Sang Gadis Indigo

1247 Words
(Satu minggu kemudian usai tragedi mencekam.) Dewi berbaring di kamar berdinding beton. Netra gadis tertuju pada berita yang ia baca dari layar ponsel.  'Aku selamat dari petaka malam itu. Meski aku tak tahu, bagaimana nasib Mas Raihan. Tapi, Nizam pun baik-baik saja. Tragis, dari rombongan gadis bernama Tasya itu, hanya dua orang yang selamat. Salah satunya Tasya.' Dewi buang napas. Jarinya cepat membuka chat dari kontak bernama Nizam. Mereka sempat bertukar nomor telepon setelah polisi datang ke TKP, usai keduanya diantar ke Rumah sakit terdekat. Gadis berbusana nila lengan  panjang, menyapa saat panggilan tersambung, "halo,Nizam." 'Iya, Dewi. Apa kabarmu?' "Aku baik. Semua sudah seperti biasa. Tapi..." Netranya melirik ke jari kanan. 'Tapi apa, Wi?' "Cincinku itu hilang... Entah bagaimana bisa hilang setelah aku sampai di rumah," jelasnya lesu. 'Hilang? Bukankah... Cincin itu sudah ada di tanganmu saat polisi datang waktu itu?' "I-iya... Dan kemudian hilang begitu saja setelah aku sampai di rumah," jelasnya lesu. Ia menggapai boneka beruang merah jambu di dekatnya. 'Mmmmm... Ngomong-omong, Wi... Apa kau belum dengar kabar tentang Mas Raihan?' "Jadi, kau juga belum tahu ya... Apa, Mas Raihan selamat?" ***  Gadis berambut pendek dan berkulit langsat, berlari di tengah belantara hutan. Napas tak beraturannya berpadu dengan kekhawatiran di tengah malam. Hanya purnama penuh yang turut prihatin, menyinari langkah putus asanya. Semak belukar dan licinnya tanah membuatnya kesulitan. Hahahahaha …. Tawa dari lima sosok transparan perempuan berbaju hitam, membuat keringat dinginnya mengucur deras. Para kuntilanak hitam itu melayang tepat di belakang. Jarak si gadis bercelana jeans dengan mereka hanya tujuh hasta. Sebelum akhirnya gadis itu tersandung sebuah akar. Bruk!  Ia tersungkur, segera membalikkan badan dalam posisi duduk. Hanya menatap mata dan wajah rusak para jurig, membuatnya tak mampu berdiri. Raganya lemas. Tak lama, langkah tapal kuda membuat para kuntilanak urung mendekat. Mereka serempak menoleh ke belakang. Kini, tampak sesosok wanita berwajah tua dengan mahkota. Tubuh bagian bawahnya berupa badan kuda putih. Mirip seperti sosok Centaur dalam mitologi Yunani kuno. Perlahan mendekat, sosok berwajah keriput dengan mata putih belok itu terkekeh. Kedua tangan bercakarnya membelai rambut putih tuanya. Gaya kemayu bak sang ratu zaman dulu. “Cah Ayu …,” panggilnya lirih, “kau terlalu banyak tahu urusanku. Tak semestinya manusia sepertimu ikut campur dengan para abdiku!” Gadis itu mundur, perlahan masih dengan posisi duduk. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tak terkecuali jantungnya yang berdebar kencang. Air matanya kering, tak lagi keluar. Matanya sudah sembap semenjak lima sosok kuntilanak mengejar. Gadis berambut hitam itu tak sengaja menabrak-lirihkan punggung pada pohon cengkih di belakangnya. 'Ini … aku tidak ikut campur! Sungguh! Aku tak tahu! Aku hanya … aku hanya berbicara atas apa yang aku lihat!' batin sang gadis. Mulutnya hanya setengah terbuka, menahan isak tangis. Berteriak maupun bersuara, tenggorokannya seolah tak mampu. “Benar,” ucap sang sosok bertubuh kuda. “Kau mencampuri urusanku dengan banyak bicara seperti itu. Mungkin, matamu akan jadi sesembahan terbaik dari abdiku. Heheheheh!” *** Rika, gadis berkerudung dengan postur tinggi itu memperhatikan sesosok gadis tak berhijab yang mana sibuk menulis di buku diary. Shauqina Azzahra adalah tulisan yang tertera pada name tag seragam OSIS si gadis. Jam dinding kelas menunjukkan pukul 09.10 WIB. Bel pertanda istirahat telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. 'Aku perhatikan sejak ia pindah ke sekolah ini, dia tak pernah bergaul ataupun banyak bicara pada teman sebaya. Ia hanya bicara jika ada tugas kelompok ataupun tugas kelas. Benar kata Dinar, dia terlalu pemalu untuk disebut pemalu. Namun, juga terlalu kejam jika Cindy sebut dia introver,' batin Rika. Gadis dengan bulu mata lentik dan pipi chubby itu melangkah mendekati Zahra—panggilan gadis itu. Baru lima meja Rika lewati untuk mendekati Zahra, gadis yang sedari tadi menulis di buku diary itu buka mulut, “jangan mendekat!” Intonasinya sedikit tinggi, membuat Rika membeku sejenak.  “Ke ... kenapa?” Tetap menatap diary di mejanya, Zahra enggan memandang lawan bicara. “Terserah kau mau apa, tapi jangan mendekatiku!” Rita, gadis yang semenjak tadi mengintip dari luar kelas, lekas menarik tangan Rika. “Uni! Ngapain sih, bicara sama cewek autis? Ayo ke kantin! Cindy sama Dinar nungguin.” Mendengar sebutan itu, Zahra tetap diam. Ia enggan menoleh. *** Tiga minggu kemudian …. Rika dan Rita, keduanya berada di bangku belakang taksi berwarna biru. Keduanya asyik mengobrol, membahas kejutan ulang tahun yang rombongannya siapkan. Sesekali, Rika menatap jendela. Hujan deras menjadi perhatiannya, sebelum taksi yang ia tumpangi mendadak berhenti. Jalur yang mereka lewati cukup sepi. “Ada apa, Pak?” Rita bertanya dengan raut sebal, turut memperhatikan jalan. “Enggak, Neng,” ujarnya kembali tancap gas, “mungkin saya salah lihat,” tambahnya. Baru beberapa detik, laju mobilnya lebih kencang dari sebelumnya, tak terkendali. Mimik sang sopir heran bercampur panik. “Loh, loh … ini kenapa?” “Pak, pelan aja!” seru Rika. “Loh, loh!” Sang sopir mencoba menginjak rem, tetapi upayanya sama sekali tak berarti. Rem blong. Kamu tak salah lihat, kok. Sesosok wanita berbaju hitam dengan cakar nan panjang, mencekik sopir secara perlahan. Ia tersenyum dengan mulut yang telah amburadul. Matanya putih penuh. Seketika munculnya sosok yang mendadak itu, mereka bertiga menjerit. Sang sopir membanting setir, membuat mobilnya terbalik menabrak lima kendaraan lain. *** “Rika!” Zahra terbangun saat adan Subuh menggema. Pukul 04.45 WIB. Yang ia ingat hanya kepingan mimpi buruk tentang kawan sekelasnya. Menatap jendela kamar, Zahra menarik napas dalam sembari duduk di dipan. 'Seminggu ini aku memimpikan dia dalam kecelakaan itu. Apakah … ini ada kaitannya dengan ….' Tok-tok-tok! “Nak, kamu kenapa?” Suara seseorang bertanya dari balik pintu kamar. Suaranya renta. “Ndak, Nek, Zahra ndak apa-apa,” jawabnya sembari menoleh ke pintu kayu cokelat.  “Subuhan dulu, Nak. Bangun!” Kembali merebahkan badan, Zahra mengambil ponsel genggamnya. “Iya, Nek.” *** Hujan deras mengguyur bumi sore itu. Para siswa serempak keluar saat bel pulang berdering. Mereka menuju satu tempat, gerbang keluar. Sebagian sibuk mengobrol dan sebagian nekat berlari keluar gerbang menuju halte bus. Dengan rambut yang basah, Zahra terdiam di halte. Ia menunduk, fokus pada telepon, hingga Rika dan Rita datang. Keduanya basah, bercampur dengan noda telur dan tepung.  Zahra yang semenjak tadi terdiam, sebelum aroma telur di seragam kedua temannya itu, menggelitiknya untuk menoleh. Sejenak, ia terpaku. Teringat jelas singkat gambaran mimpinya. Saat ia diam termenung, ponsel Rita berdering. Gadis itu menerima telepon dari kontak bernama Rudy. Wajahnya yang baru saja sebal melirik Zahra, kini kembali ceria. “Uni, sebentar ya?” ujarnya meminta izin sembari menjauh ke ujung halte. Melihat Rika mendekat, Zahra segera bangkit. Ia berhenti di samping kirinya, hendak berbisik, “Jika nanti dalam taksi si sopirmu mendadak bersikap aneh, pergilah. Jangan panik dan melompat keluarlah dari taksi saat ada yang aneh! Karena aku ….” Belum selesai berbicara, Zahra merasakan hawa dingin begitu pekat, menusuk d**a. Samar, wujud transparan dari siluet hitam muncul di samping kanan Rika. Ia bergegas menjauh. Menerjang hujan dan berdiri bersama beberapa kawan yang mengungsi di bawah naungan atap gerbang sekolah. Rika, hatinya berdebar, bulu romanya berdiri. Ia terkejut dengan apa yang Zahra ucapkan. Entah karena tak pernah berbicara akrab, atau karena hal yang disampaikannya patut dicamkan, ia merasakan sesuatu yang ganjil. “Uni! Itu taksi udah dateng! Ayo buruan!” Rita memecah lamunannya, membuatnya kembali tersadar dan turut memasuki mobil biru. Dari kejauhan, Zahra terdiam. Ia memandang nanar kepergian gadis kembar itu. Sosok hitam tadi melayang tepat di belakang mobil yang mereka tumpangi. Zahra bergegas menunduk, saat sosok itu menoleh lirih ke belakang, memutar kepalanya 180°, bak burung hantu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD