Bertemu suami Dista

1399 Words
Dira POV Malam ini aku tidur dengan sangat gelisah, rasanya sulit sekali menahan hasratku, untuk tidak menyentuh tubuh istriku. Kila sendiri sudah tertidur pulas, aku dapat mendengar embusan nafasnya yang teratur. Kami sepakat untuk tidur seranjang setelah ia mengancamku akan meminta cerai jika aku menyentuhnya. Aku memaksa memejamkan mataku dan memunggungi Kila untuk meredam hawa nafsuku. Kila POV Malam ini aku memilih tidur seranjang dengan Dira, bagaimanapun Dira tak akan berani menyentuhku. Aku akan menganggapnya sebagai salam perpisahannya dengan Dista jika ia berani menyentuhku. Aku juga mengancam akan meminta cerai darinya jika sampai Dira memaksaku, jika ia belum mau berjanji meninggalkan Dista demi aku. Sama seperti semalam ketika kami tidur di rumah orang tuaku. Dira terus bergerak, tampak gelisah dan berkali-kali mengubah posisinya. Namun aku berusaha tak peduli, aku ingin segera tidur saja. Aku akan jual mahal pada Dira agar ia semakin penasaran denganku. Walau sebenarnya aku bahagia dengan perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Mataku yang sudah terpejam beberapa jam yang lalu kini terbuka secara pelahan. Bukan suara adzan yang aku dengar, tapi aku mendengar suara ponsel bergetar. Kulirik jam dinding, masih jam 3 pagi pikirku. Siapa yang menelepon dini hari seperti ini? Ternyata ponsel Dira yang bergetar. Aku mengambil ponsel yang terus-menerus bergetar di nakas dekat dengan Dira tidur. Kutatap nama yang muncul di layar, siapa lagi kalau bukan nama Dista, aku menyeringai. Aku beranjak dari ranjang lalu memilih keluar kamar, barulah aku mengangkat telepon dari Dista. Aku penasaran sekali apa yang membuat Dista menelepon pada jam segini. Aku menggeser ikon telepon berwarna hijau itu, lalu kutempelkan ponsel Dira tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. "Halo." suara pria yang kudengar kali ini, aku membelalakkan mataku, sementara tangan kiriku menutup mulutku yang secara refleks ingin berteriak. Kenapa suara pria yang aku dengar? Kenapa bukan Dista? Apa ini suami Dista? "Ha-halo." sahutku ragu, "Anda siapa? Bukannya ini nomor ponselnya Pak Dira?" tanya pria di seberang sana. "Iya, ini siapa? Kenapa pakai nomornya Dista?" tanyaku dengan gejolak jiwa yang entah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku takut kalau pria yang menelepon ini benar suami Dista dan hendak melabrak Dira. Aku adalah orang yang paling sakit hati jika Dira dan Dista memiliki hubungan. Namun aku juga yakin suami Dista akan merasakan apa yang aku rasakan ini. "Aku suaminya, apa Anda istri Pak Dira?" tanya pria di seberang sana dengan lantang, aku tiba-tiba lemas, terduduk dan menyandar di pintu kamar. "Anda mau apa?" tanyaku yang sudah tak sabar ingin mengetahui tujuan pria itu menelepon suamiku dini hari seperti ini. "Ada yang mau saya katakan dengan Pak Dira." sahut pria itu, aku hanya diam, mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. "Bu.." panggilnya ketika aku tak segera menjawab perkataannya, "Apa yang mau Anda katakan? Tentang apa? Pekerjaan atau masalah pribadi?" tanyaku dengan suara gemetar. "Masalah pribadi bu." jawabnya tegas, "Bisa kita ketemu? Aku... Aku ingin ketemu dengan Bapak." ucapku, aku bertekad ingin bertemu dengan suami Dista, walau aku tak tahu apa yang akan aku katakan nanti dengannya. "Baiklah, ayo kita ketemu." sahutnya tegas, aku kemudian menyuruhnya menghubungi nomorku langsung dengan nomornya pribadi. Setelah itu aku menghapus riwayat panggilan telepon dari suami Dista itu agar Dira tak curiga. Perasaanku tak enak tiba-tiba, resah, takut kalau suami Dista akan macam-macam kepada Dira. Kali ini aku semakin yakin kalau aku menyukai Dira, tulus. Aku seperti tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada pria yang selama ini kejam padaku itu. Aku kembali ke kamar, namun mataku tak kunjung terpejam. Aku sangat resah, aku kemudian mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam. "Ya Allah, jika mas Dira adalah jodohku, sadarkanlah ia atas kesalahannya. Jika bukan, ikhlaskanlah hatiku untuk melepasnya." aku berdoa selesai melaksanakan sholat malam. Ketika aku merapikan mukena, kulihat Dira sudah menatapku dengan lekat. "Kenapa? Kamu mau sholat juga mas?" tanyaku menutupi rasa canggungku, "Apa yang kamu doakan?" tanyanya pelan. "Apalagi, aku mau kamu ninggalin Dista dan milih aku. Tapi kalau kamu milih Dista, aku nggak bisa maksa kamu." sahutku apa adanya. Dira menatapku lekat, aku kemudian menuju ranjang lagi untuk kembali mencoba memejamkan mataku. Dira menggeser tubuhnya, membuatku terkejut sampai membelalakkan mataku. "Kamu mau apa mas?" tanyaku lantang, "Aku cuma geser dikit doang, nggak nyentuh kamu kan?" ucapnya lantang, membuatku mengerutkan keningku. "Ya geseran sana dong, sempit ini mas!" teriakku, namun aku tak berani mendorongnya. "Ayo tidur lagi." ucap Dira yang malah memejamkan matanya, ia bahkan tidur menghadapku, membuatku tak nyaman walau kami tak saling bersentuhan. Aku hendak beranjak dan ingin tidur di sofa saja, namun Dira segera mencegahku dengan memegang tanganku. "Aku nggak akan nyentuh kamu, jadi biarin aku tidur begini. Kamu juga jangan tidur di sofa, aku janji." ucap Dira lirih tanpa membuka matanya. "Ya udah, lepas." ucapku setelah kami terdiam cukup lama, Dira kemudian melepas genggamannya dan aku kembali memposisikan tubuhku di samping Dira. *** Aku membolos kuliah siang dan memilih bertemu dengan suami Dista di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Seperti biasa, Soni mengantarku, namun aku segera memintanya kembali ke kampus karena ia harus kuliah. Aku mengirimkan pesan pada suami Dista itu mengenai ciri-ciriku, aku menunggunya dengan cemas. Tiba-tiba ada pria dengan penampilan yang luar biasa tampan, menghampiriku. "Bu Kila?" tanyanya, aku mengangguk, "Saya Guna, Bu." ucap pria itu lalu mengulurkan tangannya, aku menyambutnya ramah. "Boleh saya duduk?", aku mengangguk mengiyakan. Aku masih tak percaya, Guna, suami Dista sangat tampan, jauh lebih tampan dari Dira. Ah, apa yang aku pikirkan. "Udah lama nunggu? Maaf, tadi macet." ucapnya lagi, aku hanya mengangguk lemah. "Mau makan apa, Bu?" tanyanya ketika melihat meja kami masih kosong, aku memang belum memesan apapun. "Panggil aja Kila." pintaku, "Ah, iya. Kila." jawabnya yang terdengar ragu. Suami Dista memanggil pelayan kafe lalu memesan makanan. Kami masih saling diam sejak pelayan pergi dari tadi. "Sebe.." ucap kami yang bersamaan, kami tersenyum malu. "Kila dulu aja." ucapnya, aku masih terpesona oleh ketampanannya. Baiklah, aku sangat mengerti kenapa Dista tak ingin melepaskan suaminya walau ia tak puas dengan pria di depanku ini. "Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan dengan suami saya?" tanyaku langsung to the point. "Panggil saya Guna aja." pintanya, aku mengangguk. "Apa kamu tahu kalau Dista dan Pak Dira memiliki hubungan khusus? Maaf kalau aku menyinggung perasaan kamu." ucap Guna yang terdengar tak sungkan lagi, ia mulai menggunakan aku-kamu. "Tahu." jawabku jujur, Guna tampak terkejut, kami ada pada situasi canggung lagi. Namun situasi canggung ini segera berakhir ketika pesanan makanan kami diantar oleh pelayan kafe. "Maksud kamu, kamu rela Pak Dira menduakan kamu?" tanya Guna lantang ketika pelayan pergi, aku menoleh ke kanan dan kiri, takut orang-orang mendengar ucapan Guna barusan. "Maaf." lanjut Guna yang melihatku merasa tak nyaman. "Aku mau bercerai dari mas Dira." akuku jujur, Guna tampak terkejut lagi. "Bukannya kalian belum lama menikah?" tanyanya, aku mengangguk. "Kamu marah karena suami kamu selingkuh?" tanya Guna lagi, aku mengangguk lagi. Guna mengembuskan nafas panjang, setelah itu ia menenggak habis minuman jus jeruk yang barusan ia pesan. "Aku juga akan menceraikan Dista." ucapnya datar, kini giliranku yang terkejut dan membelalakkan mataku. "Selama ini aku kira Dista setia, dia bukan tipe wanita yang suka shoping, menghambur-hamburkan uang demi hal yang enggak penting. Aku pikir aku beruntung karena bisa menikah dengannya. Namun kemarin aku lihat pesannya untuk Pak Dira, Dista manggil Pak Dira dengan sebutan sayang." terang Guna, aku mendengarnya dengan diam. "Aku memang nggak pernah curiga sama istriku, aku sangat percaya karena ia tak pernah buat aku kecewa sebelumnya.". "Setelah aku baca pesan itu, aku minta orang buat ngecek hotel itu. Aku melihat rekaman Dista dan Pak Dira masuk ke kamar yang sama. Kamu tahu, aku sangat syok dan bahkan ingin bertanya langsung pada Dista.". "Namun kuurungkan dan aku memilih menemui Pak Dira terlebih dahulu. Dan.. Mungkin takdir, malah kita yang bertemu sekarang.". "Apa kamu bilang, kemarin? Kemarin mas Dira dan Dista ketemu lagi di hotel?" teriakku tak percaya, Guna mengangguk. Aku tertawa, bagaimana bisa Dira memintaku melayaninya di ranjang semalam, sementara siangnya saja ia sudah berbagi kenikmatan dengan Dista. Ah, aku ingin sekali mengakhiri hubunganku yang rumit ini, segera. Aku mengepalkan kedua telapak tanganku, marah dan kecewa. Aku pikir aku akan bisa membuat Dira melupakan Dista, namun nyatanya mereka masih bertemu dan memadu kasih. "Kamu cuma lihat rekaman mereka masuk kamar hotel. Sementara aku, aku... aku pernah lihat mereka melakukan itu dengan kedua mataku sendiri." ucapku kesal. "Kalau begitu kenapa kamu masih bertahan sampai sekarang?!" tanya Guna lantang, "Cih, karena apalagi? Karena uang, keluargaku butuh uang untuk operasi adikku. Aku cuma gadis miskin yang dibeli orang tua mas Dira untuk menikah dengannya." jawabku sambil terkekeh kecil. "Bercerailah sekarang, aku akan membayar biaya operasi adikmu." ucap Guna yang membuatku menatapnya lekat, diam. "Kamu mau kita balas dendam sama kedua manusia tak punya hati itu?" lanjutnya, aku terkekeh lagi, aku yakin Guna sedang merasa sakit hati yang luar biasa, sama seperti ketika pertama kali aku melihat Dira berselingkuh. "Aku akan buat mereka menyesal atas perbuatan mereka." ucap Guna datar, "Kamu mau bergabung denganku?" lanjutnya. Ini adalah kesempatan bagus untukku, aku punya partner untuk membalas rasa sakit hatiku pada Dira dan Dista. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD