Overthinking

1273 Words
Usai makan bersama dan bermain sejenak dengan anak-anak panti, kini Anjani dan Mona mengobrol berdua di teras panti. Dari tempat Anjani duduk, terlihat pohon yang biasa dulu ia panjati bersama Arman. Ia sudah tak pernah memanjat pohon itu lagi sejak Arman pergi, hanya bisa memandanginya. “Tumben lo nggak pacaran?” Celetuk Anjani kepada sahabatnya itu. Ia berusaha mengalihkan pikirannya. “Pacaran apaan?” Mona tertawa geli. “Putus gue.” “Hah, lagi?” Anjani terkekeh. “Baru juga kemarin pacaran. Pantesan lo bisa ketemu gue sekarang.” Anjani tak perlu bersedih jika sahabatnya itu putus cinta, karena memang sahabatnya biasa gonta ganti pacar hanya dalam waktu beberapa pekan. Maklum, banyak pria yang mengantri karena wajah blasterannya. “Kalau dipikir-pikir, kita ini cantik.” Mona menerawang. “Tapi kenapa nggak ada yang mau adopsi kita, ya?” Raut wajah Anjani juga berubah sedih. “Padahal gue dulu selalu berusaha dandan rapi dan bersikap baik setiap Bu Dewi kasih tahu mau kedatangan pasangan suami istri.” Anjani jeda sejenak sambil matanya masih menatap pohon itu. “Berkali-kali usaha, tetap aja nggak kepilih.” Lanjut Anjani. “Akhirnya gue pasrah aja lah. Untung ‘kan Bu Dewi dan almarhum Bapak tuh baik, jadi nggak sedih-sedih amat.” “Mungkin mereka takut kesaing kali sama kecantikan kita.” Celetuk Mona asal. Mereka berdua kemudian tertawa bersama. “Tapi kalau soal cowok, banyak lho yang mau antri sama lo.” Ujar Mona kemudian. “Mulai dari teman sekolah dan kuliah kita, teman-teman gue, teman-teman mantan gue. Lo nggak mau coba first date dulu gitu? Siapa tau cocok.” “Lo ‘kan tahu sendiri alasannya.” “An, lo ‘kan yang cerita sendiri reaksi dia tadi gimana … 15 tahun loh dia nggak ngasih kabar. Harusnya lo bisa tahu kalau dia tuh udah nggak mau lagi …” Anjani langsung memotong. “Sikap gue juga akan sama kalau itu elo, Mon. Beda kalau sama teman yang selama di panti nggak begitu dekat.” “An, gue nggak akan ninggalin lo. Buktinya kita aja masih kontak sampai sekarang. Lo tau sendiri kantor dan kosan kita jauh.” Kantor Anjani dekat sekali dengan panti asuhan, terletak di Sudirman dan ia kos persis di belakang kantor. Sedangkan kantor Mona di Pondok Indah dan kos di Radio Dalam. Anjani menerawang sejenak. “Dulu waktu dia pergi, gue masih 10 tahun. Gue baru sadar setelah sekitar 2-3 tahun dia pergi, kalau gue ini … jatuh cinta sama Mas Arman.” Mona hanya menghela napas. “Susah buat gue untuk move on … atau ngelupain dia.” Lanjut Anjani. “Gue juga nggak bisa dipaksa untuk pacaran sama cowok lain, karena nggak ada perasaan.” Anjani jeda sejenak. “Waktu Mas Arman pergi, hampir setiap hari gue tanya Bu Dewi apa Mas Arman telepon, atau mungkin sempat datang pas kita berangkat sekolah. Gue minta alamatnya karena katanya dia tinggal dekat sini … tapi Bu Dewi bilang nggak tahu alamat persisnya, dan yang didata Bu Dewi cuma alamat anak panti yang diadopsi saja.” Mona lagi-lagi hanya menghela napas. Sudah bertahun-tahun ia mendengarkan curhatan sahabatnya seperti ini. “Terus rencana lo sekarang apa?” Tanya Mona akhirnya. “Lo bilang sendiri ‘kan kalau dia nggak ngenalin lo.” “Gue yakin … dulu gue pernah ada salah, atau mungkin pernah ada kesalahpahaman.” Anjani begitu yakin. “Gue harus make sure dulu apa kesalahan itu. Gue udah nungguin dia 15 tahun, Mon. Nggak mau lah give up gitu aja.” “Tapi lo mesti hati-hati, dia itu keluarga owner Febriant Group, lho!” Pesan Mona. “Salah-salah lo bisa dipecat.” “Dipecat sih nggak, ya. Kan gue masih ada cicilan mobil.” Anjani mengarahkan kepalanya kepada mobil MPV berwarna putih tersebut. “Ya tapi tetap aja … mereka orang kaya bisa melakukan apapun kalau sudah merasa terusik. Kita ini kaum rentan, nggak punya harta, nggak punya orang tua, nggak punya keluarga, nggak punya koneksi. Jadi mesti hati-hati.” “Ah, nggak mungkin lah Mas Arman begitu. Gue yakin, mungkin gue pernah punya salah makanya sikapnya kayak tadi.” Anjani tetap keras kepala. Mona yang sudah lelah hanya menggelengkan kepala. “An, tapi kondisinya sekarang udah beda.” “Dia pernah janji kalau sudah dewasa nanti, kita akan bangun keluarga sendiri. Awalnya gue nggak ngerti maksudnya apa, tapi ternyata dia mau nikahin gue, Mon.” “Astaga, An, itu cuma janji anak kecil.” Mona sudah lelah menyadarkan sahabatnya itu. “Setelah 15 tahun pasti udah banyak hal yang terjadi sama tuh cowok. Dia juga lama tinggal di Amerika, pasti banyak berubah, lah. Dia aja nggak nepatin janjinya untuk nelpon bahkan datang ke sini, kan?” “Kan tadi gue bilang mungkin gue sempat ada salah.” Mona hanya memutar bola mata dan enggan berdebat lagi. “Balik aja, yuk. Udah malam, nih. Kosan gue ‘kan jauh. Gue anterin dulu deh ke kosan lo.” Anjani mengangguk. “Oke.” “Bentar ya, gue kamar mandi dulu.” Mona pun langsung bangkit dari kursinya dan berlari ke dalam. Sambil menunggu Mona yang ke kamar mandi, Anjani pun bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju pohon tersebut. Bertahun-tahun sejak kepergian Arman hanya mampu memandangi pohon tersebut tanpa berani memanjat. Ia jadi mengingat saat pertama kali anak lelaki itu mengajaknya naik agar dapat melihat keindahan dari atas sana. Gadis itu awalnya ketakutan, namun Arman terus menjaganya. Anjani juga memegangi ukiran nama mereka berdua di batang pohon tersebut. Gadis itu tersenyum sendiri. Tiba-tiba saja teleponnya berdering. Anjani melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Ternyata dari CEO nya Bu Susanti. Buru-buru dijawabnya telepon tersebut. “Halo, Bu Susanti.” “Anjani, maaf saya ganggu kamu malam-malam.” Napasnya terengah-engah dari seberang sana. “Kamu masih simpan file Karyatama Bank nggak, ya? Duh, saya tuh besok pagi-pagi harus ke kantor mereka, tapi ada beberapa data yang hilang.” “Oh, saya masih lengkap semua sih, Bu, semua data klien.” “Kamu tinggal di kantor atau bawa pulang?” “Saya ada copyannya juga di flashdisk yang selalu saya bawa dalam tas, Bu. Tapi masalahnya laptop saya tinggal di kantor. Jadi saya nggak bisa kirim email ke Ibu.” “Thanks God.” CEO nya itu bernapas lega. “Gapapa … gapapa, kamu bisa tolong antar flashdisk-nya saja pakai ojek online ke rumah saya sekarang ya? Nanti kamu reimburst ke finance aja ongkosnya.” “Oh, bisa-bisa, Bu.” Anjani langsung menyanggupi. “Ya sudah saya chat alamat saya, ya.” “Baik, bu.” Anjani pun langsung memutuskan sambungannya dan tak sampai satu menit atasannya itu mengirimkan alamat lengkapnya. Mata Anjani pun terbelalak, karena rumah atasannya selama ini dekat sekali dari sini. Satu komplek dengan panti asuhan dan hanya beda beberapa blok. Ia berpikir akan mengantarkannya sendiri saja menggunakan mobilnya. “An, ayo!” Tahu-tahu Mona sudah berdiri di belakangnya. “Mon, lo duluan deh, gue harus antar file ke rumah atasan gue.” Ujarnya sambil melihat ponsel. “Oya? Emang rumahnya di mana? Kenapa nggak kirim pakai ojek online aja?” “Soalnya rumahnya dekat banget dari sini.” Anjani langsung menunjukkan chat atasannya tadi ke Mona dan Mona langsung membacanya. “Oh, itu mah rumah istana yang sering kita lewatin dulu kalau berangkat sekolah.” “Serius lo?” “Iyalah! Kan tiap lo dulu ajakin gue ke sana, gue juga lihat nomor rumahnya. Emang lo nggak merhatiin juga? Ya sudah gue anterin aja, deh! Biar mobil lo bisa dipake antar anak-anak sekolah besok.” “Gapapa?” “Gapapa banget. Udah lama juga ‘kan kita nggak nongkrong depan rumah istana, yang ternyata rumah bos elo?” Mona terkekeh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD