“Jam 9 tepat. Jangan terlambat.” Pesan itu masuk pukul 07.12. Rania sudah bangun sejak setengah enam. Ia duduk di tepi ranjang, mengenakan blazer abu-abu yang jarang ia pakai. Rambutnya diikat rendah kali ini, lebih rapi, lebih formal. Tangannya tidak gemetar, tapi terlalu dingin untuk ukuran pagi yang tidak ber-AC. Audit. Kata itu terdengar administratif. Netral. Bersih. Padahal yang akan diperiksa bukan hanya angka. Ruang rapat di lantai atas gedung perusahaan terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada aroma parfum mahal. Hanya meja panjang, kursi hitam, dan layar besar yang belum dinyalakan. Dian sudah duduk di ujung meja. Keysha di sebelah kanannya. Arvin berdiri dekat jendela, berbicara pelan dengan dua orang dari tim audit internal. Rania me

