Malam hari ...
“Ehm, Tubuhmu sangat elok, Anakku,” desahnya.
“Katanya kau akan menjadi ayah angkatku, kenapa, kenapa aku ... huh, bahkan menjadi kakek angkatku, kau tak pantas?!” rintihku.
“Jangan banyak cincong kamu, nikmati saja ... lama-lama aku cincang milikmu,” tutur ayah angkatku dengan nafas tak beraturan.
Aku diam, tak berkutik sekali pun, tercenung merasakan sensasi tusukan tiga kali berturut-turut yang sangat aku benci. Jariku bergerak lemas dengan sendirinya di jendela.
“Uh, kenapa Leo sangat terlambat membawamu?!” hardik ayah angkatku, meronta-ronta di sepanjang tubuhku.
Aku muak, benar-benar muak, melihat ayah angkat beralibi seorang kakek tua, lebih parahnya lagi berdalih predator se(k)s terhadap anak kecil sepertiku.
Jariku yang terkulai lemas kuluruskan, kugerakkan secara getir saat tubuhku dibalik secara paksa oleh ayah angkatku. Saat ayah angkatku menghirup aroma dari dadaku, saat itu juga kucolok sepasang matanya dengan tekuk jemariku.
“Kepar(a)t kamu, Nak ... sial(a)n kamu, Nak ... anak tidak tahu diuntung, akan diberi rumah malah melonjak mati-matian?!” pekik ayah angkatku, ia menjauh dariku. Kedua tangannya memegang matanya yang sakit.
Aku pun panik, kakiku yang terkulai gerah melangkah begitu saja seperti tak memiliki arah. Kutarik selimut raksasa dari kasur untuk membalut tubuhku, tak lupa kuambil sepasang sandal jepit baruku yang berserakan di tengah luasnya lantai dingin itu.
Tubuhku kembali mendobrak pintu seraya menjerit dengan suara di ujung tenggorokan, “Leo buka pintunya ... jika tidak kau buka, aku akan sangat membenci kau, Leo! Aku benar-benar benci kau, Leo!?” jeritku seraya menggeleng keras, aku tak kuat menahan beragam emosi yang terjadi per sekian menit.
Jariku yang terkulai lemas mencungkil setiap tempahan kayu di pintu, kembali lagi kujedotkan jidat berkali-kali di pintu. Saat jemari kakiku yang benar-benar bergetar ketir menendang lemas pintu di hadapanku, tiba-tiba saja pintu itu terbuka pelan.
Terlihatlah Leo, dia diam dengan wajah bingung dan tercengang, aku muak menjelaskan wajahnya.
Kutarik tangan Leo seraya berkata, “Tolong antarkan aku pulang, kau malaikatku ‘kan, aku mohon padamu ... tempatku di pinggir jalan bukan di istana luas ini, Leo!” pintaku, lirih.
“Jangan pergi! Jangan biarkan anak jalanan itu pergi!” pekik ayah angkatku, tiba-tiba. Pria tua itu masih saja memegangi sepasang matanya seraya melangkah tak tahu arah.
Suaraku menghilang, tetapi tidak dengan gerakan tubuhku. Semua bulu kudukku berdiri sendiri, tanganku yang bergetar tak henti-hentinya menarik tangan Leo. Namun, Leo malah tetap mematung di depan pintu.
Tak kupedulikan lagi ekspresi wajah Leo, kutarik tangannya dengan sekuat tenaga meninggalkan ayah angkatku yang berteriak-riak menghampiri pintu kayu di belakangku, “Pergi saja kau, Anak Si(a)lan ... akan kubuat kedua orang tuamu buta nanti!” pekik ayah angkatku untuk yang terakhir kali.
Aku menarik Leo, berlari di sepanjang ruang penuh dengan lukisan aneh yang baru saja kumengerti artinya, juga lampu-lampu terang yang menusuk mataku saking terangnya. Saking paniknya aku berlari, aku terjatuh di tengah ruang panjang yang sangat kudendami seluruh isinya.
Leo dengan sangat cepat membangunkan tubuhku lalu aku kembali dituntun berlari ke mobil dengan segera, sampai-sampai aku tak sempat mengambil salah satu sandal baruku yang terjatuh.
Dituntunlah aku masuk ke mobil lalu Leo yang mengemudikan mobilnya.
Sepanjang perjalanan mobil, aku hanya melihat jendela, menatap bulir-bulir hujan yang tak henti-hentinya menimpa kaca jendela, begitu juga tangkai depan kaca mobil yang tak henti-hentinya berderit. Aku menangis, semua tubuhku benar-benar terasa sakit berderit-derit.
Terakhir kali sebelum aku jatuh tak sadarkan diri, Leo tetap mengemudikan mobil tanpa sepatah kata seraya melempar sepasang pakaian padaku yang duduk di belakang.
***
Pagi hari ...
Terik matahari sangat kuat menusuk punggung remukku padahal masih musim hujan, kaki ringkihku kembali lagi terseret-seret di antara daun kering kecokelatan yang melingkar di bantaran dahan dekat kasur kardusku, aku pun duduk di kasur kardusku.
Si Jingga menghampiriku lalu duduk di samping kakiku yang terlipat. Kucing liarku itu menjilat-jilati keringat yang menempel di sikuku dan saat itu ayahku tiba-tiba saja muncul dengan wajah paniknya.
“Nak, kamu dari mana, Nak!” tanya ayahku, cemas.
Aku berdiri, menatap lamat-lamat wajah panik nan cemas ayahku.
“Nak, ibumu dibawa ke kantor polisi oleh warga, Nak ... ibumu dituduh maling sandal, Nak,” ujar ayahku, seperti menangis.
Aku pun menitikkan satu butir air mata lalu beberapa detik kemudian semuanya mengalir sederas itu sampai-sampai ayahku kebingungan menghampiriku.
“Kamu baik-baik saja, Nak?” tanya ayah di depan wajahku.
“Ayah ... peluk aku, Ayah,” rintihku, air mengalir sesenggukan, nafas tersengal mencekik, bibir gemeletuk menggigil.
Ayah pun merangkul tubuhku yang berbalut selimut raksasa. Tangannya bergerak lambat lalu menepuk-nepuk hangat punggungku.
***
Seminggu kemudian ...
Kuhabiskan 24, 7 tanpa henti bergelut di tumpukan kardus bersama Si Jingga. Daun-daun kecokelatan memerah selalu menemani rambutku yang mulai memanas kering karena terpaan matahari dan titik hujan tak karuan.
Ibuku hilang begitu saja, satu amarahnya, mulut ceriwisnya, dan kecerewetan ibu yang kurindukan ikut pergi tanpa satu bayang pun. Aku menyesal jarang bertemu dengan ibu, aku menyesal mengatakan betapa cerewetnya ibu.
Sementara ayahku, ayahku dari yang sangat cuek malah menjadi sangat pemurung karena kehilangan ibu apalagi melihat tubuhku yang benar-benar menempel di hamparan tanah kering, tak berkutik sesering mungkin, seolah seluruh rasa semangat telah diserap mudah nan cepat oleh malaikat maut.
Tak ada malaikat maut lagi, tak ada pengecut bahkan ayah angkat lagi. Beruntung saja tempat menyepi dan menepi orang tuaku di pojokkan, tertutup rapi batang-batang pohon lurus nan tinggi.
Batang-batang pohon sama sepertiku, seolah kaku nan lemas tak berdaya begitu saja. Selama seminggu, kutinggalkan rutinitas panasku di pinggir jalan, bahkan tumpukan tisu yang harusnya laku dibeli pengemudi mobil mewah, hangus secepat itu karena terpaan musim yang tidak jelas.
Satu koin tak ada yang masuk ke kaleng, satu nasi basi tak henti-hentinya terjun ke mulut sehari-hari. Aku merintih, menangis, dan merintih lagi. Pita suaraku tercekik mati, air mataku tak mengalir henti, aku sendiri seorang diri dari siang ke malam lalu balik malam ke siang, hanya bersama Si Jingga dengan terpaan daun kering mati.
Saat itu, satu benturan kudapatkan, aku gelisah. Dua tautan tak melepas, aku meronta-ronta. Tiga kali percobaan dalam semalam, aku muak, benar-benar muak. Rasanya aku hanya ingin mati di tempat. Lampu terang itu, lampu terang di luar jendela sana, sama sekali tak berkutik apa.
Kemarin-kemarin, aku pikir malaikat bercahaya terang itu akan menjadi tonggak sakti dalam hidupku, akan menarik tanganku keluar dari pinggir jalan kemiskinan, tetapi cahaya redup di matanya hanya merekam tak peduli aksiku di ruang luas nan terang benderang tak tertutupi gorden.
Bukan persetubuhan yang kumau soal jalan-jalan, bukan mendesah yang kuinginkan perihal uang. Aku hanya ingin hidup bahagia nan terang, seterang lampu ibu kota. Namun, lampu terang ibu kota yang bersinar remang begitu mencekik untuk takdir seorang pengemis sepertiku.
Aku tak ingin berpindah, aku ingin menetap, aku ingin menjadi perempuan kecil dulu, perempuan yang berjalan tenang berusia 15 tahun di pinggir jalan terang. Aku harap, aku tak akan bertemu malaikat maut itu lagi.