"Kila sayang, jujur sama ibu ya." pinta ibu mertuaku, lembut, namun aku ragu untuk menceritakan yang sesungguhnya.
Harus dari mana aku bercerita tentang semua hal yang telah kusembunyikan selama ini.
"Kila, ayah sebenarnya tahu kalau kamu semalam sengaja nggak keluar kamar karena wajah kamu seperti ini. Coba kamu cerita sama ibu, dari pada ayah kamu turun tangan sendiri. Ibu takut, ayah Dira itu orangnya baik, tapi kalau sudah marah.." ucap ibu mertuaku, aku terdiam beberapa saat lalu menunduk malu.
"Dista bu, pacarnya mas Dira, kemarin nggak sengaja ketemu di toko buku." akuku, ibu mertuaku mengembuskan nafas panjang.
"Dia memang wanita tak tahu malu." ucap ibu mertuaku lantang, membuatku bengong menatapnya.
"Ayahnya Dira bahkan sudah mengancamnya dengan berbagai cara, namun wanita itu masih saja menggoda Dira." ucap ibu mertuaku, lagi, aku dibuat bengong oleh ucapannya.
Jadi selama ini ayah dan ibunya Dira berusaha keras memisahkan mereka, dan jalan terakhir yang mereka ambil adalah menikahkan Dira denganku.
"Ibu, bolehkah Kila tanya sesuatu yang sejak lama Kila pendam?" tanyaku memberanikan diri.
"Apa sayang?" ibu mertuaku mempersilakan aku bertanya,
"Kenapa ayah dan ibu memilihku?" tanyaku, ibu tersenyum menatapku.
"Kamu lupa, ayahnya Dira itu bosnya bapak kamu. Ayahnya Dira sudah sejak lama memperhatikan kamu. Ayah bilang kamu gadis baik-baik, pekerja keras dan tidak neko-neko." sahut ibu, sebenarnya aku tersanjung mendengar jawaban ibu barusan.
Namun aku masih belum memaafkan mereka karena ayah dan ibu mertuaku ini menyembunyikan fakta tentang hubungan Dira dan Dista dariku.
"Apa ada hal lain yang Kila nggak tahu, bu?" tanyaku lagi, mencoba menggali lebih dalam, dari pada harus sakit hati setelah perasaanku ke Dira semakin berkembang.
Ibu mertuaku diam, lalu ia menatap anak laki-lakinya yang sedang main catur di dalam rumah, tampak jelas karena rumah ini sebagian besar terdiri dari dinding kaca.
"Sebenarnya..." ucap ibu mertuaku terbata, aku masih diam demi mendengarkan pengakuannya.
Aku mempersiapkan mentalku sebaik mungkin, apapun yang akan kudengar nanti.
"Dira dan Dista sudah menikah, jadi, mereka bukan pasangan kumpul kebo." ucap ibu mertuaku, kali ini aku bagaikan tersambar petir di siang bolong.
"Jadi maksud ibu, aku istri kedua mas Dira?" tanyaku dengan suara gemetar, apa sebenarnya yang telah mereka lakukan padaku dan keluargaku? Salah apa aku?
"Dira menikahi Dista secara siri, kemudian suatu saat Dista menikah dengan suaminya sekarang. Dira sangat tergila-gila pada wanita itu, itu sebabnya dia bertahan walau wanita itu tak akan mungkin meninggalkan suaminya." sahut ibu mertuaku.
Aku memukuli dadaku, rasanya sesak, sakit, ingin sekali kumenangis, namun aku tak mampu.
Ibu mertuaku meneteskan air matanya, pelan.
"Maafin ibu dan ayah Kila, kami hanya mementingkan Dira tanpa mempedulikan perasaan kamu. Maafkan kami.." ucap ibu mertuaku dengan kepala menunduk malu.
"Ayah kamu ingin sekali mengungkapkan kelakuan busuk wanita itu pada suaminya, namun dia tak mau Dira marah. Dira pernah marah waktu ayahnya menemui wanita itu agar berhenti mengganggu Dira. Dira pergi dari rumah selama berbulan-bulan, ayahnya langsung sakit." terang ibu mertuaku.
"Ibu, Kila pamit ke kamar dulu, Kila mau istirahat." ucapku ke ibu mertuaku, entah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing sekali.
Aku seperti tak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
"Maafin ibu ya sayang.." ucap ibu mertuaku yang masih menangis walau hanya pelan.
"Tolong bilang sama ayah kalau Kila alergi makanan." pintaku yang kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan ibu mertuaku sendiri di taman.
Aku masuk ke dalam rumah tanpa menatap suamiku dan ayah mertuaku itu.
Aku seperti orang bodoh di rumah ini, ternyata bukan hanya Dira yang kejam, ayah dan ibunya juga.
Mereka berbohong kepadaku dan kepada keluargaku, demi masa depan anaknya, namun tak peduli tentang perasaanku.
Aku langsung masuk kamar, pikiranku gusar, sulit menerima kenyataan yang menyakitkan ini.
"Apa? Mereka menikah? Jadi di sini aku hanya pelakor? Argh!" teriakku sambil mengusap wajahku dengan kedua tanganku, kasar.
Aku menelepon Soni, hanya dia yang ada di pikiranku saat ini. Siapa lagi, Soni bahkan sudah tahu kondisiku yang menyedihkan ini. Aku sudah tak kenal kata malu di hadapan Soni.
"Bisa jemput aku?" ucapku tanpa basa-basi ketika Soni sudah mengangkat teleponku.
"Sekarang mbak?" tanyanya dari seberang sana,
"Iya, kalau bisa 5 menit kamu sampai di sini. Kunci mobil, kamu punya nggak?" tanyaku.
"Enggak mbak, kemarin Pak Dira memecatku. Tapi semala.." ucap Soni terpotong, aku segera menyela.
"Ya udah buruan kesini, cepet. 5 menit!!!" teriakku yang lalu memutus telepon kami.
Aku segera mencari kunci mobilku, mobil yang Dira belikan untukku.
Aku mencari di meja, kasur dan bahkan laci-laci, namun tak kunjung kutemukan.
Aku mencoba merogoh saku jas Dira yang kemarin ia kenakan. Aku malah menemukan foto Dista dan Dira yang tampak romantis di saku jasnya tersebut, semakin membuatku kesal.
Aku menyobek foto tersebut lalu melemparnya, sakit, marah, kecewa, semuanya menjadi satu.
Setelah itu kurogoh lagi saku lain di jas Dira, akhirnya kutemukan kunci mobil.
"Ini pasti punyaku, kunci mobilnya sendiri pasti dibawa sopirnya." ucapku sendiri.
Segera setelah menemukan kunci mobilku, aku mengambil tasku dan pergi begitu saja.
Aku tertawa dalam hati ketika melihat ayah mertuaku dan Dira tak lagi bermain catur.
"Ayah mana mbok?" tanyaku pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan meja ruang tamu.
"Barusan masuk kamar, den Dira menyuruh tuan untuk tidur siang." sahutnya,
"Ibu juga?" tanyaku, "Iya non." jawabnya singkat.
Aku segera keluar rumah, dan berlari menuju garasi. Tepat ketika aku sampai di garasi, Soni datang dengan menggunakan jasa ojek online.
"Cepet, ini bukan kuncinya?" tanyaku ke Soni, Soni menyambar kunci di tanganku, lalu mengangguk.
Akhirnya aku berhasil keluar dari rumah mertuaku ini, dengan Soni.
"Mau kemana mbak?" tanyanya ketika kami di dalam mobil.
"Yang jauh, sejauh mungkin." jawabku apa adanya.
"Mbak kabur dari rumah suami mbak?" tanya Soni,
"Maafin aku karena aku ngelibatin kamu. Maafin aku gara-gara aku, kamu kena tampar mas Dira." ucapku sambil menatap Soni, sendu.
"Kalau mbak mau cerai, lakuin aja mbak. Tapi jangan seperti ini, Pak Dira mungkin akan..." ucap Soni yang lagi-lagi kusela,
"Kalau kamu nggak mau, silakan berhenti di sini. Aku akan naik taksi aja." ucapku yang sudah dikuasai api amarah.
"Baiklah, aku temenin, kita mau kemana sekarang? Tentuin tujuan." ucap Soni lantang,
"Entahlah, yang penting aku nggak pulang malam ini." jawabku malas.
Soni akhirnya membawaku ke daerah perkebunan yang sangat jauh dari kota.
"Di sini ada banyak penginapan, kita bisa menginap di sini malam ini. Tapi besok kita pulang ya mbak." rayu Soni, aku hanya diam dan tak menjawabnya.
Aku memejamkan mata sambil mengambil nafas dalam, segar sekali rasanya udara di daerah ini.
Saat ini Soni menepikan mobil di jalan sempit yang dikelilingi kebun teh.
"Mbak, Pak Dira dari tadi telepon. Aku nggak tahu harus gimana." ucap Soni, aku kemudian menolehnya.
"Biarin aja." ucapku malas.
"Tapi mbak, kita bisa ngasih tahu Pak Dira kalau mbak nggak kenapa-kenapa. Setidaknya Pak Dira nggak akan cemas." ucap Soni lagi.
"Cemas kenapa? Aku bukan siapa-siapa baginya, aku hanya lintah darat baginya. Yang dia cintai wanita kemarin, jadi nggak ada alasan buatnya untuk memikirkanku." sahutku, Soni hanya diam mendengarkanku.
"Mbak, Pak Dira ngirim pesan." ucap Soni, ia menyodorkan ponselnya padaku, aku langsung mengambilnya.
"Angkat, aku akan memecat Pak Ali juga kalau kamu berani mengabaikanku!" ancam Dira, aku menyeringai.
Tak lama kemudian telepon Dira masuk, aku segera mengangkatnya.
"Bangs*t!!! Kemana kamu bawa istriku pergi?!!" teriak Dira, memekikkan telingaku.
"Istrimu yang mana?" jawabku lirih,
"Kila?! Pulang, kemana kamu pergi? Kenapa nggak pamit? Kenapa dari tadi nggak angkat teleponku?!" tanya Dira, aku memang sengaja mengaktifkan mode diam untuk ponselku agar tak merasa terganggu oleh telepon Dira yang terus-menerus masuk.
"Cih." aku berdecak kesal,
"Kila, pulang." pinta Dira lirih, aku malah ingin menangis saat ini.
"Kenapa? Bukannya kamu nggak peduli sama aku? Oh ya, yang Soni ajak pergi bukan istri kamu, mas. Soni pergi sama lintah darat, nggak perlu teriak-teriak dan ancam Soni." ucapku menahan tangis.
"Kila, ayah nanyain kamu, kamu pergi dari siang, ini udah mau petang. Kamu pulang ya." pinta Dira lirih,
"Aku nggak pulang malam ini, bilang sama ayah aku pulang ke rumah orang tuaku malam ini." ucapku yang langsung menutup telepon dari Dira.
Aku kemudian mematikan ponsel Soni, begitu juga dengan ponselku.
"Soni, pulanglah, kembalikan mobil ini ke mas Dira. Aku akan di sini sendiri." ucapku sambil menyerahkan ponsel pada Soni.
"Aku nggak akan jadi pengecut, aku yang bawa mbak ke sini, kita pulang sama-sama." sahut Soni tegas.
Bersambung...