Sang Dukun Muda dan Tragedi Kereta

1108 Words
  Raihan, menarik napas dalam-dalam. Merasa pegal menjalar, ia bersandar di kursi kereta. Netra pemuda berjaket hitam memandang dua wanita yang tersenyum padanya. Tepatnya, dua sosok kuntilanak berdaster putih yang duduk di samping lelaki tua berbalut kemeja biru pada bangku seberang pemuda berblangkon coklat. Enggan memandang balik para wanita transparan, Raihan memalingkan wajah ke jendela kereta, melihat indahnya jalur kereta panorama Garut-Bandung. ‘Ajna. Seiring waktu, cakraku ini terbuka makin lebar. Bukan hanya merasakan keberadaan para makhluk gaib, aku juga bisa merasakan hampir semua makhluk yang berada beberapa ratus meter dari tempatku.’ Pemuda berblangkon, mengambil sebuah ponsel dari saku jaket, hendak memeriksa chat. 'Ngomong-ngomong kabar Roni dan Bayu bagaimana ya? Apa mereka sudah berhasil?' "Ke sini!" Seorang perempuan berkerudung putih, datang bersama sesosok lelaki berambut lebat. Mereka, duduk di sebelah pria tua di depan Raihan. Dua sosok kuntilanak di sana pun, pergi tanpa diminta. Mata si lelaki berambut lebat, melirik tajam beberapa detik wajah Raihan. Tatkala netra keduanya bertemu, mereka saling terdiam. "Nin, apa tak bisa tukar bangku?" ucap si lelaki berjaket biru gelap, memandang si gadis yang duduk perlahan memangku tas merah muda.   Gadis berkacamata dengan hidung mancung menoleh penuh cinta pada lelaki di sebelahnya. Sedikit gigi taring di deret kiri atas, tampak saat ia tersenyum pada lelakinya. "Memangnya, kenapa?" Tanyanya bingung. Raihan, sebentar mengamati wajah si perempuan. 'Bukan orang sunda, bukan orang jawa, sepertinya orang sebrang...' pikirnya. "Aku risih jika harus berdekatan dengan..." Belum ia selesai bicara sembari memandang lelaki berblangkon, pria itu lanjut berdengus. "Lupakan." Ia memejamkan mata sambil merebahkan punggung. Raihan turut berdengus kesal. Matanya masih memandang jendela. 'Dukun? Tak tahu diri bila dia sendiri punya parewangan,' batinnya. *** Beberapa jam berlalu. Raihan sesekali melirik muda-mudi yang begitu mesra. Si gadis berkacamata dengan kerudung, tertidur pulas di pundak lelaki berjaket biru. Wajahnya yang lebar dan mancung, mengingatkan Raihan pada seseorang. Hingga.... Brug! "Teteh! Teteh kenapa!" Perempuan berkerudung hitam dengan hidung mancung-tumpul, menghampiri wanita berambut panjang, berbadan gemuk dengan kemeja merah dan celana jeans. Ia ambruk di dekat kursi Raihan.   Lelaki berjaket hitam spontan bangkit. Tak seperti pria berjaket biru yang memandang tajam wanita tersebut. "Ke-kenapa?" Napas wanita berbaju merah mulai melemah. Ia hendak bicara. "Ra-racun..." Raihan yang lirih mendengar kalinat tersebut, spontan mengucap istighfar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, pada orang-orang yang berkerumun di tengah kereta yang melaju. "Air! Siapapun, tolong bawakan air putih! Atau kelapa jika ada!" Mata Raihan menajam, memandang wanita yang memejamkan kedua mata. ‘Pengaruh racun? Tapi kenapa ada unsur makhluk gaib pada badannya?’ *** Beberapa menit berlalu, si gadis berkerudung hitam hanya menangis saat wanita berbaju merah tak lagi bernapas. Denyut nadi wanita berbusana merah hilang bersama dekup jantung. Raihan menarik napas dalam, membenarkan blangkon. "Innalillahi wa innailaihi rojiun..." ucapnya lirih, melihat seperti kabut kecil yang keluar dari mulut si wanita. Embus napas terakhir. Para petugas kereta tiba bersama satpam berseragam hitam. Lima orang itu segera membopong jenazah tersebut. Gadis manis yang tadi bersama, kini menangis histeris mengikuti jasad sang wanita dari belakang. 'Racun?' Raihan, merogoh saku jaket, mencoba menelepon nomor Sang Mursyid. Tetapi, tiga panggilannya tak dijawab. Ia lantas memutuskan mengetik pesan. Tubuhnya ia rebahkan kembali ke kursi kereta. "Haaaaargh!" Belum lima menit berlalu, huru-hara terjadi di gerbong depan Raihan. Sosok wanita yang tadi ia kira meninggal, mendadak bangun dan berontak dari gendongan dua petugas satpam. Wanita itu mencakar dan mendorong para petugas kereta berseragam biru-muda. "Haaaaargh!" Mata sang perempuan berambut panjang membelalak, menyapu gerbong sekitar. Cepat-cepat, ia mencekik gadis yang mana tadi menangis histeris. Ia, memojokan si gadis ke kaca kereta. Dari puluhan penumpang, tak ada yang berani mendekat. Mungkin karena mata si wanita berambut panjang yang berubah jadi putih penuh, serta air liur yang menetes dari sela-sela gigi. "Semuanya, pindah ke gerbong lain!" Seseorang berseragam tentara bersenjatakan senapan laras panjang, membidik si wanita. Senapan di tangan bertipe SS2 V1. "Hey! Lepaskan dia! Atau kutembak!" Raihan berjalan menyusul ke belakang sang tentara. Tak seperti penumpang lain yang berhamburan pindah ke gerbong lain. Lelaki berjaket biru yang usai memindahkan kekasihnya ke gerbong lain, kini ikut berdiri di belakang si anggota TNI. Wajahnya tegang memperhatikan wanita berbusana merah. Lelaki berblangkon coklat berkomat-kamit membaca doa. Ia merogoh saku jaket. Dirinya terkejut dan berhenti ber-dzikir, saat lelaki berjaket biru lantang berkata, "dia bukan manusia lagi! Tembak saja!"   'Bukan manusia? Benar! Bukannya dia sudah... Meninggal, kan?' batin Raihan seraya menatap tajam si perempuan. Gadis yang tengah dicekik, makin pucat akibat sulit bernapas. Rontaannya tak mampu melepas cengkeraman kuat si wanita berbaju merah. Dor! Peluru melesat, merobek sedikit daging di kaki wanita berambut panjang. Sosok itu menoleh lirih ke arah tentara penembak. “Grraaaaaaaar!” Blaag! Ia, membanting si gadis berkerudung hitam ke tanah, lanjut melesat ke arah Raihan dan yang lain. “Grrraaaaaagh!” 'Ealah Gusti! dia berlari seperti tak tertembak sama sekali! Tapi aku tak merasakan adanya makhluk gaib lain di raganya! Apa lagi ini, Gusti!' Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Tiga peluru melesat merusak perut target. Sebagian usus, tampak menjuntai keluar dari posisi semestinya. Ironis, wanita kesetanan itu tak bergeming sama sekali. "Graaah!"    "Tembak kepalanya!" seru pria berjaket biru sembari melesat maju, menunduk dan melakukan tendangan dorong ke perut sasaran. Tep! Tetap tegap, sosok bermata putih itu menangkap kaki pria berjaket biru. Ia, memutar badan, melemparnya ke sebelah gadis yang tengah ditolong oleh penumpang lain. Wus!  Dor Dor Dor!    Timah panas, bersarang dan menghancurkan dahi sosok berbusana merah. "Graaaah!" Wanita itu, mengerang menutupi wajah.    Melihat lawannya terkena dampak, pria berambut lebat berpipi chuby, kembali bangkit. Mengayuh cepat kedua kaki demi  menyergap dari belakang. "Jin b******k! keluar kau!" Tep!    Si pria berjaket biru yang meringis kesakitan, menekan keras tengkuk beakang wanita berbaju merah. Bibirnya berkomat-kamit mulai membaca doa. Matanya tajam memandang target.    Sang TNI, kembali membidik. Ia berteriak, "hai! Kau! Apa yang kau lakukan! Minggir!"   "Graaaaah!" Si wanita berambut panjang, membalik badan dan kembali mengayunkan tangan guna mengempaskan pemuda berjaket biru gelap. Blag! Pria itu kembali terlempar, tersungkur kesakitan. “Huuugh!” Raihan si pemuda bejaket hitam, menaruh telapak tangan kirinya pada pundak kanan sang anggota TNI. Saat sang aparat menoleh, Raihan berkata, "Pak, tolong cek kantin kereta. Di meja bawah, ada botol hijau plastik yang telah terbuka. Kalau benar, masih ada bekas racun di sana yang digunakan pelaku untuk meracuni wanita itu," jelas Raihan.     Wanita berambut panjang dengan busana merah, kembali melaju ke arah Raihan. Mata putihnya melotot. ‘Wanita ini jadi seperti kerasukan karena racun?’ Sosok TNI dengan Name-tag Jono mengernyitkan kening. "Racun?"      Pria berblangkon mengangguk sekali. Ia lanjut melesat hendak menghantamkan tinju kanan pada jantung si wanita. Ia, menarik napas cepat lewat kedua hidung, lalu membaca sedikit doa. Saat jaraknya dirasa cukup dekat, Raihan menghantamkan bogem pada perut sasaran. Blaag!  Sekejap, wanita itu terlempar. Terguling, tak lagi bergerak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD