Dea terbangun, lantaran menghirup wewangian khas aroma terapi yang tercium amat dekat dengan indera penciumannya. Wanita itu terlihat mengernyitkan keningnya tipis. Terdengar olehnya, sebuah panggilan yang tengah menyerukan namanya. Disertai dengan beberapa tepukan kecil pada pipinya, merangsangnya untuk segera mendapatkan kembali kesadarannya. "De?" Dea pun membuka matanya perlahan. Mendapati Vano yang tampak duduk tepat di sampingnya, dengan raut muka yang menampakkan kekhawatiran di sana. "Kok, Kakak ada di sini?" tanya Dea dengan kening berkerut, begitu ia membuka matanya. "Ish! Nggak nyadar, kalo lo baru aja pingsan?!" ketus Vano. Vano tampak menarik napas lega. Sementara Dea memejamkan mata, mencoba mengusir rasa pusing yang masih saja bergelayut memenuhi kepalanya. Ingatannya

