“Ini kamarnya.”
Suara Keysha terdengar ringan, seolah yang ditunjukkannya bukan bagian dari rumah utama.
Rania melangkah masuk dan berhenti.
“Di sini?” tanyanya pelan.
“Iya, kamar tamu.” jawab Keysha singkat.
Pintu ditutup perlahan dari luar.
Rania berdiri sendirian. Ia tidak langsung bergerak, seakan kamar itu butuh waktu untuk mengenalinya lebih dulu. Tidak ada perabot mencolok, tidak ada warna yang menuntut perhatian. Ruangan ini sederhana terlalu sederhana untuk rumah sebesar ini.
Namun justru di sanalah napas Rania terasa lebih panjang.
Ia mendekat ke jendela kecil. Tirainya tipis, cahaya sore masuk tanpa disaring, jatuh di lantai dengan lembut. Yang terlihat hanya dinding samping rumah—kosong, pucat, tanpa bayangan siapa pun.
Aneh, tapi d**a Rania mengendur.
Di kamar ini, tidak ada kenangan yang harus ia jaga.
Tidak ada jejak seseorang yang lebih dulu dicintai.
Rania duduk di tepi ranjang, telapak tangannya menyentuh seprai dingin. Sentuhan itu nyata, jujur tidak berpura-pura hangat. Seperti ruangan yang tidak berusaha menyenangkannya, tapi juga tidak menolaknya.
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena kamar ini nyaman.
Melainkan karena kamar ini tidak membandingkannya dengan siapa pun.
Untuk pertama kalinya sejak tiba, Rania merasa tidak sedang menempati tempat orang lain. Dan rasa itu rasanya seperti....meski kecil, membuat kamar ini terasa cukup hidup untuk ditinggali.
Mereka turun. Cahaya meredup. Udara berubah. Keysha membuka pintu kecil dekat dapur.
“Kamar tamu,” katanya. “Biasanya dipakai kalau ada yang menginap sebentar.”
Sebentar.
Rania masuk. Satu ranjang kecil. Jendela menghadap tembok. Bau lembap. Sunyi.
“Cocok,” tambah Keysha sambil tersenyum. “Tenang.”
Malamnya, Rania duduk di meja makan dengan punggung tegak. Dian di ujung meja. Keysha di sampingnya.
“Ma, yang ini lebih pas,” kata Keysha sambil menyendokkan lauk ke piring Dian.
Dian tersenyum. “Cuma kamu yang tahu selera Ibu, Key.”
Rania menunduk. Makanannya terasa hambar.
Ia tidak diajak bicara. Tidak ditanya. Tidak dihitung.
Di kamar tamu, Rania menatap langit-langit lama sekali.
Kamar masa kecilnya ada di atas sana. dan tempatnya sudah diambil.
Rania bangkit lebih dulu dari kursinya.
Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah kenyang. Piringnya masih berisi setengah, tapi Dian sudah berbincang ringan dengan Keysha tentang jadwal esok hari. Rania melangkah menjauh tanpa suara, seperti seseorang yang tahu kehadirannya tidak mengubah apa pun.
Di tangga, ia berhenti sejenak.
“Aku temani Mama besok ke dokter, ya,” suara Keysha terdengar jelas dari ruang makan.
Dian menjawab tanpa ragu, “Iya. Lebih tenang kalau kamu.”
Lebih tenang.
Rania melanjutkan langkahnya.
Di kamar tamu, ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar di baliknya. Ia tidak langsung bergerak. Hanya berdiri, mendengarkan rumah yang kembali hidup di lantai atas—suara piring dibereskan, tawa kecil, langkah yang akrab.
Ia membuka lemari kecil. Kosong. Tidak ada gantungan tambahan. Tidak ada ruang untuk lebih. Rania menggantung pakaiannya satu per satu, rapi, seolah kerapian bisa menggantikan rasa memiliki.
Beberapa menit kemudian, pintu diketuk.
“Rania?” suara Dian terdengar dari luar.
Rania membuka pintu cepat. “Iya, Bu?”
Dian berdiri dengan ekspresi netral. “Kalau butuh apa-apa, bilang ke Keysha. Dia yang paling tahu rumah ini.”
“Iya,” jawab Rania.
Dian mengangguk singkat, lalu pergi.
Kalimat itu sederhana, tapi posisinya jelas. Rania menutup pintu lagi, kali ini lebih pelan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai. Di rumah ini, ia tidak langsung ke ibu ia lewat perantara.
Malam makin larut. Rania keluar sebentar untuk mengambil air. Di lorong, ia berpapasan dengan Keysha yang baru turun dari lantai atas.
“Kak Rania belum tidur?” tanya Keysha ramah.
“Belum.”
“Oh.” Keysha tersenyum. “Mama sudah tidur. Tadi capek.”
“Iya.”
Keysha menatapnya sebentar, lalu berkata ringan, “Oh ya, besok pagi Mama biasanya sarapan jam tujuh. Tapi kalau Kakak belum siap, nggak apa-apa. Mama nggak suka menunggu.”
Rania mengangguk. “Terima kasih sudah memberi tahu.”
“Sama-sama.” Keysha melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum yang lembut tapi menyisakan jarak.
Di kamar, Rania duduk di ranjang tanpa menyalakan lampu. Cahaya dari luar masuk samar melalui jendela kecil. Ia menatap koper lusuh di sudut masih setengah terbuka, seperti dirinya.
Kamar masa kecilnya ada di atas sana. Meja makan keluarganya juga.
Namun ia berada di bawah.
Dekat dapur. Dekat pintu servis.
Rania memejamkan mata.
Ia tidak marah. Belum.
Tapi satu kesadaran tumbuh pelan, mengendap tanpa suara.
Di rumah ini, ia tidak hanya kehilangan kamar.
Ia kehilangan giliran untuk dianggap penting.
Dan kehilangan seperti itu tidak terjadi sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit sampai suatu hari orang lain lupa bahwa ia pernah seharusnya ada.