Baju sweater warna biru langit dan celana jins serta dipadukan tas samping dan sepatu converse sudah menjadi gaya Lili jika ingin bepergian dengan teman-temannya. Dengan gaya kasual itu, Lili kini duduk di kursi panjang di depan toserbanya. Sementara Arya sudah berjaga di dalam.
Mata gadis berambut sebahu itu bergantian menatap jalan dan ponselnya yang memperlihatkan roomchat-nya dengan Lesli. Sesekali ia tersenyum ramah ketika pembeli datang. Dia menggerutu kesal melihat status Lesli yang offline sejak dua puluh menit yang lalu. Seandainya, cewek itu berangkat sejak dua puluh menit yang lalu, pasti dia sudah tiba sejak tadi. Dari rumah Lesli ke toserbanya hanya memakan waktu sepuluh menit.
Kening Lili mengernyit heran ketika melihat dua motor muncul dari kejauhan dengan lampu sent kiri yang menyala. Dua motor itu singgah tepat di depan Lili.
“Lo ikut juga?” tanya Lili dengan wajah muak ketika Kevan membuka helm-nya.
“Iya, dong! Kapan lagi gue terima undangan makan gratis.”
Lili memutar bola matanya, “Gue nggak nyangka Keano serius ngajak lo juga.”
“Udah nggak usah nyerocos lagi, deh! Capek gue dengernya. Nih, lo pake.” Lesli menengahi mereka dan memberi helm pada Lili.
Lili menerima helm yang diberi Lesli. “Btw, lo, kok, lama banget? Membatu gue nungguin lo.”
“Nih, tadi si Kevan tiba-tiba nelpon gue, bilang kita berangkat bareng-bareng aja, soalnya udah senja juga.”
“Njir, sok gentleman banget lo,” ejek Lili.
“Dih, gue Cuma nurutin amanah dari Ke——“
“Udah, udah! Lo berdua bisa nggak, sih, tahan emosi sekali aja kalau ketemu? Gue yang naik darah denger suara kalian!” potong Lesli, menyalakan klaksonnya.
Lili buru-buru naik. Sebelum Lesli mengeluarkan kata-kata yang lebih pedas, dia lebih baik bungkam duluan. Ia melambaikan tangannya pada Arya yang tengah melayani pembeli.
***
Lili menatap restoran berlantai dua itu dengan tatapan kagum. Bangunan bergaya modern dan didominasi dengan warna cokelat serta lampu-lampu LED yang digantung dengan apik mendadak membuatnya berpikir ingin membuka usaha restoran juga. Namun, langsung ditampik mentah-mentah.
Ia tersenyum lebar ketika Keano muncul dari dalam. Sama seperti Lili, gaya berpakaian Keano juga terlihat kasual. Hanya celana jins hitam, dengan baju kaos hitam. Luarannya kemeja tanpa dikancing dengan motif kotak-kotak putih.
“Hai,” sapa Keano tersenyum kaku.
“Hai,” balas Lili tersenyum lebar.
“Hei, Bro! Sering-sering, ya. ‘Kan, enak kalau terima asupan gratis gini,” ujar Kevan yang baru saja muncul dan memeluk leher Keano.
“Apaan, sih, lo.” Keano menyingkirkan tangan Kevan.
“Jadi, kita ditraktir gini karena Lili udah nyiram lo pake kuah bakso panas, ya,” celetuk Lesli tersenyum geli.
Keano tergelak pelan. “Gue cuma mau berterima kasih, kok, karena Lili udah repot-repot beliin gue salep. Padahal, dia nggak sengaja numpahin kuah bakso itu dan udah minta maaf pula.”
“Gak usah dijelasin terperinci gitu, No. Niat lo traktir kita bukan karena itu, ‘kan?” goda Kevan.
Lili dan Lesli saling pandang dengan bingung.
Keano mempelototi Kevan yang sudah cengar-cengir puas dan buru-buru mengajak ketiganya ke dalam sebelum dua cewek itu bertanya.
Di luar saja keren, apalagi bagian dalamnya, batin Lili berteriak kagum.
Lili bukanlah orang yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan baik. Baginya, restoran milik keluarga Keano sepertinya sudah bisa dikategorikan dalam restoran bintang lima.
Baru saja mereka duduk, beberapa pelayan sudah datang membawakan mereka menu yang sudah disiapkan Keano.
“Wih, ini, ‘kan, menu baru, No!” seru Kevan antusias menatap makanan dan minuman yang ditata dengan rapi di meja.
“Kok, lo tahu?”
“Ya, iyalah! Gue lihat Papa gue buat ini pas lagi bereksperimen di dapur rumah.”
“Oh, ya? Lo udah nyicip masakan Papa lo waktu itu?”
“Nggak, Papa nggak mau ngasih gue,” ujar Kevan cemberut namun sedetik kemudian wajahnya berubah ceria, “tapi, nggak apa-apa, menu baru ini udah ada di depan gue sekarang!”
Lesli dan Lili tersenyum geli mendengarnya. Kevan cukup miris untuk jadi anak chef restoran mewah. Mau cicip resep baru ayah sendiri saja tidak bisa. Bayangkan kalau Keano tidak mentraktir mereka, Kevan harus membeli sendiri untuk merasakan menu baru ciptaan ayahnya.
“Keren lo, No. Kalau traktiran makanannya nggak maen-maen. Sumpah enak banget! Eh, by the way, gue kira menu baru itu biasanya mahal, ya?”
Lili dan Lesli saling pandang dengan raut tak enak. Padahal sendok makan baru saja ingin mendarat ke mulut mereka. Perkataan Kevan lantas membuat keduanya tak nyaman. Seolah-olah bermakna bahwa mereka telah merepotkan Keano dengan mentraktir mereka makanan yang mahal.
Menyadari itu Keano langsung menginjak kaki Kevan. “Nggak usah dengerin omongannya. Nikmatin aja, ya. Gue, ‘kan, yang mau traktir kalian. Kalau ada menu baru, kenapa gue harus nawarin kalian yang biasa-biasa aja? Lagipula itung-itung kalian bisa nyobain menu baru ini, kalau ada kenalan, bisa nawarin menu baru ini, ya, ‘kan?” Keano tersenyum ramah.
“Ah, iya, No. Gue nggak berpikiran kayak gitu, kok. Gue nggak nyaman gini karena Kevan aja yang nyerocos dari tadi. Gue nggak bisa makan dengan tenang gara-gara dia,” ujar Lili menatap Kevan kesal.
Keano sempat terpaku sejenak. Namun sejurus kemudian, tawanya mengudara. Dia ternyata salah paham mengira Lili tak nyaman dengan perkataan Kevan, nyatanya cuma terganggu karena cerocosan Kevan. Matanya lalu beralih pada Lesli. Cewek itu makan sembari menunduk dalam. Dia tengah menahan malu karena punya teman tidak tahu malu.
“Halo, semuanya. Wah, kalian menikmati menu barunya, ‘kan?”
Keempat orang yang tenggelam dalam kenikmatan menu baru mendongak, menatap pria paruh baya yang mendekati meja mereka dengan setelan rapi.
“Oh, Papa? Lili, Lesli, kenalin ini Papa gue.”
“Halo, Om,” sapa Lili dan Lesli bersamaan.
“Halo. Jadi, yang mana namanya Lili?”
Lili mengangkat alis bingung dan menunjuk dirinya sendiri. “Saya, Om.”
“Oh, jadi kamu, ya, yang namanya Lili.”
Lili tersenyum kikuk. Apa ayah Keano tahu kalau dia sudah mencelakakan Keano?
“Gadis yang manis. Kamu menikmati makanannya?”
“Hah? Ah ... i-iya, Om. Saya menikmati makanannya.”
“Halo, Om!” suara itu membuat semuanya menoleh.
Kana muncul dan melangkah dengan anggun ke arah mereka. Gadis itu memakai baju rajut yang dipadukan dengan rok pendek hitam melewati lutut, memamerkan kaki jenjangnya yang putih bersih. Tas samping dan sepatu converse pink muda yang membungkus kakinya makin menonjolkan gaya feminimnya.
Sayang sekali, sifatnya nggak se-feminim gayanya, batin Lili dengan wajah lempeng.
“Oh, hai, Kana. Apa kabar, Nak?”
“Baik, Om. Eh, kalian pada di sini, ya?” ujar gadis itu tersenyum kecil, “oh, iya, Tante mana, Om?”
“Oh, lagi keluar kota. Cabang butiknya besok akan diresmikan jadi dia pergi hari ini.”
“Ah, iya.”
“Iya. Kalau begitu, saya tinggal kalian, ya. Selamat menikmati!” pamit ayah Keano lalu naik ke bagian lantai dua.
“Eh, gue bisa gabung, nggak?” tanya Kana dengan senyum lebar. Namun, Lili tahu pasti, itu hanyalah senyum yang dibuat-buat.
“Boleh, Kana.” Keano menjawab.
Kana mengambil satu kursi kosong dan memindahkannya di antara kursi Lili dan Keano lalu duduk di sana. Semua orang menatapnya dengan wajah heran.
“Kenapa?” Kana melihat sekelilingnya dengan wajah polos.
Semuanya menggeleng pelan dan melanjutkan makan mereka.
“By the way, ada apa, nih, sampai kalian makan bareng di sini?”
“Gue lagi traktiran.” Keano menyahut cuek.
“Oh, ya? Dalam rangka apa?”
“Bacot banget lo. Kalau mau gabung, gabung aja. Kalau mau makan, makan aja. Nggak usah banyak nanya,” celetuk Kevan.
Baru kali ini Lili salut sama kata-kata musuh bebuyutannya itu. Ada rasa puas ketika meliirik wajah pias Kana.
Tring, tring, tring!
Suara itu berasal dari dalam tas Kana. Gadis itu buru-buru menyelesaikan makannya dan mengambil benda yang menjadi sumber suara itu.
Lili melirik layar ponsel Kana yang menyala.
Alarm? Papi datang?
Lili membatin. Rasa keponya meningkat ketika Kana buru-buru menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas dan beranjak dari kursi.
“Gue gak jadi gabung. Keano, gue duluan, ya!”
“Lo mau ke mana? Kok, tiba-tiba?”
“Papi datang.” Tanpa menunggu respons dari Keano, gadis itu berlari keluar dari restoran.
“Akhirnya pergi juga,” seloroh Kevan lega. Ia bersandar ke belakang, mengelus perutnya yang terasa penuh. “Kok, lo betah temenan sama cewek ganas itu, sih, No?”
“Nggak tahu aja. Udah terbiasa gue. Lagipula dia sebenarnya baik, kok,” ujar Keano, “kalau sama gue,” lanjutnya kemudian.
“Iya, kalau sama lo. Sama gue? Mendadak berubah jadi kembarannya gorilla.”Kevan bergidik pelan. “Eh, omong-omong, Lili juga bakal temenan sama lo, deh.”
“Kenapa?” tanya Keano dan Lili bersamaan.
“Kana dan Lili sama-sama ganas soalnya, hahaha!” ujar Kevan lalu terbahak.
“Enak aja lo samain gue dengan cewek itu!” Lili menggerutu dan memukul lengan Kevan.
“Menurut lo gimana, Les?” tanya Kevan meminta pendapat Lesli yang masih asyik makan.
“Gue? Kenapa?”
“Lili sama ganasnya dengan Kana, ‘kan?”
Lesli terlihat berpikir sejenak. “Nggak tahu, ogah gue ikut campur sama keributan lo berdua,” ucapnya cuek dan melanjutkan makannya.
Sementara Lili dan Kevan masih adu congor, Keano mengamati wajah Lili dan tersenyum kecil.
Bukan temenan, Van. Gue bakal jadiin dia lebih dari temen, batinnya dengan penuh tekad.