Lili mengecek jam tangan warna hitam yang melingkar di pergelangan mungilnya saat sampai di halte yang masih sepi. Giginya menggigit bibir bawahnya dengan raut tidak sabar seolah ia sudah terlambat untuk sampai ke sekolah. Kenyataannya baru pukul setengah tujuh pagi. Matanya berbinar lega ketika melihat bus dari kejauhan. Bahkan isi bus pun masih terlihat sepi.
Ia segera naik sembari tersenyum kecil pada sopir bus. Namun, saat sampai di dalam bus, ia melongo tak percaya. Di bagian belakang bus, sudah ada Keano yang duduk rapi sembari menatapnya dengan senyum ramah. Pemuda itu terlihat makin manis ketika matanya menyipit karena tersenyum.
Lili menahan desisan keluar dari mulutnya. Niatnya ingin menghindar dari pandangan Keano hari ini justru mengalami kegagalan dalam sekali percobaan. Lili bahkan tak tahu Keano berangkat sepagi ini.
Lamunan gadis itu hancur ketika bus mulai berjalan. Ia terhuyung-huyung hingga hampir terjatuh kalau saja tak berpegangan pada kursi bus. Ia lalu menatap Keano yang menahan tawa.
“Aish, Lili! Lo malu-maluin banget!” gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Ia buru-buru berdiri tegak dan tersenyum kikuk pada Keano yang masih memperhatikannya.
“Sini,” panggil Keano sembari menepuk kursi kosong di sebelahnya.
“Ya?
Keano mengulangi kodenya agar Lili duduk di sampingnya.
“Ah, o-oke,” sahut Lili lalu mendekati pemuda itu. Ia lalu duduk di samping Keano sambil melihat ke arah lain. Image-nya pasti sudah rusak di mata Keano.
“Gue nggak nyangka lo bakal berangkat sekolah sepagi ini,” ujar Keano.
“Ya? Ohahaha, iya. Gue juga nggak nyangka lo bakal berangkat sepagi ini,” balas Lili tertawa kaku.
“Gue suka udara pagi di jam segini, masih segar. Lo sendiri? Kenapa berangkat pagi? Ada jadwal bersih-bersih kelas?”
Bukan, No, gue berangkat pagi pengen ngehindarin lo, batin Lili tak berani meneruskan hingga ke mulut.
“Ah, iya. Gue ada jadwal bersih-bersih di kelas ... jadi harus berangkat pagi,” jawab Lili kikuk.
Keano mengangguk-angguk pelan. Pemuda itu membuang pandangannya ke luar jendela, menikmati udara pagi. Lili memperhatikan wajah pemuda itu dari samping. Rahang pemuda itu terlihat makin tegas karena ia menoleh. Diam-diam, Lili tersenyum kecil. Tak menyangka laki-laki seperti Keano menyatakan perasaan melalui deretan angka-angka.
“Keano ....”
“Ya?” Keano mengalihkan pandangannya pada Lili.
“Soal surat lo kemarin ... gue butuh waktu untuk memikirkannya. Lo tahu, 'kan, kita baru aja kenal. Rasanya aneh aja kalau gue langsung terima tanpa kenali lo lebih dulu,” terang Lili.
Keano terdiam sejenak dan tersenyum kecil. “Itu bukan makna lain dari penolakan, 'kan?”
“Bu-bukan!” Lili buru-buru menggeleng. Namun, ketika melihat senyum Keano yang makin lebar membuatnya sadar telah memakan umpan Keano. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari menggigit bibir malu.
“Gue lega dengernya. Oke, gue nggak apa-apa, kok, disuruh nunggu. Sambil nunggu, gue juga bakal berusaha kenali lo lebih jauh,” ujar Keano akhirnya.
Lili menatap pemuda itu dan tersenyum samar. “Makasih, Keano.”
Bus akhirnya berhenti di depan halte dekat sekolah. Percakapannya dengan Keano membuat Lili tak sadar waktu. Keduanya segera turun setelah membayar. Lili melangkahkan kakinya lebar-lebar agar berjauhan dengan Keano, tapi pemuda itu justru menyusulnya.
“Kenapa nggak mau jalan bareng gue?” tanya Keano.
“Nggak boleh! Nanti ketahuan!” ujar Lili berusaha jaga jarak.
“Ketahuan apa?”
“Lagi de— ah, lo pasti ngerti, kok. Gue duluan, ya!” ujar Lili sebelum akhirnya berlari menuju gerbang sekolah.
Keano menghentikan langkah dan menatap gadis itu speechless. “Wah, kayaknya nggak salah lagi.”
???
Hiruk pikuk memenuhi seisi kantin. Lili menarik beberapa tisu dan melipatnya untuk dipakai mengipasi wajah. Ia menatap Lesli yang tengah sibuk mengantre untuk makan siang mereka berdua.
“Ah, masih lama,” gumamnya mengeluh. Biji-biji keringat yang mengalir di bajinya membuat tangannya menarik tisu lagi dengan kesal
“Gue ikut makan di sini, ya?”
Lili mengangkat kepalanya menatap Kevan yang selalu memasang wajah tengil jika berhadapan dengannya. “Ah, k*****t! Lo lagi. Masih banyak meja yang kosong, kenapa harus di sini? Gue lagi kepanasan ini, jangan bikin darah gue mendidih!”
“Kalau gue boleh di sini?” Keano muncul dari belakang Kevan.
“Keano?” Lili terperangah.
“Hm, ini gue,” ujar Keano santai lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Lili. “Gue diizinin duduk di sini, 'kan?”
Lili mengangguk sembari tersenyum kikuk.
“Cih, giliran Keano langsung nurut aja,” gumam Kevan lalu segera duduk di samping Keano, “karena gue sama Keano sepaket, di mana dia duduk, di situ juga gue duduk,” ujar Kevan tertawa.
Lili memutar bola matanya, “Awas aja lo,” desisnya mengipasi wajahnya. “Kamu nggak pesan?” tanyanya pada Keano.
“Ini baru mau. Van, pesanin,” suruh Keano.
Melihat itu Lili menahan tawanya. “Lo babunya Keano ternyata.”
“Nggak, Nyet! Karena ini di kantin Bahasa makanya gue yang bertugas!” ujar Kevan melotot.
“Emang gue peduli sama penjelasan lo?”
“Gue juga nggak ngarep, kok, lo peduli!” Kevan menjulurkan lidahnya pada gadis itu lalu berlari ikut gabung dalam antrean siswa kelaparan.
“Kalau diperhatiin, lo sama Kevan juga deket, ya?” tanya Keano.
Tangan Lili berhenti mengipasi wajahnya. “Nggak deket. Gue malah musuhan sama dia,” jawab Lili.
“Ada masalah apa memangnya? Kalau dilihat, kalian berantem nggak serius.”
Lili diam sejenak, “Ada ... masalah kecil, tapi itu sebenarnya udah lama, dari SMP. Dia selalu gangguin gue jadi gue kesal juga.”
“Lo kelihatan santai padahal kita semeja. Pagi tadi lo sensitif banget deket gue,” kata Keano lagi.
“Yang tadi pagi dan sekarang itu beda, No. Lo ke sini bareng Kevan, jadi anak-anak nggak bakal curiga,” jelas Lili.
Keano mengangguk paham. Dia tak berkata apa-apa lagi dan menatap Lili yang sibuk mengipasi wajahnya yang berkeringat. Ia lalu menarik beberapa lembar tisu, melipatnya rapi dan menyodorkannya pada Lili.
“Untuk?” tanya gadis itu mengangkat alisnya.
“Jangan dikipasin doang. Lap keringat Lo atau mau gue yang bantu lap?”
“Heh! Biar gue sendiri!” Lili mengambil tisu itu dengan cepat sembari mengelap wajahnya salah tingkah.
“Pesanan tuan putri Lili sudah datang!” seru Lesli ceria dan duduk di samping Lili. Gadis itu mengambil piring berisi nasi goreng dan menaruhnya di depan Lili. Ia menatap Keano yang duduk kalem, “Oh, hai, No. Ke sini bareng Kevan?” tanyanya.
Keano mengangguk kecil, “Iya, diajak sama Kevan.”
“Punggung lo udah sembuh?”
“Iya, berkat salep pemberian seseorang,” ujar Keano menatap gadis di depannya.
Lili yang merasa terpanggil menatap Lesli sembari mengedipkan sebelah matanya dan membentuk peace pada jarinya.
“Cih.” Lesli memutar bola matanya. “Kita nanti makannya bareng mereka aja. Kevan bentar lagi kembali,” ujar Lesli menahan tangan Lili yang hendak mencapai sendok.
“Ck, si k*****t itu lama banget, sih!” ujarnya kesal.
Lili menopang dagunya sembari menatap nasi gorengnya penuh damba. Keano yang melihat itu merasa gemas sendiri. Mata bulat gadis itu sangat mudah terbaca. Tak lama kemudian, Kevan kembali membawa dua mangkok mie bakso. Sebelum Lili mengambil waktu lebih banyak untuk mengomeli pemuda itu, Lesli lebih dulu mempersilahkan semuanya makan.
Namun, suapan pertama belum sampai di mulut Keano, sebuah tangan menahannya. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap pemilik tangan itu dengan wajah bertanya-tanya.
“Ayo pergi dari sini,” ujar Kana datar, namun mampu mengusik seisi kantin.
“Tapi gue baru aja mau makan,” sanggah Keano.
Mata Kana yang berlensa abu-abu itu melihat orang-orang yang semeja dengan Keano sudah menatapnya dengan datar seolah dia adalah pengganggu. “Makan bareng gue aja, ayo!” Kana menarik pemuda itu keluar dari kantin membuat bisik-bisik tetangga akhirnya tercipta.
“Gue denger-denger Keano sama Kana dijodohin.” Seorang gadis barambut coklat di meja sebelah berbisik pada temannya yang lain namun masih bisa terdengar sampai di meja Lili.
“Masa, sih? Denger dari mana lo?”
“Nggak tahu, agak lupa. Gue sebenernya nggak kaget, sih, kalau mereka beneran dijodohin. Soalnya, mereka dari kecil udah deket.”
Kevan menelan mie-nya tanpa mengunyah terlebih dahulu. Ia lalu mencondongkan tubuhnya pada meja sebelah. “Abisin aja makanan kalian dari pada ngomongin rumor belaka itu. Keano sama Nenek Sihir itu nggak dijodohin. Mereka cuma temenan!” ujarnya jutek lalu menikmati makanannya lagi.
Lesli menatap cowok itu beberapa saat. “Lo, kok, setenang itu, sih? Padahal teman lo baru aja ditarik paksa. Dia bahkan belum makan satu sendok pun,” ujar Lesli.
“Nggak usah khawatir. Kana nggak bakal biarin cowok itu kelaparan.”
Lesli mengangguk paham dan melanjutkan makannya tanpa memperhatikan orang di sebelahnya yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Bisik-bisik meja sebelah tadi berhasil membuat mood dan nafsu makan Lili turun. Kana dan Keano memang terlihat sangat dekat. Dari tatapan Kana, ia bisa tahu bahwa gadis itu sangat peduli pada Keano namun terkesan berlebihan.
Brak!
“Aish! Lo mau apa lagi, sih?” gertak Lili kaget karena Kevan yang tiba-tiba menggebrak meja.
“Buset, gue lupa! Keano belum ngasih gue uang buat bayar makanan! Masa iya gue yang bayarin Keano lagi, sih?!