Kriiing!
Jam beker Rayenda berbunyi di pukul setengah enam pagi itu. Dia merentangkan tangannya. Perlahan-lahan dia membuka matanya sambil mengucak-ngucaknya.
“Haaa!” teriak Rayenda begitu melihat Deinara masih duduk di pojok sambil menatapnya dengan senyuman.
“Cepat sekali kau bangun. Ayo, tidurlah lagi,” kata Deinara.
Rayenda bangkit dari posisi tidurnya. Sekarang dia duduk di atas tempat tidur. “Ke--kenapa kamu masih ada di sini?”
“Aku akan selalu ada di dekatmu. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Rayenda, kau adalah milikku.”
Alis Rayenda merapat. Perkataan Deinara itu membuatnya takut.
“Aku mau mandi. Aku minta tolooong banget, kamu jangan ikut masuk ke kamar mandi juga, ya.”
Deinara tersenyum. “Baiklah, Sayang.”
“Heh!”
…
Rayenda berjalan menuju sekolahnya. Tentu saja Deinara mengikutinya. Tiba-tiba hantu itu merangkul lengan kanan Rayenda.
“Heh, apa-apaan, nih?!” Rayenda langsung menjauh dari Deinara. “Kamu hantu. Harusnya kamu nggak bisa sentuh aku.”
Deinara kembali mendekat. “Kemarin kan aku juga menyentuhmu. Kenapa baru sekarang bertanya seperti itu?”
Bola mata Rayenda bergerak ke atas. Dia mengingat-ingat kira-kira kapan Deinara menyentuhnya.
Deinara kembali merangkul lengan kanan Rayenda. Kali ini laki-laki itu tak bisa menjauh.
“Semenjak kau mengizinkanku masuk, aku bebas melakukan apa saja padamu. Tenang saja, aku tidak akan mencelakaimu.”
Rayenda menelan ludahnya. Lagi-lagi hantu itu membuatnya takut.
…
“Buatin PR aku!” Abed meletakkan bukunya di atas meja Rayenda.
Rayenda mengambilnya dan langsung mengerjakannya.
“Jonas! Zian! Vero!” panggil Abed pada tiga sahabatnya. “Kalian juga belum ngerjain PR, kan? Sini, suruh ni anak aja yang kerjain.”
Jonas, Zian dan Vero saling bertatapan sambil tersenyum licik. Mereka bergegas mendatangi meja Rayenda lalu ikut meletakkan buku PR mereka di sana.
“Rayenda,” panggil Deinara yang duduk di pojok kiri, tak jauh dari tempat duduk Rayenda, “Bagaimana jika aku membunuh mereka berempat?”
“Eh, jangan!” teriak Rayenda sambil melihat panik pada Deinara.
“Heh, apanya yang jangan, hah?” tanya Abed yang kaget karena tiba-tiba Rayenda berteriak.
“Mungkin maksudnya dia nggak mau ngerjain tugas kita, Bed,” kata Jonas.
“Eh, emmm, e--enggak. Aku mau kerjain. A--aku kerjain sekarang.” Rayenda cepat-cepat mengerjakan tugas keempat temannya itu sebelum mereka semakin marah.
“Dasar aneh,” umpat Zian.
…
Siang itu di jam istirahat, Rayenda duduk di atap sekolah. Itu adalah tempat favoritnya. Tempat yang tenang, nyaman dan aman dari gangguan Abed dan kawan-kawan. Di sebelahnya, Deinara duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu kanan Rayenda.
“Deinara, jangan ajak aku ngobrol pas lagi di depan orang-orang. Aku hampir aja disangka gila gara-gara kejadian tadi,” kata Rayenda.
“Baiklah, Sayang.”
Rayenda langsung menjauhkan bahunya dari Deinara hingga membuat kepala hantu itu terangkat.
“Berhenti panggil aku ‘Sayang’. Cukup panggil nama aku aja.” Rayenda agak kesal.
“Pilih. Kau mau aku ajak kau berbicara di depan orang lain, atau mau kupanggil ‘Sayang’?”
Rayenda mendengus kesal. “Ya udah lah. Panggil ‘Sayang’ aja. Toh juga nggak ada orang lain yang bisa denger kamu selain aku, kan?”
Deinara menggangguk senang lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rayenda. “Abed dan teman-temannya selalu berbuat jahat padamu. Kenapa kau tidak membalasnya?”
“Kamu pikir aku berani?”
“Memangnya apa yang kau takutkan dari mereka? Mereka bukan hantu sepertiku.”
“Mereka bisa mukul, Deinara.”
“Kau bisa balik memukul mereka.”
“Kamu pikir aku sendiri akan menang melawan mereka berempat?”
“Sendiri? Sekarang ada aku bersamamu. Baiklah, jika kau takut pada mereka, serahkan saja mereka padaku.”
“Eh? Apa yang bakal kamu lakuin ke mereka?”
“Kau lihat saja nanti. Intinya, aku akan selalu melindungimu.”
…
“Tugasnya adalah berdiaog dalam bahasa Inggris mengenai film kesukaan kalian. Kerjakan ini secara berpasangan. Minggu depan kalian sudah harus siap berdialog tanpa teks di depan kelas,” jelas guru yang mengajar saat itu.
“Baik, Bu.” Seluruh siswa kompak.
Teng teng teng ….
Pas sekali pemberian tugas itu ditutup dengan lonceng pertanda pulang sekolah. Guru yang baru saja memberi tugas itu kemudian keluar dari kelas begitu para siswa selesai memberi salam dan mengucapkan terima kasih dengan diaba-abai oleh ketua kelas.
Deinara mengamati seisi kelas. Tampak para siswa sibuk mencari pasangan mereka.
“Rayenda, siapa yang akan menjadi pasanganmu?” tanya Deinara.
Rayenda hanya mengangkat bahunya. Dia tahu tidak ada yang mau berpasangan dengannya. Andai saja Deinara adalah manusia, pasti tidak akan sulit seperti ini mencari pasangan berdialog untuk Rayenda.
“Rayenda,” panggil Alika yang kini sudah berdiri di sebelah meja Rayenda. “Kamu udah dapat pasangan untuk tugas bahasa Inggris?”
Rayenda menggeleng pelan.
“Kalo bareng aku aja gimana?” tawar Alika.
Rayenda menatap agak kaget. “Serius?”
Alika mengangguk yakin.
“Iya, aku mau.” Rayenda senang.
“Kita buat sepulang sekolah, yuk. Biar bisa cepet selesai,” usul Alika.
Rayenda mengangguk lagi.
“Buatnya di rumah kamu, ya.”
“Hah?” Rayenda kaget. “Ke--kenapa nggak di rumah kamu aja?”
“Rumah aku terlalu jauh. Kalo buatnya di rumah kamu, jadinya kita bisa jalan kaki bareng. Itu pasti menyenangkan.”
“Emm, y--ya udah deh.”
…
Sesuai rencana, sekarang Rayenda dan Alika jalan kaki bersama menuju rumah Rayenda. Di sepanjang perjalanan, Deinara yang berada di sisi kiri Rayenda terus merangkul lengan kanan laki-laki itu.
“Aku kira rumah kamu deket,” kata Alika yang berada di sebelah kiri Rayenda. Gadis itu terengah-engah, mulai kelelahan.
“Deket kalo naik kendaraan,” jawab Rayenda.
Alika tertawa. “Benar juga.”
“Ray, aku mencintaimu,” kata Deinara.
Alis Rayenda merapat. Dia berusaha tidak melihat pada Deinara dan tetap fokus pada Alika.
“Aku saaangat mencintaimu, Rayenda,” kata Deinara lagi sambil memeluk lengan kanan Rayenda semakin erat.
“Diam!” Rayenda kesal.
Alika kaget. “Maaf, Rayenda. Aku cerewet, ya? Emm, aku nggak akan ngomong lagi.” Kepala Alika tertunduk. Dia merasa tidak enak.
“Eh. Bu--bukan kamu, Alika.”
Alika kembali menegakkan kepalanya. “Bukan aku? Terus siapa yang kamu minta diam? Di sini cuma ada kita berdua, kan?”
“Emm, itu .…” Rayenda terdiam, memikirkan alasan masuk akal apa yang harus dia katakan agar Alika tidak salah paham.
“Itu apa, Rayenda?”
“I--itu .… Ah, tadi ada lalat beterbangan di dekat telinga aku. Aku keganggu, makanya sampe ngomong kayak tadi. Ehehe.”
“Kamu minta lalat diam? Memangnya dia akan turutin kamu?”
“Ehehe.” Rayenda hanya cengir kuda sambil menggaruk punggung lehernya.
Alika tersenyum gemas. “Kamu unik.”
Rayenda tampak biasa saja mendengar perkataan Alika itu. Namun, tidak dengan Deinara. Hantu itu dibuat kesal karena Alika terlihat sangat tertarik pada Rayenda.
…
Sesampainya di tempat tujuan, Rayenda agak ragu mengizinkan Alika masuk ke rumahnya. Dia takut mamanya akan berpikir yang tidak-tidak.
“Kapan kita mau masuk?” tanya Alika.
“Ah? Se--sekarang. Silakan masuk.” Rayenda mempersilakan.
“Kamu dong yang duluan. Kan ini rumah kamu.”
“Oh iya. Hehehe.”
Deinara menatap kesal pada Rayenda. “Kenapa kau terlihat salah tingkah begitu? Kau tidak menyukai gadis itu, kan?”
Sontak Rayenda menatap tajam dan kaget pada Deinara.
“Siapa ini, Nak?” tanya Mama yang tiba-tiba datang.
Rayenda mendadak gugup. “I--ini .…”
“Saya Alika, Tante. Temen kelasnya Rayenda. Kami mau buat tugas bareng. Boleh kan, Tante?” Alika tersenyum manis.
“Ya boleh dong, Alika.” Mama ikut tersenyum melihat gadis cantik di depannya itu. “Ayo, masuk.”
“Alika mau minum apa?” tanya Mama begitu mereka tiba di ruang tamu.
Alika tertawa kecil. “Apa aja boleh kok, Tan.”
Mama tersenyum lalu pergi ke dapur.
Rayenda dan Alika lalu duduk berselebahan di depan sebuah meja.
“Apa film kesukaan kamu, Rayenda?” tanya Alika.
“According to our butler.”
“Eh? Itu juga film kesukaan aku.”
Rayenda tampak kaget. “Masa’ sih?”
“Iya, Ray. Film itu emang bagus banget. Nggak tau udah berapa kali aku nonton, tetap aja nggak bosen-bosen.”
“Sama.”
Rayenda dan Alika tertawa.
Deinara memanyunkan bibirnya. Dia cemburu melihat kedekatan Rayenda dan Alika.
Pang!
Rayenda dan Alika spontan melihat ke lantai. Sebuah vas bunga berbahan aluminium sudah tergeletak di sana.
“Ahaha. Itu pasti angin.” Rayenda mencoba mencairkan suasana karena melihat Alika yang terkejut dan ketakutan.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Bulu kuduk Alika berdiri ketika bisikan terdengar tepat di telinga kirinya.
“Pulang!” kata bisikan itu.
Alika memegang punggung lehernya sambil melihat ngeri ke sisi kirinya. Tak ada siapa pun di sana.
“Pulang sekarang atau mati!” bisikan itu kini terdengar semakin menyeramkan.
“Em, Ray. A--aku mau pulang sekarang, ya,” kata Alika dengan takut.
“Lho. Kan tugasnya belum .…” Perkataan Rayenda terpotong.
“Besok aja kita buat di sekolah. Daaa, Rayenda.” Alika cepat-cepat bangkit dan keluar dari rumah Rayenda.
“Hihihi ….” Deinara tertawa.
“Tadi itu ulah kamu, ya?” Rayenda curiga.
“Iya, Sayang.”
“Kenapa kamu lakuin itu?”
“Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan gadis itu.”
“Deinara, kami hanya ngerjain tugas bareng.”
“Iya, dan itu membuatku cemburu.”
Rayenda membuang napas kasar. “Terus sekarang gimana caranya aku buat tugas kalo nggak ada pasangan?”
“Bukannya tadi gadis itu bilang bahwa kalian akan mengerjakannya besok di sekolah?”
“Iya, dan kamu bakal cemburu lagi. Kamu bakal ganggu dia lagi. Dia akan ketakutan lagi dan kami nggak jadi ngerjain tugas lagi.”
Deinara tersenyum. “Tenang saja. Aku tidak akan cemburu jika kalian bisa menjaga jarak.”
“Tadi kamu nggak bilang sesuatu yang menyeramkan sama Alika, kan?”
“Jangan khawatir, Sayang. Aku hantu baik. Aku hanya mengatakan padanya bahwa jika dia tidak segera pulang dari rumahmu, maka dia akan mati.”
“Deinara!”
“Ada apa, Ray? Mana Alika dan siapa Deinara?” tanya Mama dengan nampan dan dua gelas minuman di tangannya.
“Em, Alika udah pulang, Ma. Katanya besok aja buat tugasnya. Kayaknya dia lagi ada urusan sekarang.”
“Terus Deinara?”
“A … itu … ka--kayaknya Mama salah denger. Aku nggak sebut nama itu tadi. Me--memangnya, siapa itu Deinara?”
“Aku adalah milikmu, Rayenda,” kata Deinara tepat di telinga Rayenda.
Mama menghela napas. “Kamu makin aneh aja akhir-akhir ini, Ray.” Mama kembali ke dapur.
…
Malam itu Rayenda berdiri di balkon kamarnya sambil melihat langit malam yang dipenuhi beribu-ribu bintang. Di sebelahnya, Deinara menyandarkan kepalanya di bahu kiri Rayenda.
“Ngomong-ngomong Deinara, aku penasaran. Sebenarnya apa yang buat kamu suka sama aku?” tanya Rayenda.
Deinara tersenyum. “Karena semenjak kehadiranmu di kelas itu, aku tidak pernah lagi merasa kesepian.”
“Hah? Kok bisa?”
“Sebelumnya tidak ada satu siswa pun yang mau duduk di bangku pojok kiri belakang. Kau adalah orang pertama yang duduk di sana.”
Rayenda tersenyum kecut. “Abed yang suruh aku duduk di sana. Emm, waktu kamu masih hidup, tempat duduk kamu di bangku pojok kiri belakang itu, ya?”
“Tidak, Rayenda. Aku duduk di pojok kanan depan. Yang duduk di pojok kiri belakang adalah Hans.”
“Hans? Siapa dia? Pacarmu?”
Deinara diam.
Rayenda menoleh pada hantu di sebelahnya itu. “Ada apa, Deinara?”
“Dia bukan pacarku. Tapi aku menyukainya. Hanya saja, aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Aku tidak berani. Di saat aku berani dan berencana untuk mengungkapkannya, dia malah lebih dulu meninggalkanku untuk selama-lamanya.”
“Hah? Di--dia meninggal dunia?”
“Iya, Rayenda.”
“Kok bisa?”
“Pagi itu, aku sudah siap untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku dan dia selalu menjadi orang pertama yang tiba di sekolah. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku padanya ketika hanya ada kami berdua di kelas. Saat aku masuk ke kelas, di pojok kiri belakang dia duduk dengan kepala yang ditidurkan di atas meja. Begitu aku mendekatinya, aku lihat tubuhnya sudah berlumuran darah. Dia sudah meninggal. Aku tidak tahu apa yang menjadi penyebab kematiannya.”
“Apa dia dibunuh oleh seseorang, ya?” tebak Rayenda.
“Entahlah, Rayenda. Aku juga sudah lebih dulu meninggal sebelum penyebab kematian Hans terkuak.”
“Lalu, kamu meninggal karena apa?”
“Bunuh diri. Aku frustasi, Rayenda. Dibanding keluargaku, Hans adalah orang yang paling peduli padaku.”