41

1423 Words

“Besok pagi tidak ada jalan kembali.” Kalimat itu masih terngiang ketika layar di depan mereka perlahan menggelap. Pantulan cahaya terakhir menghilang dari wajah-wajah yang tegang. Aula terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tak ada yang langsung bergerak. Rania menurunkan ponselnya pelan. Jemarinya masih menggenggamnya terlalu erat. Ia sadar, tapi tidak langsung melepaskan. Di meja panjang, berkas-berkas sudah tertutup. Proyektor dimatikan. Namun rasa yang menggantung di udara belum ikut padam. Keysha yang pertama memecah diam. “Siapa yang kirim pesan itu?” Rania tidak langsung menjawab. Ia menatap layar hitam beberapa detik, seolah berharap ada sesuatu yang muncul lagi. Tidak ada. Hanya bayangan samar dirinya sendiri. “Nomor tak dikenal,” jawabnya akhirnya. Arvin berdiri. Kursinya b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD