Ada pepatah yang mengatakan kalau orang itu yang dipegang omongan.
Aku memilih memegang janji Dira kalau dia akan berhenti berhubungan dengan kekasih gelapnya, Dista.
Aku tahu pasti kalau manusia adalah tempatnya salah dan dosa.
Tidak hanya Dira, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Aku berharap Dira bisa belajar dari kesalahan di masa lalunya agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Aku memberi kesempatan Dira bukan tanpa alasan, bukan karena aku murahan dan bukan pula karena takut akan ancamannya.
Aku hanya ingin memberi suamiku ini kesempatan demi membuktikan bahwa dirinya bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun keraguanku mulai muncul kembali setelah mendengar obrolan Dira kemarin dengan entah siapa yang meneleponnya.
Dira berjanji akan menemui orang tersebut siang ini di hotel X.
Aku yang sudah dikuasai rasa penasaran tingkat akut memilih membolos kuliah demi membuktikan rasa curigaku, aku ingin melihat dengan siapa Dira akan bertemu kali ini.
Aku mengikuti Dira menggunakan jasa taksi online.
Sampailah kami di hotel X, aku membuntuti Dira perlahan sampai ia masuk ke dalam kamar.
Sayang sekali aku tidak bisa melihat siapa yang membuka pintu untuk suamiku itu.
Kali ini aku dilema karena bingung harus terus lanjut atau berhenti di sini.
Kalau lanjut, aku takut Dira akan marah jika di dalam kamar itu nyatanya adalah teman atau rekan kerjanya.
Namun kalau aku berhenti, semua usahaku mengikuti Dira dari tadi pagi pasti sia-sia.
Aku bahkan sudah meninggalkan kuliah hari ini, tak rela rasanya jika harus berhenti sampai di sini.
Dengan langkah yang sangat berat, aku memberanikan diri untuk memencet bel kamar yang sudah dimasuki suamiku.
Setelah itu aku langsung berbalik agar wajahku tak kelihatan dari kaca pembesar yang menempel di pintu kamar hotel ini.
Setelah aku mendengar suara pintu kamar terbuka, aku langsung membalikkan badanku dan menatap siapa yang sudah membuka pintu untukku.
Betapa terkejutnya aku, ternyata kekhawatiranku menjadi kenyataan.
Wanita yang pernah kulihat b******u dengan suamiku ada di kamar hotel ini dengan suamiku.
Aku sangat yakin kalau wanita ini adalah kekasih Dira karena aku ingat betul bentuk rambut, warna kulit dan bagaimana perawakan wanita ini ketika kulihat di rumah Dira dulu.
"Siapa?" tanya Dista yang tampaknya tak tahu kalau aku ini adalah istri dari pacarnya itu.
Tidak heran, memang pertemuan singkat kami waktu itu tak mengizinkan kami saling bertatap muka.
"Siapa sayang?" ucap Dira yang muncul di belakang Dista.
Aku menyeringai menyadari betapa bodohnya aku karena sudah percaya pada janji Dira waktu itu.
Mana mungkin Dira akan benar-benar meninggalkan kekasih gelapnya yang sangat ia cintai ini hanya demi aku, demi istri yang tak pernah ia anggap.
Dira tampak terkejut melihat kedatanganku, Dista hanya diam melihat aku dan pacarnya itu adu tatap.
Aku tanpa bicara apapun langsung pergi meninggalkan Dira dan kekasih gelapnya itu.
Dira mengejarku lalu memegang tanganku erat, aku menghentikan langkahku dengan terpaksa.
"Aku mau bicara." ucap Dira yang tampak tergesa.
"10 detik." jawabku tegas.
"Tolong jangan adukan ini pada ayah dan ibu." ucapnya yang penuh iba, tak seperti dulu ketika ia membentakku dan menamparku. Kali ini Dira bak pengemis di mataku.
"Waktumu habis. Maaf, aku tetap akan menggugat cerai. Sesuai dengan janji yang kita buat." ucapku tegas dan lantang.
Tiba-tiba Dira menyeretku masuk ke kamar hotel yang ia gunakan untuk aktivitas seksnya bersama dengan kekasih gelapnya itu.
"Maaf, bisa kamu pergi sekarang? Aku akan beri anak ini pelajaran." ucap Dira pada Dists.
Dista tanpa berkata apapun langsung meninggalkan kamar ini, wajahnya tampak kesal dan marah.
Dira kemudian menyeretku mendekati kasur, lalu didoronglah tubuhku sampai aku terbaring di kasur.
Dalam sekejap tubuh Dira sudah meninduh tubuhku.
Dira menciumku dengan paksa, aku meronta-ronta dan berusaha keras menghentikan aksi gila Dira.
Dira mulai merobek pakaianku, aku masih tak bisa melawannya karena kedua tanganku dipegang erat oleh tangan kirinya.
Aku menangis mendapati bajuku yang sudah robek karena ulah Dira.
"Kamu mau apa? Menghamiliku? Kamu lupa aku sedang datang bulan? Sia-sia kamu begini, aku nggak akan hamil." ucapku dalam tangis ketika Dira mencoba membuka pakaiannya.
Aku asal saja mencari alasan agar Dira tak benar-benar merebut keperawananku saat ini.
Aku tahu Dira adalah suamiku, namun aku ingin menggugat cerainya. Jadi aku tak mungkin melayaninya dalam urusan ranjang saat ini.
Aku tahu betul Dira hanya ingin aku hamil anaknya untuk menyenangkan ayah dan ibunya.
Aku sadar kalau janji Dira kemarin hanya akal-akalannya saja karena aku mengancam ingin bercerai.
Dira pasti membodohiku agar aku mau bertahan dengannya sampai aku hamil. Dengan begitu ia bisa memberikan cucu pada orang tuanya tanpa harus meninggalkan kekasih gelapnya, Dista.
Dira tampak percaya akan ucapanku, padahal aku sendiri tak yakin apakah ucapanku tadi benar atau tidak.
Dira duduk, ia menunduk lalu menjambak rambutnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Aku ikut duduk di sampingnya sambil memegangi bajuku yang sudah tak berbentuk.
"Setidaknya tunggu 3 bulan lagi kalau ingin bercerai. Dokter bilang kondisi ayah saat ini sangat buruk. Namun jika ayah mampu bertahan selama 3 bulan, kesempatan ayah sembuh bisa lebih besar." ucap Dira yang tampaknya sudah frustrasi menghadapiku.
Aku tahu betul kalau kondisi Pak Bima memang sedang tak sehat.
Aku sendiri tak tega jika harus melihat Pak Bima meregang nyawa akibat ulah Dira.
"Baiklah, aku akan berpura-pura kita baik-baik saja di depan ayah dan ibu. Tapi aku punya banyak syarat untukmu. Dan yang paling penting, kamu harus siapkan banyak uang demi membayarku kali ini." aku mencoba bernegoisasi dengan Dira karena menurutku aku harus memanfaatkan keadaan ini agar mendapatkan keuntungan.
Aku harus mulai memikirkan Sera dan bapakku, jangan sampai mereka menerima akibatnya jika aku memaksa meminta cerai dari Dira sekarang juga.
"Kalau kamu mau hamil anakku dan melahirkannya, aku akan beri berapapun yang kamu minta. Asalkan ketika kamu pergi, jangan bawa anakku itu." ucap Dira yang bagaikan silet yang mengiris hatiku.
Bagaimana bisa dia menganggap anak bisa dibeli dengan uang.
Betapa picik pria yang sudah menjadi imam keluargaku ini.
Aku semakin yakin untuk menggugat cerai dirinya sesegera mungkin setelah kondisi ayahnya membaik.
Dan aku tak akan takut dengan ancaman Dira lagi karena aku akan melawannya, tak peduli apa yang akan Dira lakukan nanti.
"Jangan mimpi, aku nggak akan mau hamil anakmu apalagi sampai melahirkannya. Yang aku kandung dan aku lahirkan adalah anakku, tak akan bisa dibeli dengan uang." teriakku ke Dira.
Aku berharap Allah akan membalas rasa sakit hatiku ini pada pria yang tak punya hati ini, suamiku.
Pria yang sudah mengucapkan ijab qabul untukku namun tak berusaha bertanggung jawab atas ijab qabulnya tersebut.
Semoga Allah membalas rasa sakit hatiku ini dengan setimpal, agar Dira tahu bagaimana rasa sakit hatiku saat ini.
Bersambung..