Aliran sungai jernih di malam hari terdengar jelas. Berteman temaram purnama, pertarungan Raihan dan Jajang berlangsung sengit di tepi sungai, daratan yang terselimut ratusan kerikil, beratapkan separuh batu besar sungai yang menjulang tiga meter di atas mereka-nyaris mirip seperti gua.
Srraak!
Raihan memijak kuat tanah tuk melejit cepat, menerjang-mengarahkan keris menebas leher Jajang dari samping kanan. Ia kembali siaga saat lelaki berkaos lusuh hanya meringis, mengelus luka lebar di leher. ‘Ora pendarahan? Kie wong apa siluman! (Tak mengalami pendarahan? Ini manusia atau siluman!)’ Matanya mengamati luka fatal yang sama sekali tak mengucurkan darah.
“Heh bocah bangor! Kalau kau menyerah, akan aku katakan pada Nyai Ratu agar kau diangkat sebagai abdinya. Kau tak akan bisa membunuhku sekarang!” Jajang kembali mengayuh kedua kaki maju mendekati pemuda berjaket hitam.
Setelah menggulirkan netra ke kanan dan kiri seraya berpikir, pandangannya segera tertuju pada kuali berisi darah mendidih di belakang Jajang. ‘Apa mungkin karena itu?’
Pada jarak lima meter, Jajang bergerak zigzag sebelum melayangkan bogem mentah pada perut lelaki berjaket hitam. Sementara tangan kirinya menyusul dalam posisi tapak tangan terbuka, berayun dari sisi samping.
Dap!
Raihan mengkis dua serangan Jajang, sedetik kemudian memijak tanah kuat-kuat lantas melompati lelaki berkaos lusuh dalam satu pijakan. Telapak kaki kiriya menginjak pundak lawan, memanfaatkannya tuk melesat maju ke arah kuali besar tanah liat berisi darah merah mendidih. “Haaaah!” Raihan yang baru mendarat, buru-buru melesat maju ke depan.
“Rek kamana maneh! (Mau kemana kau!)” serunya mengejar.
Paham bila Jajang berlari cepat ke arahnya, Raihan berhenti melangkah mendadak seraya memutar badan-melakukan tendangan sapuan. Kerikil-kerikil di tanah terempas oleh gerakan lelaki berblangkon, tak terkecuali kaki Jajang yang tersandung hingga jatuh.
Cet!
Raihan sigap meraih pergelangan tangan lawan sebelum ia jatuh ke tanah, lantas melempar tubuh pria paruh baya ke arah kuali tanah liat besar. “Hyaaah!”
Dlang!
Darah yang mendidih di dalam kuali, tersiram jatuh seiring badan kuali yang hancur-memadamkan api yang menyala-nyala. “Haaaaaagh!” Jajang yang sekarang bersimbah darah, bangkit memandang jengkel Raihan. “Wawanian Dukun Leutik! (Berani-beraninya kau dukun cilik!)”
Raihan menyampingkan keris berluk lima ke samping telinga, kakinya siaga dalam kuda-kuda. Bibirnya lirih merapal doa, dengan mata yang tajam menyorot sasaran.
“Haaaaagh!” Jajang berlari penuh murka. Kuku-kuku pada tangan kanan dan kiri serentak memanjang dengan warna putih, ia arahkan pada Raihan.
Laki-laki berblangkon coklat yang mencengkam pusaka menggunakan tangan kiri, menaruh ujung gagang kerisnya pada telapak tangan kanan. Ritme keluar-masuk napasnya terdengar jelas, sembari memusatkan energi pada tangan. Tubuh pemuda berjaket hitam gemetar, sebelum melontarkan pusaka agar melesat ke arah lawan. “Haaaaaah!”
Swusss!
Jlep!!
Keris berluk lima nan tajam, menusuk menembus daging, bersarang tepat di daada kiri di mana jantung seharusnya berada. Tak hanya itu, tubuh Jajang terempas sampai-sampai terpasung pada dinding batu pinggiran sungai.
Tubuh Raihan masih gemetar usai melontarkan jurus kanuragan berbahan tenaga jiwa. Napasnya tersengal, keringat dingin dan hangat bercampur aduk. “Huf... Huf... Huf... Kelar?” gumamnya kelelahan seraya berdiri bungkuk. Merasa selesai dengan Jajang, Raihan menyapukan pandang ke sekitar, di mana ular-ular hitam panjang tak lagi terlihat.
"Eheheh... Heheheh... Eheheheh..." Jajang yang terpasung oleh lemparan keris Raihan, terkekeh seraya meraba pusaka beraura panas yang bersarang di daada.
"Masih hidup!" gumam Raihan terkejut.
"Hahahah..." Jajang mulai mencabut pusaka panjang tersebut. "Hahahahah..." Otot dan pembuluh darahnya terlihat menonjol. "Ahahahah!"
Jrrass!
Setelah Jajang menapakkan kaki di atas tanah, ia memperlihatkan daging yang terbuka pada Raihan. "Aku tak punya jantung. Lantas bagaimana kau akan membunuhku, Dukun bangor!"
***
Sang detektif terguling-guling pada jurang besar di sana. Meski tubuh yang dibalut jaket hitam tersebut cukup berotot, ia tetap meringis menahan sakit tatkala batu-batuan dan sisa-sisa kayu tajam menggores dirinya yang menggelinding paksa.
"Ugh! Agh! Hurgh! Aagh! Duh! Aargg! Aaaah!"
Blaaag!
Pria cepak itu akhirnya terhenti saat tubuhnya yang kekar berhias memar, mendarat pada tanah berpermukaan datar, kemiringan normal. Tetapi baru ia hendak bangkit, matanya terbuka lebar dengan bulu roma yang kembali berdiri. Sunyi malam serta embus angin membekukan sang detektif untuk bergerak.
Sebuah rumah kayu tua lapuk nan usang berdiri tepat tujuh meter dari hadapannya. Hawa dingin begitu menusuk, menembus busana sang detektif yang bingung hendak memutuskan memilih langkah. Anomali yang ia alami, begitu menguras daya nalar dan logika bagi seseorang sejenisnya-yang mana memang tak pernah mempercayai hal gaib. 'Apa yang harus aku lakukan? Rumah ini, kenapa tiba-tiba ada di depanku begini? Perasaan, jalan yang aku ambil tadi berbeda arah dengan rumah ini, kan?'
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkam keberanian serta tenaga yang tersisa tuk bangkit dari tanah. Ia memulai langkah demi masuk ke dalam rumah tak berpenghuni. 'Aku yakin di gubuk reot ini, aku bisa temukan sesuatu!' pikirnya mantap.
Kriieeet...
'Tidak terkunci? Apa masih ada orang yang biasa datang kemari!' batinnya merogoh ponsel, menyalakan mode semter. Satu demi satu, langkahnya begitu ragu dan hati-hati di sana. Disaksikannya dapur tua reot dengan perapian tradisional sebagai tempat masak.
Cittt! Ciiittt! Cit!
Suara tikus yang berlari menjadi sebabsang detektif rambut cepak melompat terkejut ke belakang. "Dasar tikus-tikus kurang ajar!" celetuknya kesal. Pria cepak itu kembali menenangkan diri sebelum melanjutkan eksplorasi.
Samar-samar aroma busuk yang begitu menyengat, menusuk indra penciuman sang detektif muda. Ia lirih mulai melangkah, dituntun oleh aroma laksana bangkai tersebut.
Walau tak lagi terkejut oleh tikus-tikus hitam yang mengintip di sekitar, ia tetap was-was saat sebuah pintu menuju ruangan tersendiri, berada persis di depannya. Sebuah ruang sumber bau menyengat, benar-benar membuatnya penasaran.
Krrieeettt...
Pelan ia membuka daun pintu kayu. Sebuah kamar dengan aroma busuk, ia selidiki dan periksa satu persatu, mulai dari meja, laci, dipan, bahkan semua lemari di sana. "Ahhh! Tak ada apa-apa!" serunya bangkit mengacungkan senter ke pintu keluar.
Ia sama sekali tak bisa melihat bila dirinya, dikepung oleh sosok-sosok wanita berambut panjang. Beberapa lelaki di sana mengenakan kaos hitam penuh darah. Dan di bawah ranjang, lima makhluk serupa manusia tanpa kepala, duduk diam menghadap lemari.
'Sepertinya aku harus cari yang lain lebih dulu dan mengatakan kalau Handoko tewas!'
Baru ia berniat keluar ruangan, lemari kayu yang sudah sempat ia buka, kini berguncang hebat. Terbuka secara sendiri, dan menggelindingkan lima onggok kepala manusia yang sudah busuk