Na sedang kedatangan ayahnya di apartemen. Biasanya ia pulang larut malam. Namun, karena ayahnya menghubungi, ia jadi mengurangi jadwalnya supaya bisa pulang lebih awal. Sekarang mereka sedang duduk di sofa ruang santai. Membicarakan banyak hal. Salah satunya adalah perihal ibunya. Selama Re-Na hidup. Ia tidak pernah sekalipun melihat ayahnya yang begitu murung. Apalagi karena teringat almarhum ibunya. Semua dijalaninya dengan hati ikhlas. Hanya saja semua berubah. Karena memimpikan ibunya. Berakhir datang ke tempat ini. “Appa masih kepikiran?” “Ya, bahkan masih terbayang-bayang.” “Semuanya karena Appa belum juga mengikhlaskan Eomma. Cobalah merelakannya. Aku pun masih belum rela. Namun, berusaha untuk ikhlas.” “Kau benar. Tapi, sulit bagiku untuk melupakan senyum Eomma.

