“Rania, cepat!” Suara Nayla terdengar dari koridor, tergesa. Langkah kakinya hampir terdengar menabrak lantai marmer. tap… tap… tap…. Rania menoleh, jari-jarinya masih menggenggam amplop cokelat. Napasnya tertahan sebentar. “Apa terjadi?” “Dia sudah di lobi. Dia yang dikirim kemarin!” Nayla terengah, wajahnya pucat. Rania menelan ludah. “Siapa?” Nayla hanya menunjuk ke pintu depan. Di sana, sosok yang tidak pernah ia duga berdiri. Mantap, tenang, tetapi aura kehadirannya membuat seluruh lobi terasa sempit. Rania menelan. Hatinya berdegup lebih cepat. Sosok itu bukan Keysha, bukan Arvin. Bukan Dian. Itu pihak ketiga. Rasa tegang merambat ke ujung jari Rania. Tangannya mengepal pelan. Ia tahu: hari kedua ini tidak akan sama. Di ruang rapat sementara, semua pihak sudah hadir. Keysh

