Sebuah Tawaran dan Jawaban

1241 Words
Pada malam sunyi di hutan gelap, Raihan dan Riko yang duduk di atas sosok siluman harimau penguasa hutan, terus memandang ke depan. Temaram sinar di langit malam, menerangi jalanan setapak lembap di sana. Raihan berdeham, tersenyum menoleh kecil ke arah Riko yang melonggarkan pelukan. “Bagaimana? Sudah tak takut lagi?” “Hmmm...” Paham bila yang dimaksud adalah ketakutan terhadap sosok siluman raksasa yang mereka naiki, Riko masih enggan berkomentar. “Tenang saja, dia tak akan menyerang kita,” sahut pemuda berblangkon coklat. “Tapi ngomong-omong soal buku dukun tua itu, apa kalian benar-benar tidak tahu siapa yang mengambilnya?” “Sejujurnya... Aku merasa ingat sesuatu soal buku keramat. Tapi...” Riko menggulirkan mata ke kanan dan kiri. “Tapi apa?” Raihan kembali memandang ke depan, wajahnya serius. “Tapi aku benar-benar seperti dibuat lupa saat malam itu, kami diserang oleh makhluk tak kasat mata,” lanjutnya lirih. “Diserang? Kau, Iyan, dan orang desa bernama Jajang itu, benar?” terka Raihan lagi. “Benar, Mas.” Riko manggut-manggut. “Apa kau curiga pada orang desa itu? Atau mungkin, suatu tindakannya yang aneh menurutmu?” tanyanya menikmati deru angin malam. Sepasang telinga pemuda berjaket hitam, mulai mendengar bunyi air terjun dari depan. “Anu... Entah, Mas... Yang masih aku ingat, Mang Jajang malah melarang kami untuk masuk ke rumah dukun wanita sesat yang sudah meninggal itu.” “Melarang mereka untuk pergi ke rumah tua yang sudah tak berpenghuni... Jadi begitu ya,” gumamnya lirih setelah berspekulasi. “Lalu, Mas Raihan sendiri, kata Mang Jajang... Anu, sempat ditahan oleh kepolisian setempat. Apa itu juga karena berkaitan dengan hal ini?” ‘Jajang? Berarti benar dia orangnya...’ Pemuda beralis lebat menyipitkan mata. “Dua hari sebelum kalian tiba kemari, aku berdiam di tempat ziarah dekat kota. Di sana, aku dengar kabar dari seseorang kalau sudah sekitar dua minggu, banyak remaja yang hilang di sekitar. Setibanya di sini, aku sempat terlibat cekcok di pasar desa karena dianggap mencurigakan. Dan seseorang telah melaporkannya pada pihak berwajib.” “Apa mungkin orang itu, Pak Jajang?” “Aku baru mengenal Pak Rohim dan istri beliau, sementara Kepala Desa dan Jajang-Jajang itu yang mendatangiku pertama kali saat aku sedang singgah di rumah Pak Ustad Rohim. Jika berpikir secara liar, maka pelapornya pasti di antara dua orang itu, kan?” Siluman harimau jingga bercula yang sedari tadi diam menyimak, kini bersuara, “sebentar lagi, kita sampai. Dan di depan sana, aku merasakan adanya pasukan siluman ular betina sudah menunggu kalian.” Raihan menyahut, “apa selain manusia yang diculik, kau merasakan keberadaan manusia yang melakukan ritual?” “Ya. Dia lelaki yang kalian bicarakan itu,” ujarnya terus mengayu keempat kaki. *** Lelaki dengan seragam polisi berbalut jaket hitam kulit, mendelik melihat kuntilanak-kuntilanak berambut panjang nan kusut melayang. Wajah tiga sosok makhluk astral berkuku tajam hitam legam, menyeringai lebar dengan mata yang melotot. “Ihihiihihihih! Hhihiihih!” Ketiganya serentak mengarahkan cakar tajam pada Handoko. Sang detektif berambut terdiam beku, tak percaya pada apa yang matanya saksikan. ‘Wanita melayang? Hantu? Apa mereka nyata?’ Handoko yang berada dari para hantu perempuan, bermaksud mendorong atasan. “Ndan! Menying-” Sraakkk! “Aaaagh!” Ia terguling akibat dorongan cakar tajam tiga sosok kuntilanak yang menerjang dari belakang, mengukir luka gores pria paruh baya yang berlapis jaket kulit tebal. Lelaki berambut cepak sigap merogoh senapan, membidik wanita-wanita berdaster putih yang melayang-layang di udara sembari tertawa. “Haaaah!” Dor! Dor! Dor! Timah panas yang melesat dari senapan sang detektif, menembus tubuh transparan para jurig betina. ‘Makhluk apa mereka ini?’ Handoko yang terbaring meringis di tanah, menyeru, “lari, Ndan! Mereka tak-” Jlup! Opsir polisi yang malang, ditusuk tepat pada perut oleh sebuah tangan hitam berbulu lebat. Seonggok tangan milik makhluk berwajah gorila, dengan mata merah menyala, serta taring runcing nan panjang di mulutnya. Tawa berat sosok genderuwo setinggi dua meter menggema di angkasa. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Sang detektif menembakkan sisa peluru pada magazin senapan pada makhluk hitam bermata merah. Meski semuanya tepat sasaran, tetapi tiada sedikit pun luka yang targetnya dera. ‘Makhluk apa mereka ini!’ “Hihihihihihih!” Dua kuntilanak berdaster putih melayang beriringan bak burung walet, mereka sukses menggoreskan kuku-kuku tajam pada lengan kanan kiri sang detektif bergantian. Menyadari rekannya telah tewas dalam sekejap, Lelaki berambut cepak spontan melepas senapan dari genggaman tangan. Ia meringis kesakitan, sembari berlari menjauhi Genderuwo dan tiga kuntilanak yang melayang. ‘Hantu! Mereka benar-benar hantu? Mereka itu nyata? Mereka bisa membunuh manusia!’ pikirnya terus berlari dengan wajah pucat pasi. Kulitnya yang tergores mengalirkan darah merah segar dari sana. “Kheheheheheheh!” Wanita berwajah rusak yang melayang di tengah dua sosok serupa, terkekeh terus melayang mengejar pria berambut cepak. “Rek kamana, Aa Kasep? Moal jadi tumbal? (Mau kemana, Abang tampan? Tak mau jadi tumbal?)” Keringat dingin sang detektif bercampur dengan keringat hangat pada badan. Napasnya tersengal akibat keterkejutan dan pendarahan di kedua lengan. Sepasang telinganya yang tadi hanya mendengar deru kencang angin malam dan kekehan makhluk-makhluk astral, kini menangkap alunan alat musik tradisional seperti gamelan, disusul oleh nyanyian merdu perempuan bak sinden yang begitu lirih. Bulu roma dari ujung kaki hingga tengkuk yang berdiri, membuatnya enggan menoleh ke belakang kembali. Ia mati-matian mengayuh kedua kaki,  memandang lurus ke depan tanpa mencermati jalan setapak tanah lembap yang ia pijaki, hingga... Daak! “Haaagh!” Ia tersandung sebuah akar pohon serabut yang seolah menanti di sana. Tuibuhnya yang doyong ke samping, membuatnya tergelincir ke tanah becek, lanjut terguling ke dataran yang lebih rendah-dengan kemiringan sembilan puluh derajat. *** Sraaaatt.... Sang harimau jingga seukuran gajah dewasa, berhenti mendadak nyaris membuat Raihan dan Riko yang menunggang di atas punggung terjengkang ke depan di mana jurang berada. Kaki harimau bercula satu hanya berjarak beberapa jengkal dari ujung tebing nan curam. “Hadehhh, Gusti.... Iya sampean ngerti ngarep jurang kaya kue nge-rem ndadak! (Kau sudah tahu di depan jurang curam begitu malah berhenti mendadak!)” keluhnya memandang aliran sungai di seberang yang turun ke bawah, membentuk sebuah kubangan dalam air jernih. “Hai Kisanak, sebelum aku memutuskan untuk membantumu, aku ingin bertanya padamu,” ujar sang harimau jingga raksasa sedikit menoleh ke punggung belakang. Raihan merangkul lengan kanan Riko, mengajaknya turun dari sosok penguasa gaib sekitar. “Apa?” “Jika aku hanya akan membantumu kalau kau akan jadi budakku, apa kau mau menerimanya?” Pemuda berblangkon coklat menarik napas dalam, menarik lengan Riko ke belakang. “Aku tak keberatan kalau harus menghadapimu sebelum menghadapi siluman ular betina di bawah sana.” Tangan kanan Raihan merogoh sesuatu di saku jaket hitam yang ia kenakan. Sang harimau mengambil ancang-ancang seakan hendak menerkam. “Lalu jika aku hanya mengantarmu sampai sini tanpa membantumu, apa kau tetap akan melawanku?” Raihan lagi-lagi menghela napasa berat. “Aku tak melihatmu mencelakai manusia. Jadi aku tak punya alasan untuk mengusikmu.” “Jika kau melawan siluman betina itu seorang diri, kau belum tentu bisa menang. Lagi pula bocah ingusan itu tak akan bisa membantumu. Kau tahu itu kan?” “Apa kau hanya ingin mengulur waktuku saja?” Netra pemuda berblangkon menyipit. “Apa prinsipmu sampai-sampai berkenan menumbalkan diri demi manusia-manusia itu?” “Rahmatan lil’alamin,” jawabnya tegas. “Apa kau melakukannya demi pujian para manusia? Atau agar kau mendapat pamor setelah mengalahkan siluman betina itu?” Terbesit wajah sang guru sebelum ia kembali menjawab, “Innasholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirobil’alamin.” “Kalau begitu....” Sang harimau seukuran gajah melesat ke arah Riko dan Raihan.                                                                                       ***                                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD