“Jangan buka matamu dulu!” perintah Raihan membuat mahasiswa berkulit gelap menutup wajah menggunakan sepasang tapak tangan.
“I-iya, Mas!” sahutnya gugup, merasakan hawa dingin nan mencekam dari tempat ia berpijak. Tekstur tanah yang dirasa, adalah tanah gambut tanpa rumput yang menyelimut.
Laki-laki berblangkon coklat menarik napas dalam, menyapu pandang pada sekitar di mana hutan gelap tanpa bunyi binatang hutan menyambut. ‘Ini sudah di alam gaib? Tak jauh berbeda dengan alam manusia,’ batinnya.
“A-apa… M-masih ada hantu di sekitar kita, Mas?”
“Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja. Jadi tolong, dengar aku baik-baik, Riko.”
Pemuda cepak berkulit gelap, menelan ludah. “I-iya, Mas. Baik.”
“Kita sekarang ada di dimensi mereka. Jadi bukan mustahil kau akan banyak melihat penampakan makhluk-makhluk gaib di depan sana.”
Jantung Riko berdetak tak karuan mengetahui dirinya bukan lagi berada di dunia manusia. “A-apa kita bisa kembali, Mas?”
“Kita kemari untuk membawa teman-temanmu kembali juga. Dan kenapa aku memintamu mengantarku, karena aku mungkin perlu sedikit bantuanmu nanti. Apa kau siap?”
Sang mahasiswa muda, manggut-manggut ragu. “I-iya, Mas. Baik… A-aku siap!”
Pemuda berjaket hitam merangkul lengan Riko. “Apapun yang terjadi, jangan lepaskan aku. Jaga batinmu, terserah baca doa apa saja. Pokoknya, jangan lari dariku. Mengerti?”
Ia membalas rangkulan Raihan erat-erat dengan tubuh yang gemetar. “I-iya, Mas! Paham!”
“Kalau begitu…” Raihan menarik napas dalam, bersiap maju satu langkah. “Bismillah!”
Gleng…. Tang dung dang…. Gleng….
Dawai indah gamelan bernuansa mistis samar mulai terdengar disela-sela embus angina malam. Suara alat musik tradisional tersebut kian mendekat, membuat bulu kudu Raihan dan Riko berdiri serentak. ‘Apa ini?’ pikir Raihan menyipitkan mata.
‘Maamiii!’ Riko memegang lengan pemuda berblangkon coklat dengan kedua tangan.
Grrroaaaaar!
Auman harimau menggelegar, mengisi udara malam yang mencekam bersama dengan suara gamelan. Suara makhluk tanpa rupa tersebut membuat Riko kian gemetaran. “Huuwaaa!”
Cet!
Raihan menahan tangan Riko yang hendak berlari menjauh. “Heh! Wis didomongi aja mlayu ka eh! (Heh!) sudah dibilang jangan lari kok!)” gerutunya kesal.
Dum… Dum… Dum… Dumm…
Tapak kaki binatang besar menggema, membuat Raihan menoleh kea rah gelap hutan di sisi kiri. ‘Penguasa gaib sekitar?’
Sepasang mata kuning menyala dari kegelapan, setelah makhluk tersebut keluar dari bayangan hutan, tampak seekor harimau jingga seukuran gajah, bertaring sebesar gading, menggeram pada mereka seraya memasang wajah garang. ‘Wahai anak manusia! Ada urusan apa kalian datang kemari?’
Riko yang penasaran, menelan ludah. Sejurus kemudian membuka sepasang mata. Dijumpainya harimau raksasa dengan tanduk serupa cula badak pada jidat. “Hwaaaaaaaa!” Riko lari tunggang langgang melepas cengkaman Raihan yang juga melemah.
“Ri-Riko!” Baru sebentar ia menoleh kecil kea rah pemuda yang berlari terbirit-b***t, Raihan sontak melompat mundur merasakan keberadan sesosok makhluk yang mendekat cepat.
Dlap!
Benar firasatnya bila siluman harimau jingga sebesar gajah, kini berada tujuh meter dari dirinya berada seusai melompat mundur.
‘Wahai anak manusia! Ada urusan apa kau datang kemari!’ tanyanya lagi.
Raihan yang juga agak gemetar meraskan aura menekan sang siluman, mengatur napas tuk menenangkan diri. “Aku kemari untuk menjemput bangsaku yang sudah dibawa pergi oleh bangsa kalian,” sahutnya tegas.
“Grrrr….” Harimau raksasa bertanduk tunggal, memamerkan kedua taring panjang dan gigi-gigi kecil di sekitar. “Lantas siapa kau?”
“Raihan Abdi Pangestu. Musafir dari wilayah lain yang singgah kemari.”
Setelah mengamati netra pemuda berbusana hitam, sang harimau jingga raksasa menoleh kecil pada Riko yang kian menghilang. “Hmmm…. Kau membawa bocah yang tak tahu apa-apa ke tempat seperti ini. Aku kira kau juga b***k si ular betina itu.”
‘Siluman ular itu?’ pikirnya menggulirkan mata ke kanan dan kiri. “Apa kau tahu tentang siluman itu?”
“Salah satu bangsa kalian, membuat perjanjian dengan ular betina itu beberapa tahun lalu. Karena semakin banyak menelan manusia, ia semakin kuat dan bertingkah sewenang-wenang di sekitar sini,” ungkapnya mengambil posisi duduk. “Ular betina itu, semakin lama memperlebar wilayah kekuasaan, sampai-sampai membuat jurig-jurig sekitar pergi, hingga ke desa di balik air terjun sana.”
Raihan mendengung paham. “Apa itu alasannya jadi banyak terror di desa sekitar sini? Tapi bukankah kemunculan makhluk-makhluk itu, adalah perintah dari si siluman ular itu?”
“Sebagian, benar. Tapi sebagian lagi karena tempat mereka terusik oleh siluman itu.”
Raihan mendongakkan kepala ke atas, menarik napas dalam-dalam. “Apa kau tahu di mana rombongan manusia yang dibawa oleh siluman betina itu?”
“Nak, kemampuan makhluk itu begitu kuat setelah melahap bangsamu. Aku yang lebih tua seratus tahun darinya saja kuwalahan.”
“Apa kau tahu wajah orang ini?” Raihan membayangkan wajah Ki Panca seraya memejamkan mata.
Deg!
Sang harimau gusar seketika. Ia bangkit, mundur dengan wajah waspada menghadap Raihan. “Grrr…. K-kau utusan beliau?”
“Aku tak ada urusan denganmu, Mbah. Aku hanya ingin bawa mereka kembali ke dunia manusia saja.”
“B-baiklah, Kisanak. Tapi jika kau mampu, kami para penghuni wilayah ini tak keberatan jika kau juga melenyapkannya,” pintanya berhenti mundur.
Raihan tersenyum sampai-sampai matanya tertutup. “Aku tak berjanji, tapi jika diperlukan, insyaalloh aku lakukan.”
***
Riko yang tersengal-sengal, memutuskan berhenti di bawah pohon besar nan rindang. Ia duduk meluruskan kaki seraya bersandar pada pohon di belakang. Saat sadar pada pesan Raihan, barulah ia menepuk jidat. “Celaka tiga belas!” keluhnya lemas.
Tak ada suara jangkrik maupun bunyi-bunyian binatang hutan, walau alunan gamelan yang indah tetapi mencekam, tak lagi ia dengar. ‘Apa Mas Raihan bisa melawan harimau raksasa tadi ya? Tapi makhluk apa tadi itu? Harimau bertanduk dengan taring seperti gading gajah?’ Ia geleng-geleng masih dengan napas yang terburu, sesekali menelan ludah. ‘Aku bahkan belum pernah dengar soal siluman harimau yang punya tanduk seram begitu!’
Huuuu….. Huuuhuuuu….. Huuu….
Deg!
Riko yang mendengar suara tangis wanita, celingukan kesana-kemari. Wajahnya pucat. ‘Si-siapa itu!’ Ia lirih bangkit, memaksakan napas yang berderu tuk stabil. Ia menelan ludah lagi dikala sesosok wanita duduk membelakanginya dari jarak tiga belas meter. ‘Apa mungkin itu… Mitha?’
Huuu…. Hik…. Huuuhu….
‘Ahhh! Bukan! Pastilah itu jurig!’ Pernah tersesat di hutan dan ditipu oleh belasan kuntilanak, membuat Riko berpaling ke awal ia berlari.
Namun lagi-lagi kakinya yang gemetaran segera berhenti, dikala wanita berbusana putih yang tadi ia lihat, kini berdiri dan berada delapan meter darinya. ‘Dedemit!’ terkanya yakin seraya balik kanan.
Baru ia membalik badan, tubuhnya membeku sebab sosok berbusana putih dan berambuut panjang kusut sudah ada di hadapannya masih dalam posisi memunggungi. ‘Dia sudah menyadari keberadaanku!’ batinnya balik kanan lagi.
“Hwaaaaaa!” Riko menjerit histeris tatkala wanita berwajah hancur dengan mata hitam berlinang darah, menunduk memandang sembari memiringkan kepala.
“Aa… Aaa kasep…. Tolong Neng Aa…”