Sabtu pagi, Dina sudah bangun dan terduduk di pinggir ranjang tempat tidurnya. semalaman dia tidak bisa tidur. Pikirannya masih tersita dengan Leon dan Nia. Sisi egoisnya memudar. Ada hal yang begitu dia sadari sekarang bahwa cinta memang tidak baik untuk dipaksakan. “Aku gak mau hidupku menderita dan sia-sia hanya karena aku memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang tidak mencintai aku. Apa hebatnya menjadi penghalang dalam hubungan dua orang yang memang saling mencintai?” Pikir Dina sambil terus melihat ke arah jendela kamarnya. Dina menghelakan napasnya. Dipijatnya lembut kedua pelipis kepalanya yang terus sakit karena kurang tidur sambil terus memejamkan matanya. Dihelakannya napas dengan berat. “Sudah jam berapa sih ini?” Ucap Dina sambil melepaskan pijatan tangannya di kedu

