PC ~ Dua Wanita Dalam Ingatan

1578 Words
Keluar dari Pantry, Ivo mengajak Starla melihat ruang khusus untuk tamu, ruang untuk pertemuan dengan klien penting, dan ruang arsip kecil yang berisi berkas penting yang hanya boleh di ketahui oleh segelintir orang. Lantai teratas benar benar privasi, nyaman dan luas. Setiap ruangnya memiliki design yang berbeda namun hampir semuanya bertema modern. Selesai menunjukan beberapa ruang yang berada di lantai atas, mereka kembali ke awal mereka memulai tour singkat lantai atas RC Group, yaitu di depan pintu ruang Presdir. Adalah sebuah ruangan yang cukup luas, merupakan tempat bekerja untuk seorang Sekretaris. Di sana, ada sebuah meja berbentuk panjang dan sebuah kursi di baliknya. Dan juga sebuah rak buku yang berbentuk menyerupai aksara Yunani ke delapan, yang biasa di sebut Eta. Di atas meja ada sebuah komputer, ada beberapa map, sebuah buku berukuran besar dengan ketebalan yang tidak perlu di tanya, sebuah tempat pensil berupa cangkir tinggi berbahan keramik, dan sebuah iPad berlogo apel. "Ini, di sini tempat kerja kamu." Ivo menjelaskan. Dia mengambil iPad yang tergeletak di atas meja, lalu mengutak-atiknya sebentar. Setelah beberapa saat, Ivo menunjukan layar iPad nya kepada Starla. "Jam delapan pagi kamu harus sudah sampai di sini. Jam pulang tidak tentu, tergantung pekerjaan orang itu, " Ivo menunjuk ke ruang Presdir, "syukur syukur.. otak bos lancar, lurus, suasana hati baik, tanpa kendala agar pekerjaan selesai tepat waktu dan tidak mempersulit orang lain dengan kerja lembur." Mendengar jam pulang yang tidak menentu, meski Starla tidak terkejut, namun dia sedikit risau. Dia belum mengenal wilayah dan jalanan Jerman dengan baik. Mungkin untuk satu bulan ke depan, dia benar benar akan mengandalkan Bastian sepenuhnya. Dan itu sangat menjengkelkan. "Tapi kamu tenang saja, kalau lembur akan ada bonus tambahan yang akan di bayarkan bersama dengan gaji utama kamu nantinya. Biasanya, hitungannya per satu jam." Ivo berusaha menghibur saat melihat raut Starla sedikit murung. Starla mengulas senyum tipis. "Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan bonus." Mendapat tatapan tidak percaya dari Ivo, Starla menambahkan. "Serius." "Baiklah, aku percaya." Ivo menepuk bahu Starla beberapa kali seolah turut prihatin. "Untuk daftar pekerjaan bos, kamu harus mengatur urutannya dan di susun berdasarkan lokasi, jenis proyek, dan siapa yang harus di temui. Siapa yang akan bos temui, kamu harus memperhatikannya baik baik. Tidak boleh sembarang memasukan orang, tidak boleh sembarangan menerima tamu, apalagi WA-NI-TA. Kamu harus mengingatnya baik baik kalau wanita yang mengaku sebagai kekasih Bos, jangan di kasih masuk!" Starla menganggukan kepala. Dia mengerti. Bagaimanapun, Bos adalah seseorang yang anti dengan wanita. Jadi, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah para vampir penghisap uang itu masuk. "Kamu lihat, ini adalah nama orang orang yang masuk daftar hitam bos kita, hafalkan dan jangan sampai orang orang ini sembarangan masuk ke sini!" Ivo menggulir iPad untuk memperlihatkan blacklist orang orang yang tidak layak menemui Bos. Catatannya sangat lengkap dan terperinci. Mulai dari nama, nomor telepon, nama perusahaan, dan bla bla bla. "Iya iya, aku akan mengingatnya." Starla melirik sekilas daftar hitam yang Ivo tunjukan, lalu dia mengangguk cepat. "Satu lagi, schedule harus di kirim setiap jam delapan malam ke email Bos, Bos akan memeriksa daftar acara yang sudah kamu susun, dan kemudian dia akan memberikan arahan kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginan Bos, kamu harus menggantinya." "Iya, aku mengerti." "Juga-" "Astaga!" Starla memotong ucapan yang sudah hampir Ivo lontarkan. "Masih ada lagi? Sebenarnya berapa banyak yang harus aku ingat?" Menjadi Sekretaris, dia sudah pernah dan tidak bisa di katakan sebagai orang baru. Tapi, menjadi Sekretaris untuk seseorang dengan gangguan seksual, cukup menguras energi. Dan ini adalah pertama kalinya dia harus repot dari A sampai Z hanya untuk mengurusi satu orang saja. "Tentu saja masih banyak." Ivo kembali menggulir iPadnya. "Ini adalah daftar makanan yang tidak boleh bos makan." Dia menggulirnya lagi. "Ini adalah daftar makanan yang Bos suka." Dia menggulirnya lagi. "Ini adalah daftar merk pakaian, merk sepatu, merk jam tangan, dan merk dasi yang Bos kenakan." Dia menggulirnya lagi. "Ini adalah nama Restoran yang sering Bos datangi." Dia menggulirnya lagi. "Ini adalah-" "Stop!" Belum selesai Ivo berkata, Starla sudah merebut iPadnya. "Kamu tidak perlu menjelaskan! Penjelasan mu membuat telingaku sakit. Aku akan membaca dan mempelajarinya sendiri. Okey?" Ivo tersentak. Perempuan yang sangat berani, berani membuat masalah dengannya bahkan sebelum mulai kerja. Pikirnya. "Apa ada hal penting lainnya yang ingin kamu katakan?" Starla mengedipkan sebelah matanya dengan genit. "Haish." Ivo mendesis saat melihat Starla yang seperti itu. "Untuk saat ini.. tidak! Cukup itu saja. Semua yang harus kamu lakukan, sudah di catat lengkap di dalam iPad. Untuk sementara, kamu bisa duduk di sana, dan pelajari berkas untuk satu Minggu ke depan yang berada di rak teratas di belakang kursi kerjamu." Ivo menunjuk sebuah rak tempat berkas yang berada di belakang kursi Sekretaris. Mata Starla terpana dengan mulut menganga. Sebanyak itu? Gila! Benar benar gila! "Good luck!" Ivo menepuk bahu Starla secara perlahan sebelum akhirnya dia kembali ke ruangannya. Starla mengikuti arah kepergian Ivo sembari mengacungkan jari tengahnya. "f**k!" ---------• --• Semuanya.. Starla dan Ivo, tidak luput dari pengamatan Aero. Meja Sekretaris yang menghadap persis ruang kerjanya, di tambah kaca lebar yang terdapat pada sisi kanan pintu, memudahkan dirinya untuk memantau Sekretaris baru yang agaknya sedikit kasar. Aero menghela nafas panjang. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajah Starla tampak familiar. Tentu saja. Mungkin karena sebelumnya Starla adalah seorang model. Berdasarkan data lengkap yang tertulis pada berkas yang Arka kirim kepadanya, mengatakan kalau sebelum menjadi Sekretaris di RC Group Jakarta, Starla adalah seorang model ternama dengan jam terbang banyak. Anehnya, kenapa tiba tiba Starla tertarik untuk menjadi seorang Sekretaris? Pekerjaan yang tersembunyi dan khusus melayani seorang petinggi perusahaan? Seseorang yang biasanya di puja, di cintai banyak orang, bergelimang harta, terkenal, populer, kenapa memilih untuk mengambil profesi yang melelahkan? Berpikir sampai ke situ, dia tidak habis pikir. Tapi, jauh sebelum itu, Aero merasa pernah melihat sosok Starla di suatu tempat. Sebagai publik figur, tentu saja wajah Starla sering terpampang hampir di semua tempat, di seluruh penjuru kota. Seharusnya begitu, tapi Aero tidak melihat sosok itu di televisi, bukan di internet, bukan di tabloid, bukan di surat kabar, bukan di majalah, bukan di brosur, dan juga bukan di Billboard. Rasanya.. dia seperti pernah bertemu dengan wanita itu. Tapi dimana? Kapan? Ingatan Aero berputar tentang beberapa wanita yang pernah singgah dalam ingatannya. Tidak banyak. Hanya ada dua wanita yang sampai saat, hari, dan detik ini masih berputar di kepala. Pertama.. adalah seorang wanita yang menjadi pertama untuknya merasakan seks, dan yang kedua adalah wanita yang pernah menjadi tunangannya. Kedua wanita itu adalah figur yang dia sudah berusaha untuk melupakannya, tapi dia tidak mampu. Bahkan, saat ada banyak wanita yang mengejarnya.. nama Star dan nama Vania selalu berdengung di telinganya. Star? Vania? Astaga! Aero memijit pelan ruang di antara alisnya. Star adalah cerita lalu saat dia masih muda dan naif. Dia meniduri seorang gadis perawan di dalam mobil. Dia mengambil keuntungan saat membantu gadis itu. Merenggut kegadisannya kemudian gadis itu lenyap tak berbekas esok harinya. Seperti asap yang menguar di udara. Star pergi entah kemana, begitu saja, meninggalkan dirinya, tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa apapun yang bisa dia selidiki. Sedangkan Vania.. ah, sudahlah! Vania adalah tabu dalam hidupnya. Seseorang yang ingin dia ingat dan dia cintai di sepanjang usia, namun apalah daya saat takdir tidak mengizinkan mereka untuk bersama. --------• --• Starla mendengus kesal. Dia pikir, dia belum akan di pekerjaan hari ini. Tapi apa? Dia justru harus mempelajari berkas untuk satu Minggu ke depan agar dia bisa menyusun schedule dengan benar menurut saran dari Ivo si Cu Pat Kai. Adalah saran yang menyesatkan. Tidak ingin banyak mengeluh, Starla duduk di balik meja Sekretaris. Yang dia tau tentang pemilik meja ini yang sebelumnya adalah seorang gadis dari Negara yang sama dengannya. Tapi untuk nama dan identitas gadis itu, dia tidak mengetahuinya. Starla memakai kacamata bening yang di bawanya dari rumah, lalu membuka iPad yang sejak awal memang di sediakan untuk dirinya. Dia melihat lihat isinya dan mulai melafalkan semua yang perlu di lafalkan, seperti makanan favorit, tempat favorit, merk favorit, makanan yang tidak boleh di makan, menu makanan sehari hari, tempat yang tidak boleh di kunjungi, orang yang tidak di izinkan datang, dan orang yang harus di hindari. Mata Starla membulat saat mendapati sebuah nama yang dia rasa cukup familiar. Luviana Santos? Dahi Starla menyernyit. Luviana Santos, Luviana Santos, Luviana Santos.. dia melafalkan nama itu sampai tiga kali. Merasa belum ingat apapun, dia membuka rincian tentang orang yang di maksud. Benar saja, setelah melihat gambar Luviana Santos, Starla baru ingat kalau ini adalah jalang kecil yang belum tumbuh besar. Dulu.. saat dia masih menjadi model, jalang kecil ini adalah saingannya untuk produk kecantikan yang melejit di Paris. Dia yang di daulat untuk menjadi duta produk kecantikan itu berjalan tidak mulus karena kecurangan Luviana. Starla mencoba memaklumi itu karena usia Luviana saat itu belum dewasa. Usia gadis itu masih belasan. Namun, akal liciknya seperti usia kepala tiga. Benar benar licik dan menjengkelkan. Berulang kali pemotretannya gagal karena ulah Luviana. Starla yang saat itu tidak memiliki back up di belakangnya, hanya bisa mengutuk Luviana di dalam hati. Sementara Luviana yang anak Sultan, selalu menggunakan nama orang tua untuk menindas dirinya. Dendam itu masih menyala di dalam hati Starla. Seperti kebenciannya terhadap Aero, semakin hari semakin besar saja. Tetapi, kalau gadis itu masuk daftar hitam Aero, berarti gadis itu bermasalah dan mungkin saja ada sesuatu antara Aero dan Luviana. Berpikir tentang ini, Starla menjadi sangat senang. Ada kemungkinan Luviana akan datang ke sini suatu hari nanti. Dan saat itu tiba.. dia akan membuat Luviana merasakan apa yang dia rasakan dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD