Akhirnya

1264 Words
Pagi hari ... “Akhirnya, aku bisa memb(u)nuh ... tapi kenapa memb(u)nuh orang jahat sangat sulit di dunia ini!” “Lili, kamu baik-baik saja?” “Kenapa ... padahal ayah angkat yang memperkos(a)ku, tapi kenapa aku dan seluruh milikku yang tersiksa?!” “Lili, kamu baik-baik saja?” tanya Leo terus-menerus yang tak kupedulikan. “Apakah aku tampak baik-baik saja?” Aku sibuk berteriak-riak dan bertanya pada diriku sendiri, aku masih berjongkok di hadapan kucing kesayanganku, berharap Si Jingga akan memelukku, tetapi Si Jingga sudah tiada. Si Jingga duduk begitu saja dengan leher melekuk, meneteskan d(a)rah yang sangat banyak. Bahkan d(a)rah Si Jingga juga menempel di wajahku karena cipratan yang begitu luar biasa. Lantas, tanganku mengusap seluruh d(a)rah yang memenuhi wajah. Aku pun berdiri tegak, mataku memandang lekat ke bawah, ke arah Si Jingga yang masih saja duduk, tak berkutik sedetik pun. Gigiku meretek, aku tertawa ringkih, mataku berkedip-kedip berlinang air. Aku pun berjongkok lagi lalu menggendong Si Jingga seraya bertanya dan menyentuh lehernya yang meliuk, “Si Jingga, kenapa kamu mati?” tanyaku seperti perempuan gila pada kucing liarku. Tiba-tiba saja suara langkahan kaki yang sangat ramai terdengar dari belakangku bersamaan dengan suara ayah. “Nak?” Aku menoleh, air mata langsung mengalir deras, mulutku terbuka lebar bergetar seraya aku menjerit pada ayah, “Ayah ... Si Jingga mati, Ayah ...,” Bibirku tambah menggigil seraya berucap, “Aku yang memb(u)nuhnya, aku bukan orang gila, Ayah,” jeritku, memejamkan mata yang menahan isak tangisan. Mata terus-menerus kukedipkan lalu terlihatlah ayah yang terhenti di antara pepohonan tinggi dan lurus. Tidak hanya ayah yang berdiri di sana, tetapi beberapa prajurit seragam hitam-hitam milik Leo juga berlari, mengejar ayah . Prajurit-prajurit itu langsung menahan dan memborgol tangan ayahku dari belakang. Ayah terkejut, begitu juga dengan diriku. Aku pun berlari, menghampiri ayah. “Jangan tahan ayahku, tahan aku saja ... aku baru saja memb(u)nuh,” jeritku seraya tersenyum ketir dengan bibir bergetar, mataku membeliak menitikkan air mata. Kutunjukkan juga Si Jingga yang mati di rangkulanku, kutunjukkan pada prajurit-prajurit itu. Kemudian Si Jingga jatuh dari rangkulanku, aku bahkan tak sengaja menginjak Si Jingga karena tanganku menarik erat-erat ayahku, agar kembali ke sisiku. Aksi tarik-menarik ayah terjadi dengan sangat cepat karena prajurit-prajurit itu, hingga menyeret dedaunan kering ke jalan raya. Aku meronta-ronta menangis sambil menarik ayahku, aku juga terus memohon agar ayah dilepaskan. Semua emosi seakan meluap dari dalam tubuhku, kepanikan mendadak memenuhi diriku, hingga aku melupakan Si Jingga, persetubuhan, dan semuanya, bahkan Leo juga kulupakan sedari tadi. “Lepaskan ayahmu, Nak ... ayahmu bersalah karena menebang Pohon Jati di kawasan hutan lindung,” ucap salah satu prajurit yang menarik ayah. Ayah langsung terbelalak kaget mendengar itu. “Saya gak menebang sendirian, saya hanya ikut-ikutan saja ... kekayaan alam kalau bukan untuk rakyat jelata, lalu untuk siapa?” ucap ayah, cemas. Kepalaku terasa pusing sekali, mataku bahkan terasa mendadak buram. Kemudian siluet sebuah mobil terlihat dari kejauhan. “Bicarakan baik-baik di sana saja ... Jangan bicara di jalan raya,” ucap Leo, cemas seraya melerai. Aku baru sadar akan dirinya yang berdiri di tengah jalan. Terus kutarik ayahku sekuat tenaga ke pinggir jalan, lalu mobil itu mengambil perhatianku. Mobil itu mendekat sangat cepat ke arah Leo, aku pun panik. Saking paniknya kedua tanganku dengan cepat menarik lengan Leo, hingga melepaskan peganganku pada ayah. Awalnya, kukira Leo yang diincar mobil itu, tetapi nyatanya aku salah. Mobil itu melaju begitu saja melewati aku dan Leo per sekian detik. Mataku terbuka sangat lebar, melihat kejadian mencengangkan yang tak terhentikan di hadapanku. Bumper mobil menabrak salah satu betis ayahku, hingga membuat ayahku terhuyung menyamping lalu wajahnya langsung menghantam spion mobil. Seketika, ayahku terjatuh ke panasnya aspal jalan raya, dengan kepala pecah berd(a)rah-d(a)rah. Tubuhku seketika menjadi kaku, kakiku melangkah ketir mendekati tubuh ayah yang tergeletak seperti mayat. Titik-titik air tiba-tiba saja terhenti mengalir dari mataku yang tak berkedip. Aku pun berjongkok di dekat ayahku seraya menggoyangkan lengan ayahku. “Ayah!?” Air mataku langsung mengalir deras saat ragaku menjerit-jerit. Aku langsung berdiri, melangkahi prajurit-prajurit lain yang juga terkapar di aspal. Kemarahan benar-benar menguasaiku, aku pun mendekati Leo yang tercenung ketir di pinggir jalan. “Si(a)lan kau ..! kepar(a)t kau!” Kudorong tubuh Leo ke aspal. “Gara-gara menyelamatkanmu, ayahku mati sekarang ..! Kenapa kau berdiri di tengah jalan tadi?!” pekikku. Aku injak kaki Leo berkali-kali. Aku kesal, benar-benar kesal. Namun, tiba-tiba saja injakkanku terhenti karena ayah. “Nak ... Nak, kepala ayah sakit, Nak!” “Ayah!?” Aku berlari, mendekati ayah yang bergerak-gerak memegang kepala di aspal. “Sakit, Nak ... sakit, semuanya gelap, Nak,” lirih ayah seraya mengejap-kejapkan matanya. Leo pun datang dengan kaki ringkihnya menghampiriku. “Ayo ke rumah sakit dulu— “Hei, anak jalanan!” Aku pun menoleh lalu melihat ayah angkat yang membawa pecut. Ayah angkat baru saja keluar dari mobil itu. Mobil yang menabrak ayahku. “Bawa masuk ayahmu ke mobil,” ucap Leo. Langsung, cepat-cepat kuseret tubuh ayahku yang sangat berat mendekati mobil Leo. Kulihat ayah angkat menghampiri Leo. “Kau diberi kepercayaan malah melonjak!” hardik ayah angkat sambil mendorong tubuh Leo. Aku hanya terdiam. “Kau lebih memilih perempuan itu dari pada aku ..? aku yang menyelamatkanmu dari jalan, karna kau, aku gagal memb(u)nuh ayahnya!” Ayah angkat tak henti-hentinya memecut seluruh permukaan kulit Leo. Tangan ketirku membuka pintu mobil milik Leo, kuseret kembali ayahku memasuki mobil. Aku pun menutup rapat pintu, duduk di belakang lalu melipat kaki seraya mendengar suara-suara pecut. Leo hanya terdiam dipecut ayahnya di tengah jalan raya yang terbungkus hangatnya mentari. Malam hari ... “Bagaimana ... kamu baik-baik saja?” Aku menggeleng. “Bagaimana dengan ayahmu?” “Masuk Unit Gawat Darurat.” “Maafkan aku,” ujar Leo. Aku mengangguk seraya membenarkan posisi dudukku di kursi depan mobil. Aku pun menoleh, menatap Leo seraya berbicara, “Bisa kau menjauh dariku?” Dia diam “Kenapa kau selalu menjemputku setiap sore lalu membawaku ke kelamnya malam ibu kota. Paginya, kau datang lagi mengantarku pulang, kenapa ..? Kau juga hanya ada saat menjemput dan mengantarku, kenapa kau tak pernah ada setiap aku membutuhkanmu, kau selalu saja menghilang. Kenapa ...?” Aku kembali bertanya, “Kau pikir diam adalah sebuah jawaban?” Dia tercenung, menatap kaca depan mobil. “Kau wali kota ..? apa itu wali kota?” Aku pun menjawab pertanyaanku sendiri, “Pengurus ibu kota kan ... kenapa kau tak mengurusi ibu kota, kenapa kau malah menggangguku, kenapa kau malah berkeliaran tidak memikirkan rakyatmu?” Aku lelah menunggunya menjawab. “Jika kau merasa tak mampu mengerjakan sesuatu, lebih baik kau turun sebelum terlambat ... atau kau harusnya bisa bertanggung jawab,” ucapku, mataku yang lelah, menatap dirinya. Leo pun merentangkan kedua tangannya lalu membuka kemeja hitamnya. “Jangan lepas kemeja, aku merasa aneh melihat pria melepas kemeja,” lirihku. Aku memalingkan mataku dari Leo. Leo tetap membuka kemejanya. Sesekali aku melirik Leo. Leo menghadapkan punggungnya ke hadapanku, banyak luka dan cacat bergaris-garis merah menampak di punggungnya. “Tolong, oleskan salep ... salepnya di kursi belakang,” ucap Leo. “Kenapa kau biarkan ayah angkat menyiksamu?” “Oleskan.” “Kenapa?” “Dia menyelamatkanku dari jalanan ... dia yang memberikanku segalanya.” “Lepaskan dia,” ucapku. “Oleskan tolong,” ucap Leo, mata redupnya menatapku. “Kenapa harus aku yang mengoleskan lukamu ... kenapa tidak kau saja yang melakukannya, kau saja tidak mau mendengarkanku. Kau saja tak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah ...,” ucapku, menatap tajam matanya. “Leo, aku mungkin gila ... kau mau membantuku memb(u)nuh ayah angkat itu?” Dia senyap. Aku pun meninggalkannya di kesunyian malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD