12

439 Words
“Mama bilang kamu ke kampus hari ini.” Nayla tidak menatap Rania saat menyerahkan kunci mobil. Di mobil, Rania menghela napas pelan. Ia tidak merasa menang belum. Namun ia tahu, arah mulai bergeser. Dan setiap pergeseran, sekecil apa pun, selalu memicu reaksi. Di kampus, sesi mentoring berjalan lebih intens. Reyhan Mahendra duduk di ujung meja, mendengarkan satu per satu peserta berbicara. Saat giliran Rania, ia ragu sejenak lalu bicara. “Kadang tekanan tidak datang sebagai larangan,” katanya pelan. “Tapi sebagai ajakan yang membuat kita berhenti jujur.” Reyhan menatapnya lama. “Dan apa yang kamu lakukan?” “Aku menarik batas,” jawab Rania. “Meski risikonya besar.” “Batas yang sehat selalu memancing resistensi,” kata Reyhan tenang. “Pertanyaannya: kamu siap menghadapi konsekuensinya?” Rania mengangguk. “Aku sedang belajar.” Sepulang kampus, rumah terasa lebih sunyi. Keysha tidak terlihat. Dian ada di ruang kerja, pintunya tertutup. Nayla duduk di ruang keluarga, menonton tanpa suara. “Keysha ke mana?” tanya Rania. “Keluar,” jawab Nayla singkat. “Katanya ada urusan.” Rania mengangguk. Ia naik ke kamar, membuka laptop, memeriksa folder WAKTU. Semuanya aman. Ia menutupnya kembali, lalu membuka email sebuah pesan baru masuk dari alamat tak dikenal. Subjek: Revisi Materi Isi: Kami menerima masukan tambahan terkait proses kreatif. Mohon klarifikasi. Rania membaca ulang. Jantungnya berdetak lebih cepat bukan karena panik, melainkan karena waspada. Klarifikasi berarti ada yang mulai bertanya. Dan pertanyaan selalu berbahaya bagi mereka yang terbiasa mengendalikan narasi. Ponselnya bergetar. Arah berubah, tulis nomor tak dikenal. Dan itu membuat seseorang bergerak. Rania membalas. Keysha. Ya. Dia tidak akan diam. Malam turun. Keysha pulang lebih larut dari biasanya. Saat Rania menuruni tangga untuk minum, mereka bertemu di lorong. “Kamu ke kampus?” tanya Keysha, senyum tipis di wajahnya. “Iya.” “Kamu terlihat… berbeda akhir-akhir ini.” Rania menatapnya. “Berbeda tidak selalu buruk.” Keysha mendekat sedikit. “Hati-hati. Perubahan sering disalahartikan.” “Disalahartikan oleh siapa?” tanya Rania tenang. Keysha tersenyum, tapi tidak menjawab. Ia melangkah pergi, meninggalkan wangi parfumnya yang terlalu manis. Di ruang kerja, suara Dian terdengar di telepon nada rendah, tergesa. Rania berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin mencuri dengar. Ia hanya ingin mencatat satu hal: rumah ini sedang bergerak. Di kamar, Rania menerima pesan lagi. Mereka akan menguji ceritamu. Rania mengetik pelan. Biarkan. Ia mematikan lampu, berbaring, menatap gelap. Arah telah berubah. Tidak semua orang menyukainya. Dan ketika arah berubah, biasanya ada yang berusaha memutar kemudi dengan paksa. Rania menarik napas panjang. Jika kemudi itu diputar, ia akan memastikan satu hal ia tidak lagi duduk di kursi penumpang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD