27

738 Words

Brak! Suara pintu ruangan kecil itu menutup terlalu keras, membuat jantung Rania melonjak sesaat. “Rania, duduk.” Suara pria di depannya terdengar dingin, tapi jelas memerintah. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum. Rania menatap kursi di hadapannya. Ia tidak langsung duduk, hanya melangkah perlahan, telapak tangan sedikit berkeringat, tapi wajahnya tetap terkendali. Ia menarik napas pelan, lalu menepuk sisi kursi sebelum duduk. “Semua dokumen yang kamu simpan…” kata pria itu, tangannya menunjuk berkas yang kini terbuka di depannya. “Sudah dilihat banyak pihak. Bahkan sebelum kamu sempat mengirimkannya.” Rania menelan ludah. Ia menunduk sebentar, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja perlahan—tap… tap… tap…—mengisi keheningan ruangan dengan ritme yang sengaja ia ciptakan untuk menenangk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD