Rayenda masih terdiam di teras kelas sambil melihat dengan takut pada mejanya yang berada di pojok kiri belakang. Tiba-tiba, angin berembus cukup kencang hingga menerbangkan gorden-gorden yang menutupi jendela kelas. Rayenda melihat langit yang mulai mendung. Suara gemuruh juga mulai terdengar. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Dia kemudian cepat-cepat menyelesaikan aktivitas menyapunya dan membuatnya lupa pada rasa takutnya pada meja di pojok kiri belakang.
Setelah selesai menyapu, Rayenda meletakkan sapu di belakang pintu kelas, lalu berlari menuju mejanya untuk mengambil tas. Beberapa kali dia melihat lagi pada langit yang semakin menghitam melalui jendela kelas. Dia menggendong tasnya lalu cepat-cepat menutup semua jendela kelas.
“Hey!”
Oh, tidak. Suara gaib itu lagi. Suaranya selalu ada, tetapi wujudnya tak pernah terlihat.
“Siapa itu?!” teriak Rayenda dengan badan gemetar. Dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Apakah suara itu benar-benar milik hantu atau Rayenda saja yang sedang berhalusinasi?
“Akhirnya aku mengetahui namanya. Rayenda. Iya. Rayenda. Namanya bagus. Hai, Rayenda.”
Dada Rayenda kembang kempis mendengar suara itu. Angin memang berembus kencang dan hawanya juga sudah semakin dingin. Namun, Rayenda justru mulai berkeringat.
“Haaa …!” teriak Rayenda histeris sambil berlari kencang ke luar kelas.
“Tunggu aku!”
***
Rayenda melangkah cepat menyusuri jalan beraspal yang sepi dari kendaraan bermotor. Gemuruh masih saja terdengar, tetapi hujan masih belum turun. Laki-laki itu saling menggesekkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan kehangatan di kala angin bertiup semakin kencang hingga membuat dedaunan pada pepohonan lebat di sepanjang jalan melambai-lambai. Beberapa kali dia menengok ke belakang karena merasa ada sesuatu yang sedang mengikutinya. Namun, entah sudah yang keberapa kali dia menengok, tetap saja tak ada apapun di belakangnya.
“Aku harus membuatmu bisa melihatku.” Bisikan itu lagi.
Kali ini kepala Rayenda menoleh cepat ke belakang. Ah, sama saja. Tak ada siapa pun di sana. Dia menelan ludahnya. Bulu kuduknya berdiri semakin tinggi. Dia mempercepat langkahnya. Tiba-tiba, dia merasa ada seseorang sedang berjalan beriringan dengannya. Entah mengapa ada ketakutan untuk melihat ke sebelah kiri. Namun, dia memaksa kepalanya untuk menengok. Dia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini jika tidak berhasil mengetahui siapa yang berada di balik suara misterius itu.
“Ha!” teriak Rayenda sampai terjatuh. Bahkan rasa sakit pada bokongnya akibat menghantam aspal masih kalah jauh dengan rasa takut dan kagetnya setelah melihat sosok yang tiba-tiba berada di sebelah kirinya. Sosok itu berwujud seorang gadis yang mengenakan seragam yang sama dengan Rayenda.
“Hihihi. Bangunlah sendiri. Aku tidak bisa membantumu jika bukan kau sendiri yang memintanya,” ucap gadis berwajah pucat itu sambil tersenyum.
Alis Rayenda merapat setelah mendengar kalimat aneh yang baru saja keluar dari mulut gadis cantik itu. Rayenda bangkit sambil membersihkan bokongnya dari debu jalanan yang menempel.
“Hai,” sapa gadis itu dengan ceria.
“Si—siapa kamu?”
“Aku? Kau tidak tahu siapa aku? Kau yakin? Ayolah, Rayenda. Coba ingat-ingat dulu. Padahal, selama ini kita begitu dekat, lho.”
Lagi, alis Rayenda merapat. Sungguh. Sekeras apapun dia berusaha memutar memori masa lalunya, dia tetap tidak bisa mengingat siapa gadis yang kini berada di hadapannya itu. Dia belum pernah melihat wajah itu dan yakin bahwa ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
Rayenda menggelengkan kepalanya. “Aku nggak kenal sama kamu.”
“Ah. Kau sombong sekali.”
Rayenda memperhatikan mulai dari ujung kepala dan berhenti pada seragam lusuh yang dikenakan gadis itu. Sayang sekali. Andai saja Rayenda meneruskan pandangannya sampai pada kaki yang tidak menapak di jalan itu, dia pasti akan tahu siapa sebenarnya sosok yang sedang mengajaknya mengobrol itu.
“Kita satu sekolah?” tanya Rayenda begitu menyadari bahwa mereka menggunakan seragam yang sama. Sebuah seragam yang membedakan mereka dengan siswa dari sekolah menengah atas yang lain. Gadis itu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rayenda.
“Kamu bukan orang yang selalu bisik-bisik ke telinga kiri aku itu, ‘kan?” Entah mengapa Rayenda begitu curiga pada gadis itu, tetapi tidak ingin kecurigaannya itu benar.
“Memang aku yang selalu berbisik ke telingamu itu. Maaf, ya jika kau terganggu dengan ulahku itu. Hihihi.”
Mata Rayenda menyipit dan bibirnya merapat. Gadis aneh itu sukses membuatnya kebingungan setengah mati.
“Tunggu. Jadi, kalo itu memang kamu, terus kenapa aku nggak bisa liat kamu, padahal aku bisa denger suara kamu? Aku bahkan udah beberapa kali nengok ke sana ke mari, tapi aku tetap nggak liat kamu.”
Byur!
Hujan turun begitu saja dengan deras tanpa memberi aba-aba terlebih dulu melalui rintikan seperti biasa. Rayenda spontan melihat ke langit sambil menyipitkan kedua matanya. Tangannya terangkat untuk melindungi kepalanya dari guyuran air hujan itu. Karena merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu, Rayenda akhirnya memutuskan untuk pergi dengan berlari cukup kencang, tetapi tetap berhati-hati agar tidak sampai terhelincir.
Di sepanjang perjalanan pulang, Rayenda yang terus berlari tidak merasakan bahwa ada orang lain di belakang atau di sampingnya yang ikut berlari. Itu artinya, gadis itu tidak lagi mengikutinya. Ah, lega rasanya. Aneh memang. Rayenda merasa merinding ketika berada di dekat gadis itu, sama seperti ketika dia berada di kelasnya.
Akhirnya, Rayenda tiba di depan rumahnya. Dengan tubuh yang sudah basah kuyup karena hujan begitu deras, dia membuka pintu pagarnya lalu berlari kecil menuju teras rumah.
“Rayenda!” panggil seseorang.
Rayenda tidak langsung menoleh melainkan terus berlari hingga akhirnya dia berhasil menapakkan kakinya di teras rumah dan membuatnya tidak lagi ditimpa air hujan. Dia berbalik badan dan begitu terkejut ketika mendapati gadis aneh itu sedang berdiri di depan pintu pagarnya. Tunggu. Sejak kapan gadis itu ada di sana? Bukankah tadi tidak ada seorang pun yang mengikuti Rayenda sampai rumah?
Angin berembus kencang lagi hingga membuat rambut panjang yang terurai milik gadis itu beterbangan. Rayenda melongo dan seketika terpesona melihat betapa indahnya pemandangan yang sedang tersuguh di depannya itu. Saking terpesonanya, dia sampai tidak menyadari keanehan lain yang ada pada gadis itu. Gadis itu tidak terlihat basah sedikit pun sekalipun sedang berada di bawah hujan sederas itu.
Gadis itu melihat langit kelabu yang berada di atas kepalanya lalu kembali melihat Rayenda dengan wajah memelas untuk menciptakan rasa iba dalam hati laki-laki itu. Rayenda yang memang pada dasarnya adalah orang yang tidak tegaan, tiba-tiba berbalik badan lalu masuk ke rumahnya. Tak butuh waktu lama, Rayenda keluar dari rumahnya sambil membawa dua buah payung. Satu payung dia buka untuk melindungi tubuhnya dari hujan, satunya lagi akan dia berikan pada gadis itu.
Rayenda berjalan menghampiri gadis itu lalu menyodorkan payung yang masih tertutup ketika dia sudah tiba tepat di belakang pagarnya. “Kamu butuh ini, ‘kan?”
“Tidak, Rayenda. Bukan itu yang aku butuhkan.”
“Hah? Bukan ini? Tapi sekarang hujan dan apa lagi yang orang butuhin kalo bukan payung?”
“Aku kedinginan.”
Rayenda menggaruk kepalanya. “Ya, emang harusnya kedinginan. Emangnya siapa yang nggak akan kedinginan kalo lagi berada di bawah hujan kayak gini? Makanya aku kasih kamu payung.”
Rayenda kemudian diam. Gadis itu juga diam. Rayenda masih mencoba mengartikan sendiri maksud dan apa yang diinginkan gadis itu, sedangkan gadis itu memberikan kesempatan pada Rayenda untuk berpikir.
“Aaah …!” Mata Rayenda seketika membulat dengan alis terangkat. Akhirnya dia menemukan jawabannya. “Selain payung, kamu butuh jaket juga untuk menghangatkan badan kamu, ‘kan?”
“Tidak, Rayenda.”
“Lho!”
Derrrt!
Tiba-tiba terdengar suara petir yang begitu kencang memekakkan telinga dan seolah membuat langit tersobek. Rayenda spontan menundukkan kepalanya karena kaget sekaligus takut.
“Aku boleh masuk?” tanya gadis itu.
Rayenda kembali mengangkat kepalanya. Lagi-lagi pemandangan aneh. Bagaimana bisa gadis itu tidak terlihat ketakutan sedikit pun. Ah, sudahlah.
“I—iya. Kamu boleh masuk.” Rayenda mengizinkan. Memangnya siapa yang berani berada di bawah langit dalam situasi menyeramkan seperti ini?
Kasihan Rayenda. Dia mengira gadis itu ingin masuk ke rumahnya agar bisa berteduh dan mendapat kehangatan di kala cuaca sedang buruk seperti ini. Yang sebenarnya adalah, gadis itu ingin masuk ke hidup Rayenda. Laki-laki itu tidak tahu bahwa setelah ini, hidupnya akan berubah. Entah apa yang akan gadis itu bawa ke dalam hidup Rayenda, apakah sebuah kebahagiaan atau malapetaka.
Rayenda akhirnya mengizinkan gadis asing yang baru saja ditemuinya itu untuk masuk ke rumahnya. Mereka bersama-sama berjalan hingga akhirnya tiba di ruang tamu.
“Duduklah. Aku mau ganti baju dulu dan ambilin handuk untuk kamu. Kamu mau minum apa?” tanya Rayenda.
Meskipun sudah diminta duduk, gadis itu tetap berdiri sambil terus tersenyum pada Rayenda. “Aku tidak ingin apapun lagi karena kau telah mengizinkanku masuk.”
Rayenda sedikit menganga. Sebenarnya siapa orang yang sedang dia hadapi ini? Bagaimana bisa ada orang seaneh ini? Tiba-tiba muncul, tidak takut pada petir, bahkan tidak menginginkan apapun lagi setelah diizinkan masuk.
Gadis itu tersenyum semakin lebar hingga membuat matanya menyipit. “Aku senang jika kau terus menatapku seperti itu.”
Rayenda tersadar dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Padahal dia sedang melamun memikirkan keanehan gadis itu dan bukannya sengaja ingin menatapnya.
Rayenda kemudian pergi meninggalkan gadis itu tanpa mengatakan apapun lagi. Dia sudah paham sekarang bahwa semakin banyak pertanyaan yang dia lontarkan pada gadis itu, maka dia akan semakin dibuat kebingungan.
Rayenda berjalan menaiki anak tangga. Namun, baru dua anak tangga yang berhasil dia lewati, dia tiba-tiba berhenti sambil memikirkan sesuatu karena akhirnya menyadari ada keanehan yang lain.
“Kaki cewek itu … kok rasanya nggak napak di ….” Rayenda berucap dalam hati.
Rayenda langsung berbalik badan dan melihat pada gadis yang masih setia berada di ruang tamu sambil tersenyum itu. Ah, sayang sekali. Gadis itu malah sudah duduk di atas sofa dan kakinya tak berhasil dilihat oleh Rayenda karena tertutupi oleh meja. Ingin menunduk agar bisa melihat apakah kaki gadis itu benar-benar menapak di lantai atau tidak, tetapi Rayenda takut jika akan disangka tidak sopan.
“Ck. Aku ini kenapa? Aku udah mulai nggak waras dengan berpikir bahwa cewek itu adalah hantu karena sekilas aku liat kakinya melayang. Ah, mana mungkin dia hantu.” Rayenda lagi-lagi membatin sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada apa, Rayenda?” tanya gadis itu.
Rayenda tersadar lalu menggeleng sekali lagi. Dia kemudian kembali berbalik badan lalu melanjutkan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Rayenda menutup pintu kamarnya lalu mengganti seragam sekolahnya yang basah hingga membuatnya semakin menggigil dengan pakaian baru dari dalam lemarinya.
“Hoaaam ….” Rayenda menguap dengan mulut menganga lebar.
Rayenda melihat ke sekelilingnya. Matanya kemudian terhenti pada sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan tekstur yang empuk. Apalagi jika bukan tempat tidur? Dia berjalan sempoyongan dengan mata sayup-sayup lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sana.
Buk!
“Hoaaam ….” Rayenda menguap sekali lagi sampai akhirnya matanya benar-benar tertutup dan dia kehilangan kesadaran. Suasana sejuk karena hujan seperti ini memang punya kekuatan yang besar untuk membuat seseorang ingin tidur.