“Pak Rama berhenti membandingkan status … saya meninggikan dan menghormatinya sebagai calon imam saya … kenapa Bapak begitu tega hendak menjatuhkannya di hadapan semua orang? Apa salah dia pada Bapak?!” Jemari ini menggenggam erat jemari kokohnya. Aku hendak membuatnya yakin jika aku ingin selalu bersamanya. “Ck! Dinda … mungkin matamu sudah tertutup … entah ilmu apa yang dia gunakan sehingga kamu gak bisa membedakan mana berlian dan mana pecahan kaca?” umpat Dwi Rama. “Siapa yang Bapak maksud berlian? Siapa yang Bapak maksud pecahan kaca? Bapak tidak bisa semena-mena menilai orang dengan memandang kasta?” Aku hendak maju ke depan. Rasanya ingin berteriak-teriak memaki Dwi Rama. Namun Bang Danes menahan lenganku. “Semua orang tahu, Din … siapa yang pantas dipilih?” ucap Dwi Rama sa

