Chapter 07: Kenapa oh kenapa?
Lelaki berpakaian serba hitam itu memasuki kelas sepuluh sosial dua. Wajah dan senyumnya yang khas seketika menghentikan kegiatan absurd bak pasar malam di kelas ini.
Semua murid duduk kembali dibangkunya masing-masing.
Termasuk Hana dan Joel yang baru datang bersamaan dengan orang itu. Mereka kembali duduk di bangku urutan ketiga dari depan.
Sebenarnya Joel sedikit tegang masuk ke kelas, apalagi sebelumnya keadaan sedikit panas, bukan gara-gara Hana tapi gara-gara temen lelaki Hana yang menatapnya tajam terus-terusan.
Joel sempat berpikir bahwa lelaki itu psikopat dan akan membunuh Joel sore ini. Tatapan lelaki yang kerap kali dipanggil Ical oleh Hana dan temannya itu cukup mengerikan soalnya. Sampai nasi uduk yang Joel makan rasanya menjadi pahit enggak enak gimana gitu.
Untungnya temen Hana yang bernama Imma lebih friendly, yah seenggaknya Joel cuman agak terganggu dengan lelaki bernama asli Ical itu saja.
"Atos ngadoa?" tanya lelaki tadi dengan bahasa Sunda. Tentu saja itu bukan faktor rebo nyunda—karena sekarang kamis bukan rabu—lelaki bernama Pak Rahmat itu adalah guru bahasa Sunda dia pasti akan berbicara bahada sunda walaupun enggak diminta.
"TEU ACAN PAAKK," sahut seluruh warga kelas dengan kompak, eh enggak seluruh sih. Nyatanya Joel enggak menyahut. Lelaki berkulit putih berwajah ikemen atau pria tampan dalam bahasa Jepang itu malah diam kaya orang lagi cipirit, otaknya berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh guru dan temen-temennya. Dia enggak mengerti, suer deh.
Hana? Seharusnya Joel jangan menaruh harapan pada gadis itu, dia enggak membantu apapun. Manusia itu malah sibuk mengabsen warga kelas—tentu saja karena Hana adalah seksi absensi di kelasnya yang sempat telat mengabsen.
"Sok atuh ngadoa heula," kata pak Rahmat pada akhirnya.
"Sa teu acan urang diajar," anak lelaki yang duduk didepan Joel itu bersuara. Memberikan komando agar berdoa bersama-sama. "hayu urang ngadoa sasareungan, sesuai jeung kepercayaanna masing-masing. Ngadoa dikawitan,” kata anak bernama Faruq itu.
Semua kepala tertunduk, bahkan Joel yang enggak mengerti saja ikut menundukkan kepalanya. Ikut-ikutan, biasa. Tuturut munding tea.
Tiba-tiba saja, "OH WOOH, OH WOOH, OH WOOH, OH WOOH, OH WOOH, OH WOOH. KUN ANTA TAZDADA JAMALAA." Reza, anak lelaki yang berada disamping Faruq menyanyikan potongan lirik dari lagu Kun Anta sambil mengangguk-angukkan kepalanya. Ya mending aja kalo suaranya ga keras, ini mah keras banget. Mana fales lagi.
"Ya ampun Reza!" Hana yang duduk dibelakang Reza berseru. Membuat seluruh mata langsung menatap Reza.
Tapi Reza tak kunjung sadar. "OH WOOH, OH WOOH, OH WOOH, OH WOO—" sampai akhirnya Faruq mencabut earphone yang bertengger di telinga temen sebangkunya.
"Lain Oh wooh za, ngadoa!" kata Faruq dengan nada khas dirinya yang lawak itu.
Jelas seja gelak tawa enggak bisa dihindari lagi di kelas sosial dua ini. Pak Rahmat saja tertawa—walaupun enggak sekeras tawa murid-muridnya.
Malu berat, itulah yang Joel pikiran tentang reza. Sayang, bibirnya enggak bisa berhenti mentertawakan temennya. Reza terlalu konyol sih dan Joel terlalu receh.
"Geus heup, hayu ngadoa. Ngadoa dikawitan.” Barulah setelah Pak Rahmat berucap begitu, tawa anak-anak didiknya mereda.
Selesai berdoa, seperti biasa Hana menyerahkan buku abensi ke Pak Rahmat untuk ditandatangani, lalu duduk kembali disamping Joel.
"Hana," Joel berbisik pelan. "aku enggak ngerti dari tadi guru itu ngomong apa."
Hana menolehkan kepalanyadan menjawab "Ini bahasa Sunda."
"Sudan?"
"Sunda El." Perasaan enggak enak juga Hana manggil Joel pake sebutan El, berasa manggil anaknya Ahmad Dhani. Canda Ahmad Dhani, canda.
"Ohh Sunda, kenapa aku tidak mengerti ya?" kata Joel dengan nada yang aneh serta yah pilihan katanya enggak umum.
Em sepertinya Ibunya enggak mengajari Joel bahasa Sunda karena yah sampai sekarang Hana merasa bahasa Sunda itu susah, terutama untuk kata yang halus.
Hana mau menjawab akan tetapi Pa Rahmat sudah berkata duluan. "Di kelas ieu aya murid anyar?"
Jelas anak-anak kompak menjawab. "AYA PAKK!" berharap Joel akan berkenalan lagi dan ngobrol-ngobrol dengan Pak Rahmat. Jadi kan enggak belajar hahaha!
"Oh berati can di tes ngadongeng nya?" tanya Pak Rahmat lagi. Emang dua minggu kemarin dan minggu ini adalah minggunya mendongeng. Bisa baca ataupun enggak yang penting menghayati.
Anak-anak menyahut lagi. "TEU ACAN PAA!"
"Murid baru, cung geura?" kata Pak Rahmat menyuruh agar Joel mengangkat tangannya. Tapi Joel malah cengo, menatap bingung sekitar yang malah melihatnya.
"Joel, hands up," bisik Hana pelan. "ini perintah Pak Rahmat." Baru lah Joel mengangkat tangannya.
"Oh eta nya? Dieu kasep, ka hareup heula sakedeung." Pak Rahmat melambaikan tangannya.
Joel menatap Hana meminta terjemahan. Untungnya Hana kali ini lebih peka. "Kamu disuruh ke depan."
"Untuk apa?"
"Perkenalan Joel," jawab Faruq selaku ketua kelas yang gemes sama Joel yang selalu nanya kaya Dora sama Hana. Untung Joel anak pindahan, jadi kalopun banyak nanya enggak bakal ditabok sama Hana.
Joel mengangguk lalu berdiri, dia berjalan kedepan kelas dengan wajah bingung. Bahasa Indonesia buat dia sih bukan masalah, bahasa Sunda mah masalah besar! Joel ga ngerti apa-apa. Ini bahkan lebih parah dari pertama kalinya Joel bertemu dengan orangtua Hana.
"Ya Pak, ada apa? Maaf kalo boleh Bapak jangan bicara dengan bahasa Sudan—eh Sunda!"
Anak-anak mulai ngakak karena sekarang Joel mirip banget sama orang b**o. Masa sunda jadi sudan sih? Ga jauh sih tapi atuh lah, ga jadi sudan juga.
Pa Rahmat menganggukkan kepalanya paham. Bukan hanya Joel sih yang bermasalah seperti ini, murid lain juga banyak yang seperti Joel, terutama murid yang termasuk dalam golongan warga negara asing. "Sri dieu heula," Pak Rahmat memanggil salah satu anak yang cukup jago berbahasa Sunda. "nanti transletin ya kalo ada yang dia enggak ngerti. Bantu ya Sri?"
"Ohh muhun pak."
Joel mengerucutkan bibirnya sebal. Kenapa harus Sri? Kenapa bukan Hana saja? Jujur saja Joel termasuk orang yang males diganjenin cewek, kalo bisa sih dia enggak mau menjalin pertemenan dengan cewek manapun lagi kecuali Hana. Karena pasti cewek-cewek itu ngedeketin dia buat modus. Padahal ga semua gitu ya. Souzon aja si Joel mah.
Pak Rahmat menatap Joel lagi, dia berkata. "Nami anjeun saha? Pindahan ti mana?"
"Nami?" Joel memiringkan kepalanya bingung. Joel berusaha mencocokan kata tersebut dengan kata yang dia tahu, tapi enggak ada yang sekiranya cocok. "nami? Namida? Ah apaan?" Joel mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Nama Joel," bisik Sri. "sama pindahan darimana?"
"Ohh, nama saya Jeon Joel, pindahan dari Korea Selatan," kata Joel.
Pa Rahmat senyum sambil ngebatin, 'aduh b***k ieu mah parah pisan teu ngarti na teh, kudu di kumaha keun atuh nya? Jabaning kedeung deui ulangan semesteran.’
Beneran ini mah Pa Rahmat mau nangis aja, baru kali ini dia menemukan anak yang arti nami aja enggak tau. Berati parah banget kan pengetahuanya tentang bahasa Sunda. Mana nilai praktek belum. Nanti gimana kalo Joel enggak bisa naik kelas gara-gara bahasa sundanya jelek?
Iya sih, salah juga kenapa Joel masuk dua bulan sebelum ulangan kenaikan kelas. Walaupun yah saat test 3 hari hasilnya melebihi espektasi sehingga para guru yakin Joel dapat mengantongi nilai 90 keatas. Tapi di test itu enggak ada muatan lokal alias bahasa Sunda, cuman ada mata pelajaran wajib sama peminatan.
Hanya saja kasian juga kalo nilai Joel menjadi jelek karena bahasa Sunda. Para guru sering memuji kepintaran Joel ketika tes sesudah tes sampai dengan detik ini, belum lagi Joel punya ketampanan dan fisik yang luar biasa. Pak Rahmat jadi enggak enak kalau harus menyamakan Joel dengan murid lain, kemampuannya ga sama. Tapi kalo dibedakan, enggak adil namanya. Kumaha atuh? Sebagai guru bahasa Sunda Pak Rahmat galau.
Ah iya, dia menemukan ide untuk nilai tugas praktek Joel. Pa Rahmat menyerahkan selembar kertas berisi cerita dongeng. "Coba baca ieu, kasep."
"Hah? Ini mah bukan kaset pa," ujar Joel tapi tetep menerima kertas itu.
Jelas saja ucapan polos Joel membuat anak-anak lain tertawa. "HAHAHAH KASEP JOEL, LAIN KASET!"
"ADUH ETA CEULI AJA t*i GAJAHAN KITU? WAKAKAKAK!"
"STOP GUYS, JOEL ITU GANTENG!"
"IYA GANGUAN TELINGA WAHAHAH!"
Sementara anak kelas rata-rata mentertawakannya Joel hanya bisa menutup wajahnya yang memerah dengan kertas itu karena malu banget banget. Ya kan ga salah ya, Joel kira kasep itu sama aja kaya kaset.
"Heup atuh barudak," intrupsi Pak Rahmat dan anak-anak langsung mingkem alias menutup mulutnya, kembali duduk tegak. Heuh pencitraan memang kalian teh barudak. Pa Rahmat kini menatap Joel. "nah Joel, cik geura baca ceritana."
Joel mengkerutkan dahinya bingung melihat kata-kata yang mirip bahasa Korea tapi bukan. Ah pusing amat lah! Cuman baca kan? Dia lalu mulai membaca tulisan dongeng di kertas tersebut.
"S-sakang kuya ngajien suling."
Kedengerannya emang agak aneh sih, apalagi cara pengucapannya. Dan sebisa mungkin Hana dan anak-anak lain enggak mentertawakannya. "Lanjut," titah pa Rahmat.
Joel mengangguk. Menatap leboh cermat kertas tersebut. "Sakang, oh sakadang. Sakadang kuya manggih tulang maung ti leuweung. Ceuk pikirna alus lamun
dijieun suling. Ngan kusabab menehna mah teu bisaeun ngaliangan, kapaksa menta
tulung ka sakadang bangbara. Sanggeus diliangan tulang maung teh bisa ditiup."
Tuh kan langsung lancar, walaupun sebenernya dia sendiri ga ngerti dia baca apaan. Cuman bisa menangkap kuya, suling, ditiup.
Joel menoleh ke pak Rahmat. "Pak, ini bilangnya gimana?" tanya Joel sembari menunjukan paragraf berisi percakapan monolog si kuya.
Pak Rahmat menoleh. "Itu di nyanyiin. Gini nih Tret trot tret trot, suling aing tulang maung, diliangan ku bangbara, torotot heong~"
Joel mengusap wajahnya. Harus dinyanyikan? Mana nadanya aneh banget. Aaa ga mau. Ingin minggat ke pluto aja rasanya.
Untung saja disaat itu, Pak Yopi kembali datang ke kelas. "Assalamualaikum pak, bisa di pinjem dulu Joel sama Hana nya sebentar ke ruang guru?"
"Ohh muhun pak," balas Pak Rahmat ramah barijeung bingung ini si Joel urusannya gimana?
Joel jelas mengangguk semangat. "Iya Pak." seneng dia mah, jadi ga harus baca cerita aneh itu lagi.
Sementara Hana menunjukan wajah bingung, walaupun yah tetap menghampiri Pak Yopi. "Kok saya di panggil sih? Bukan masalah absen kan?"
"Bukan, ini masalah Joel. Kan walinya Joel nitipin Joel ke kamu kan Han?" kata pak Yopi.
Hana mengangguk polos. Yah cuman nitip kan? Semoga aja temen sekelasnya enggak curiga.
"Dispen nih?"
"Iya anggap aja dispen Han."
"Oke oke."
Semoga temen sekelasnya enggak curiga.
Cuman, kita kan enggak akan pernah tahu apa yang dipikirin orang lain tentang kita.
"Ji," Siti berbisik pada Jihan. "kayanya Hana punya hubungan khusus sama Joel, urang curiga gitu."
Jihan mengangguk, temen segengnya ikutan nimbung tanpa memperdulikan penjelasan pak Rahmat tentang dongeng di depan. Dari awal emang kedatangan Joel terlalu mencurigakan warga kelas, terutama kaum hawa. Apalagi Joel deket banget sama Hana, keliatan beda banget mereka tuh.
Sebenernya Joel ada hubungan apa sih sama Hana? Dan kenapa harus Hana?