H-1 menjelang pernikahan Maharani mulai gelisah. Harusnya sejak kemarin dia sudah harus pulang ke rumah, tapi karena teman-temannya belum ada yang kembali, mau tak mau dia masih harus menunggu.
Sejak tiga hari yang lalu, rombongan beberapa dokter dan suster liburan ke daerah Batu, Malang. Awalnya Maharani pun termasuk di dalam rombongan tersebut, tapi karena larangan Erna yang tak memperbolehkan dia pergi jauh-jauh, jadilah Maharani menggantikan temannya untuk stand by di klinik.
“Belum ada kabar dari yang lain, ya?” tanya salah satu perawat yang tinggal di klinik bersama Maharani.
Maharani yang sedang sibuk mengaduk kopinya menoleh sejenak. Dia menggeleng pelan. Tak banyak yang tahu akan rencana pernikahannya dengan Bintara. Selain karena hanya pernikahan akad, dia pun merasa tak enak kalau sampai ada temannya yang batal ikut liburan hanya karena untuk menggantikannya di klinik. Lagi pula, bukankah lebih enak dia mengambil cuti nanti setelah menikah? Dia jadi punya banyak waktu bersama dengan Bintara.
Mengingat hal itu, secara tidak sadar Maharani tersipu sendiri. Sebentar lagi, dia hanya perlu bertahan sedikit lagi untuk mewujudkan mimpinya itu.
“Harusnya bukannya hari ini mereka udah balik, ya?” perawat bernama Anggun itu kmbali bertanya.
Maharani yang sudah menyeduh kopinya itu berbalik. Dia ikut duduk di meja makan tempat Anggun duduk.
“Mungkin nanti malam atau habis ini. Sudah kangen rumah, ya?” Maharani menggoda. Dia tahu, Anggun pasti merindukan anak dan suaminya di rumah. apalagi usia anaknya yang masih lima tahun, pasti lagi lucu-lucunya karena akan ada banyak pertanyaan yang keluar dari bibir bocah usia itu.
Saat ini dia hanya bisa mencoba memahami isi hati Anggun, tapi suatu hari nanti mungkin dia sendiri yang akan mengalaminya. Kalau pun iya, ah ... bisakah dia menahan kerinduan kepada anaknya?
“Iya. Dari kemarin kata suamiku, Diandra ngerengek pingin ke sini. Semakin sering kami video call, bocah itu semakin merajuk,” ujar Anngun.
Maharani mengangguk mencoba mengerti.
“Nanti, kamu pasti akan tahu gimana rasanya, Ran,” goda Anggun.
Ibu satu anak itu menaik turunkan alisnya, mencoba menggoda Maharani.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar, Ran? Atau mungkin diam-diam sudah punya rencana menikah?”
Maharani yang tengah menikmati kopinya itu langsung tersedak. Bisa-bisanya tebakan Anggun langsung mengenai sasaran. Gadis itu terbatuk beberapa kali, bahkan dia harus menepuk beberapa kali dadanya untuk memperlancar pernapasannya.
Anggun yang melihat keadaan temannya itu langsung bangkit dan mengambil gadis itu air putih. Diulurkannya segelas air yang langsung di tenggak habis oleh Maharani.
“Kenapa sih, sampai begitu? Ada yang salah dengan pertanyaanku?” Anggun sedikit khawatir.
Maharani menggeleng pelan. “Hanya momennya saja yang terlampau pas,” jawab Maharani.
Anggun mengerutkan keningnya. “Maksudnya?”
Maharani hendak menjawab pertanyaan temannya itu, hanya saja dering panggilan dari ponselnya membuat dia urung. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, terlihat nama Bintara di sana. Dia melirik Anggun yang ternyata juga ikut mengintip layar ponselnya.
Anggun nyengir saat Maharani menatapnya. Ibu satu anak itu langsung kembali lagi ke tempat duduknya. Maharani hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. Sepertinya sekarang adalah saat yang pas untuk menceritakan rencana pernikahannya kepada Anggun dan teman-temannya yang lain.
Maharani mengangkat panggilan dari Bintara. Gadis itu juga sengaja tetap di ruangan itu tanpa berniat menajuh dari Anggun. Toh, cepat atau lambat semua juga bakalan akan tahu.
“Assalammualaikum, Mas,” jawab Maharani.
“Waalaikumsalam.” Terdengar sahutan dari seberang sana.
“Ada apa, Mas?”
“Kapan aku bisa menjemputmu? Sekarang? Tapi jangan bilang mama, ya? Mama menyuruh Pak Salim yang menjemputmu. Tapi kalau aku bisa kenapa harus nyuruh orang?” terdengar suara merajuk dari seberang sana.
Maharani memijat pangkal kepalanya, akhir-akhir ini Bintara sering kali merajuk padanya. Bersis bocah yang sedang mengaduh karena tak diajak berteman oleh teman-temannya. Anggun yang sepertinya mendengar suara Bintara hanya tersenyum geli. Dia tak menyangka kalau ternyata Maharani sudah punya pacar. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pacarnya sekarang sedang merajuk seperti anak kecil.
“Mas, kan dari kemarin mama bilang kita gak boleh ketemu dulu? Kamu seneng banget sih bikin mama marah? Kalau ketahuan gimana? Gak Cuma kamu yang dimarahin, aku dan Pak Salim juga bakalan kena marah. Tega kamu ngelibatin kami hanya demi keegoisanmu?”
“Kok egois? Aku kan begini biar bisa jemput kamu, biar kita bisa ketemu. Kamu malah ngatain aku egois.”
Mendengar nada suara Bintara yang sepertinya sedikit kesal, emosi Maharani pun ikutan naik.
“Terus apa namanya kalau gak egois? Kamu bahkan mau ngelanggar perintah Mama, kan?”
Anggun yang melihat ekspresi Maharani sudah berubah pun hanya bisa diam. Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuknya menggoda gadis itu.
“Kamu selalu aja mikirin Mama. Kamu gak bisa mikirin aku sekali saja? Yang mau menikah itu kita, bukan kamu sama Mama.” Nada suara Bintara terdengar semakin meninggi.
“Kamu cemburu sama Mama? Bisa-bisanya, sih, kamu ngomong kayak gitu. Kalau pun mama begitu pasti ada alasannya.” Maharani tak mau kalah.
“Bukan begitu. Tapi memang pada dasarnya kamu gak pernah peduli sama aku. atau jangan-jangan kamu mau menikah Cuma gara-gara mama? Kamu takut mama sakit hati makanya kamu setuju saja?”
Maharani melotot seketika mendengar ucapan Bintara. Dia tak menyangka calon suaminya itu akan menuduh seperti itu. Marah boleh, kesal pun tak mengapa, tapi dituduh seperti itu, Maharani sungguh tak terima.
“Mas! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Aku gak selemah itu hingga mengorbankan masa depan dan hatiku hanya karena rasa takut. Tega kamu nuduh aku kayak gini, Mas!” Maharani menutup teleponnya begitu saja. Dia meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja.
Anggun yang melihat keadaan temannya itu mendadak bingung harus berbuat apa. Air mata Maharani mulai luruh, gadis itu terisak. Anggun langsung bangkit dari tempatnya, meskipun tak tahu pasti masalah apa yang sedang terjadi pada temannya itu, setidaknya dia masih bisa membantu dengan menghiburnya.
“Ran, kamu gak papa?” tanya Anggun pelan.
Gadis yang masih terisak itu hanya menunduk tanpa mengucap satu kata pun. Anggun terus membelai kepala yang terbungkus jilbab itu dengan lembut. Selama ini, Maharani memang terkenal gadis yang cukup pendiam. Namun, walau sering disebut pendiam, Maharani cukup menyenangkan jika diajak curhat atau pun bercanda.
Tak pernah ada yang tahu kisah cinta Maharani. Jadi, jika sekarang tiba-tiba gadis itu menangis karena seorng lelaki, tentu saja itu menimbulkan banyak tanya dibenak Anggun.
Maharani mengangkat kepalanya. Dia mendongak ke arah Anggun sejenak lantas tersenyum. Dihapusnya sisa air mata yang ada di wajahnya.
“Maaf, ya? Maaf kamu harus lihat aku nangis gini,” ucap Maharani pelan.
“Are you okay?” Anggun kembali memastikan.
Maharani mengangguk. “Duduklah, aku ingin cerita sedikit.”
Anggun menurut. Wanita itu mengambil kursi tepat di samping Maharani.
“Dia, calon suamiku.” Maharani mulai cerita.
Bisa terlihat jelas keterkejutan di wajah Anggun tetapi wanita itu memilih diam dan membiarkan Maharani meneruskan ceritanya.
“Kami akan segera menikah. Karena kesibukan masing-masing, kami memang jarang sekali bertemu. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini dia sedikit manja dan ingin terus-terusan bertemu. Mama Mas Bin adalah orang yang sangat memegang teguh adat istiadat dan primbon jawa. Intinya segala tentang omongan orang dulu dia sangat percaya, termasuk soal larangan bertemu sebelum menikah.”
Maharani menghentikan sejenak ucapannya.
“Mas Bin itu, Bintara? Anak dari mama angkat kamu itu kan?” Anggun sebenarnya ingin menahan untuk tidak bertanya, tapi entah kenapa rasa penasarannya lebih mendominasi.
Maharani mengangguk pelan. “Awalnya, kami dekat hanya seperti saudara. Aku menganggapnya seorang kakak, begitu pun dia. Namun, sebulan lalu mama tiba-tiba ingin kami menikah. Aku sedikit terkejut, meski akhirnya menyetujui. Mas Bin lelaki yang baik, gak ada alasan aku menolaknya. Aku juga ingin membalas kebaikan mama dengan menuruti permintaannya. Dan entah sejak kapan, kami akhirnya benar-benar dekat dan saling memiliki rasa. Dan hari ini, dia ingin datang menjemput, padahal mama sudah melarang kami untuk bertemu.”
“Tunggu! Kalian sedang dipingit? Berarti sebentar lagi kalian menikah?” Anggun memotong begitu saja cerita Maharani.
“Kami, menikah ... besok.”
“Hah!” Ekspresi kaget Anggun meningkat dari sebelumnya. Siapa yang tak kaget, tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja gadis yang dikenal paling tertutup tentang kehidupan pribadinya akan segera menikah.
Selama ini, Maharani tak pernah menyinggung apa pun, dan sekalinya ada kabar malah kabar tentang pernikahannya.
“Kamu serius, Ran? Besok? Dan sekarang kamu masih di sini? Ini nikah serius apa gimana sih? Astaga, kamu sukses buat aku linglung seketika, Ran.” Anggun memijat pangkal kepalanya. Ini memang berita bahagia, tapi juga cukup mengejutkan jika datang dari seorang Maharani.
Tangis Maharani telah reda, airmata pun sudah tak terlihat di wajahnya. Gadis itu sedikit menghela napas, bersiap untuk menceritakan tentang dirinya dan Bintara besok.
“Besok kami hanya akan melangsungkan akad. Untuk resepsinya, mungkin kami akan menunggu dua bulan lagi. Makanya, aku gak mau terlalu gembar-gembor dulu biar gak semua orang heboh. Baru kamu yang tahu saja sudah seperti ini.”
Anggun masih sibuk memijat dahinya. Dia bingung sendiri, apakah dia yang terlalu heboh atau memang Maharani yang terlewat santai. Gadis itu menikah besok, dan bisa-bisanya dia sekarang masih duduk manis di klinik kecil yang jauh dari rumahnya. Benar-benar gadis yang aneh.
“Sorry, bukan gitu, Ran. Habisnya kamu terlalu susah ditebak. Aku yakin semua orang besok pasti akan berekspresi sama kayak aku gini. Apa kabar Dokter Danu kalau begini?”
Maharani mengerutkan alisnya. dia sedikit bingung dengan ucapan Anggun.
“Emang Dokter Danu kenapa?” tanya Maharani bingung.
“Jangan bilang kalau selama ini kamu gak tau kalau dia suka kamu?” Anggun memicingkan matanya, menatap penuh selidik ke arah Maharani.
Maharani yang sedang merasa terintimidasi itu hanya nyengir kuda. Sebenarnya dia tahu kalau Dokter muda itu menyukainya, hanya saja pura-pura tak tahu akan jauh lebih aman bagi dirinya.
“Aku ini cerita kan biar kamu kasih solusi, kenapa malah bahas Dokter Danu?”
Anggun berpikir sejenak. Benar kata Maharani, kenapa pembahasannya jadi melebar ke mana-mana.
“Oke, jadi masalah kamu apa?”
“Mas Bin pingin datang menjemput tadi. Persis yang aku ceritain, Mama itu orang yang kolot soal adat istiadat. Beliau sudah melarang kami bertemu, Eh Mas Bin malah nyolot. Bahkan tadi dia bilang aku mau menikah dengannya karena kasihan sama Mama. Kan konyol banget.”
Anggun kembali terdiam. “Kamu gak harusnya ikut marah, Ran. Mungkin saja Masmu itu sedang dalam masa kangen. Kalian itu sudah jauh, komunikasi itu kunci satu-satunya, kalau kalian berantem begini, mau pernikahan kalian tiba-tiba batal?”
Maharani menggeleng cepat. Dia tak bisa membayangkan kebahagiaan yang dia rasakan sebulan ini terenggut darinya.
“Nah, makanya. Jangan gampang terselut emosi. Orang kalau mau menikah memang begitu cobaannya, masalah kecil bisa langsung jadi gede kalau salah satu gak mau ngalah. Jadi, daripada lebih makin gede, kamu buruan telepon dia dan minta maaf. Pernikahan sudah besok kok masih main ambek-ambekan.”
Maharani mencerna ucapan Anggun. Benar kata wanita itu, selama ini dia dan Bintara bisa melewati masa-masa sulit dengan baik, jadi kenapa karena masalah sepele begini saja bisa membuat mereka bertengkar.
Maharani hendak mengambil ponselnya, tapi di saat yang sama ponselnya itu berdering. Nama Bintara tertera di sana. Sejenak Maharani menoleh ke arah Anggun. Ibu anak satu itu menaikkan sebelah alisnya, mungkin seperti pertanda, tunggu apa lagi? Kenapa tak diangkat?
Maharani masih menatap ponselnya dalam diam. Dia memang membenarkan perkataan Anggun, tapi sejujurnya masih terbesit ragu di hatinya. Apa setelah dia mengangkat telepon Bintara sekarang, mereka pasti akan berbaikan? Atau malah justru timbul masalah-masalah baru?
Panggilan pertama terhenti tanpa ada jawaban dari Maharani. Anggun yang melihat itu hanya mengerutkan alis.
“Kenapa? Masih marah?” tanya Anggun.
Maharani tak menjawab. Dia hanya menggeleng pelan.
“Apa pun kondisi hatimu, entah kamu marah atau bagaimana, salin bicara adalah jalan satu-satunya. Dalam kasusmu sekarang, diam bukan lagi emas. Kalian perlu bicara dan mencari solusi bersama-sama. Ingat, besok kalian akan menikah,” jelas Anggun pelan.
Maharani menatap Anggun dalam. Sekali lagi, ucapan ibu satu anak itu benar adanya.
Ponsel di tangan Maharani kembali berdering. Nama yang sama tertera di layar. Melihat itu, Anggun bangkit dari tempatnya.
“Kalian bicaralah. Aku akan keluar dan berjaga barangkali ada pasien.” Usai diangguki oleh Maharani, Anggun lantas berbalik dan meninggalkan Maharani seorang diri.