Ardi terlihat gusar. Ia membenarkan duduknya sambil melihat ke arah Galih yang duduk di sampingnya. Pria berparas tampan itu menganggukkan kepalanya seolah memberi setuju dengan perkataan Rian barusan tanpa mengatakan apa pun.
"Baiklah kalau begitu, kebetulan kami akan tinggal beberapa hari lagi di sini. Nanti sehari sebelum kami kembali pulang. Kami harap kamu sudah memiliki jawabannya," balas Ardi yang hanya bisa pasrah menunggu jawaban Rania nanti. Dia hanya bisa berharap jika jawaban yang diberikan oleh Rania tidak mengecewakannya.
"Iya, Om. Aku harap Om tidak kecewa dengan jawabanku nanti," balas Rania kemudian.
"Kalau begitu, kami pamit pergi." Ardi dan Galih akhirnya keluar meninggalkan rumah Rania.
Rania dan Rian mengantar mereka sampai di depan rumah. Mereka terdiam selama beberapa sampai mobil yang mereka tumpangi sudah tidak terlihat lagi karena jarak.
"Kalau begitu, aku juga harus pergi, Om," pamit Rania kepada Rian, karena dia harus pergi menemui Elvan di rumahnya.
"Rania, tunggu dulu!" cegah Rian ketika Rania hendak pergi, membuatnya berhenti melangkah dan menoleh ke arah pamannya itu.
"Pikirkanlah baik-baik. Kesempatan seperti ini tidak akan pernah datang dua kali," ucap Rian membuat Rania memutar bola mata jengah. Dia malas jika Rian terus membahas hal ini, karena sampai kapan pun jawaban Rania akan tetap sama. "Oh iya, Om juga akan tinggal dulu disini sampai menunggu jawaban dari kamu."
"Terserah, Om, saja," balas Rania seraya melangkahkan kakinya kembali pergi meninggalkan Rian.
***
Rania pergi ke sebuah apartemen milik Elvan. Selain di hotel, mereka memang sering menghabiskan waktu di apartemen. Dia memasukkan kata sandi di pintu itu sebelum masuk, tetapi kata sandi salah. Rania kembali mencoba memasukkannya lagi, tetapi tetap saja kata sandi salah. Rania tidak mengerti, apa Elvan mengganti kata sandi pintunya?
Akhirnya, Rania hanya bisa menekan bel pintu yang berada di samping. Berharap Elvan membuka pintu untuknya. Namun, sudah berkali-kali Rania mencoba menekan bel dan juga mengetuk pintu tidak ada jawaban apa pun dari dalam.
"Mungkin Elvan marah padaku sampai dia tidak mau aku masuk ke apartemennya begitu saja." Rania tetap berpikir positif karena tidak mau berpikiran yang tidak-tidak terhadap Elvan.
Hingga seorang wanita paruh baya datang menghampirinya. Rania tahu betul wanita itu siapa. Dia adalah wanita yang selalu bekerja membersihkan apartemen milik Elvan setiap tiga hari sekali.
"Rania ngapain kesini?" Pertanyaan Lastri terasa ambigu. Jelas-jelas setiap hari Rania datang ke apartemen ini untuk bertemu dengan Elvan. Lalu, untuk apa Lastri bertanya seperti itu padanya?
"Aku ingin bertemu dengan Elvan, Bi." Rania berharap Lastri mau membukakan pintu untuknya.
"Tapi Tuan Elvan sudah lama tidak datang ke sini," jawabnya membuat Rania langsung mengerutkan kening.
"Terus Elvan kemana, ya?" tanya Rania penasaran.
Wanita bernama itu Lastri menggelengkan kepalanya pelan tanda bahwa dia tidak tahu. "Saya tidak tahu. Saya hanya disuruh terus membersihkan apartemen ini, tapi selama satu Minggu ini Tuan Elvan tidak pernah kelihatan."
Seketika itu juga perasaan Rania berubah menjadi cemas dan juga khawatir. Nomor ponselnya masih saja tidak aktif sampai sekarang.
“Kamu emangnya nggak tahu perginya Tuan Elvan kemana?” tanya Lastri sambil menatap Rania dengan tatapan heran, karena Lastri tahu betul jika Rania dan tuannya sangatlah dekat. Mana mungkin jika Rania tidak mengetahui keberadaan Elvan saat ini.
“Kamu ‘kan pacarnya, masa tidak tahu keberadaan Tuan Elvan sekarang," lanjutnya.
Rania hanya menatap Bi Lastri dengan tatapan bingung seraya mengusap tengkuk kepala yang sama sekali tidak gatal. Memang, Rania adalah kekasih dari Elvan, tetapi sudah satu minggu ini mereka tidak mengabari satu sama lain. Mengingat Elvan yang sepertinya marah tampak tidak ingin diganggu olehnya atau sengaja menjauh.
“Kita … lagi berantem, Bi.” Rania menjawab seadanya saja.
“Kalau gitu, kamu cari saja di rumahnya. Biasanya Tuan Elvan itu kalau nggak ada di sini, ya, di rumah,” balas Bi Lastri tampak memberi saran pada Rania agar bisa bertemu dengan Elvan.
Seketika itu juga Rania tersenyum setelah mendengar saran dari Lastri barusan. Di tengah kegundahan hati, akhirnya Rania memiliki secercah harapan agar bisa bertemu dengan kekasihnya. Lastri benar, tidak ada salahnya Rania menyusul ke rumah Elvan. Kalau pun Elvan tambah marah karena Rania tiba-tiba saja datang ke rumahnya. Setidaknya dia bisa bertemu dengannya dan menjelaskan apa yang terjadi selama satu minggu ini.
Memang, selama Rania menjalin hubungan dengan Elvan, dia tidak pernah diajak ke rumahnya dengan banyak alasan. Sehingga Rania lebih sering datang ke apartemen Elvan dibandingkan ke rumah orang tua kekasihnya itu.
“Tapi, Bi, aku boleh minta alamat rumah Elvan nggak?” pinta Rania karena tidak mengetahui alamat rumah kekasihnya dimana.
“Kamu nggak tahu alamat rumah Tuan Elvan dimana?” tanya Lastri tampak terkejut mendengar kenyataan bahwa Rania tidak mengetahui alamat Elvan setelah sekian lama menjalin kasih. "Kalian beneran pacaran, ‘kan?”
“Sudahlah, Bi. Bibi kan tahu sendiri kalau hubunganku dan Elvan itu sembunyi-sembunyi. Jadi, dia gak ngasih tahu rumahnya dimana karena takut orang tuanya tahu kalau aku adalah pacarnya. Elvan emang nggak pernah ngasih tahu aku rumahnya dimana.” Rania menjelaskan meski sedikit malu karena dia tidak pernah mengetahui alamat tinggal Elvan yang sebenarnya dimana.
“Neng, kalau pacaran itu kamu harus tahu asal-usul pacarmu bagaimana. Kalau ada apa-apa sama kamu, tapi kamu nggak tahu rumahnya dimana. Kamu mau gimana? Repot sendiri nantinya,” balas Lastri seraya berdecak pelan memberi nasihat agar Rania tidak gampang dibodohi.
Perkataan Lastri memang benar. Nyatanya, sekarang Rania sedang kebingungan sendiri mencari Elvan yang entah sedang dimana. Jika saja tidak ada Lastri mungkin Rania tidak akan pernah tahu dimana rumah kekasihnya. Rania tidak memikirkan asal-usul Elvan selama menjalin hubungan dengannya. Dia percaya sepenuhnya kepada Elvan karena dialah orang yang membuatnya nyaman dan paling mengerti hidupnya. Rania tidak peduli Elvan lahir dari keluarga mana. Selama Elvan berada di sisinya, sudah cukup untuk Rania mempercayainya sepenuh hati.
“Sebentar, Bibi mencari dulu kertas sama pena buat nulis alamatnya,” timpal Lastri yang hendak masuk ke dalam apartemen dan akan memberikan alamat tinggal Elvan yang sebenarnya karena merasa kasihan melihat Rania yang kebingungan itu.
“Tunggu, Bi!” Rania mencegah Bi Lastri untuk masuk ke dalam. “Ini tuliskan saja di catatan ponselku.”
Lastri hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil ponsel itu. Dia kemudian mengetik alamat rumah Elvan di catatan itu. Setelah selesai, Rania berterima kasih banyak ke Lastri karena sudah memberitahu alamat Elvan.
***
Rania turun dari mobil taksi yang ditumpangi, setelah sampai di depan sebuah rumah yang sama dengan alamat yang tertera di catatan ponselnya.
“Aku rasa memang ini rumahnya Elvan,” ucap Rania dengan suara bergumam.
Rania memperhatikan rumah yang ada di depannya itu. Rumah tiga tingkat dan juga luas. Dari luar saja sudah terlihat jika rumah itu mewah. Rania sampai terpesona selama beberapa saat karena melihat rumah yang begitu besar di depannya.
“Mas Elvan kayaknya emang orang kaya, deh,” ucap Rania lagi yang merasa kurang percaya diri setelah melihat rumahnya saja.
Rania pikir Elvan hampir sama dengannya, tapi ternyata Elvan berada di atasnya. Pagar rumahnya saja begitu tinggi berwarna gold seakan memberitahu dunia bahwa pagarnya terbuat dari emas. Memang, terlihat seperti itu. Dia berjalan ke arah pagar besi itu, tetapi salah satu dari dua orang penjaga yang berada di depan pagar langsung menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah pada Rania, tapi raut wajahnya terlihat dingin dan juga datar.