Tujuh

1048 Words
“Kata dokter, selain anemia, asam lambungmu juga naik, Hel. Apa selama ini kamu tidak makan dengan baik?” tanya Nathan dengan tatapan sendu. Saat ini, mereka berada di ruang rawat Rachel. Wanita itu masih memilih bungkam dan menatap keluar jendela ruangan yang menunjukkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan langit yang gelap. “Sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti ini, Hel?” tanya Nathan dengan serius menatap Rachel yang terus menghindari tatapannya. Nathan belum menanyakan apa pun tentang rekaman cctv yang dia lihat tentang kondisi Rachel. Dia menunggu waktu yang tepat sampai Rachel sehat dan keluar dari rumah sakit. Rachel masih menatap ke luar jendela, tidak segera menjawab pertanyaan Nathan. Dalam hatinya, ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi bibirnya terasa terlalu berat untuk mengucapkannya. “Aku hanya lelah, Nathan,” gumamnya akhirnya, masih tanpa menoleh. Nathan menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang, memastikan jaraknya cukup dekat tanpa membuat Rachel merasa terpojok. “Kalau kamu lelah… kenapa kamu tidak bilang?” tanyanya pelan, berusaha menahan gejolak emosinya sendiri. Rachel tersenyum miris. “Dan kalau aku bilang, apa itu akan mengubah sesuatu?” Nathan terdiam. Itu adalah tamparan baginya. Rachel akhirnya menoleh, menatap Nathan dengan mata yang penuh luka. “Aku sudah sering mencoba bicara, Nathan. Aku sudah memberi banyak tanda. Tapi kamu selalu sibuk. Selalu pergi. Selalu punya alasan untuk tidak benar-benar melihatku.” Napas Nathan tercekat. Kata-kata Rachel menyakitinya lebih dari yang ia duga. “Aku tidak menyalahkanmu,” lanjut Rachel. “Kamu memang seperti itu sejak dulu. Aku yang salah, karena berharap lebih.” “Tapi sekarang aku di sini,” kata Nathan dengan suara yang lebih tegas. “Aku di sini, Hel. Aku melihatmu. Aku mendengarkanmu.” Rachel menatapnya lama, seolah mencari kebohongan dalam tatapan pria itu. Tapi yang ia lihat hanyalah ketulusan dan penyesalan yang begitu dalam. “Jadi, apa kamu akan tetap pergi terbang besok?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar datar. Nathan tertegun. Itu bukan pertanyaan biasa. Itu adalah ujian. Dan ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang lebih penting daripada pekerjaannya. “Aku tidak akan pergi,” jawab Nathan mantap. “Aku akan tetap di sini, bersamamu.” Rachel yang mendengar jawaban itu, tidak bisa berkata apa-apa selain diam dan tiba-tiba menghela napasnya. “Kurasa, aku tidak bisa berharap apapun lagi padamu, Nathan. Harapanku padamu sudah terlalu sering pupus,” jawabnya. Kata-kata Rachel menusuk Nathan lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan. Hatinya mencelos. Ia sudah mengatakan bahwa ia akan tetap di sini, bersamanya. Tapi Rachel... Rachel seolah sudah berhenti percaya. "Hel, aku serius," ucap Nathan, suaranya lebih pelan, nyaris putus asa. "Aku akan tetap di sini. Aku tidak akan pergi." Rachel tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan. "Kamu bilang begitu sekarang, Nathan. Tapi berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Lalu setelah itu, pekerjaanmu akan memanggilmu lagi, dan aku... aku akan kembali sendirian." Nathan menggeleng, mencoba meraih tangan Rachel, tapi wanita itu menarik tangannya lebih dulu. "Kamu tahu?" Rachel menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak pernah membenci pekerjaanmu. Aku tahu itu mimpimu. Tapi... aku juga ingin menjadi bagian dari duniamu, bukan hanya seseorang yang kamu tinggalkan dan harapkan tetap menunggumu di rumah." Nathan meremas tangannya sendiri. "Kamu adalah duniaku, Rachel," suaranya serak. "Dan aku bodoh karena terlalu lama tidak menyadarinya." Rachel menutup matanya, menahan air mata yang mulai menggenang. "Tapi aku sudah lelah, Nathan..." "Lalu biarkan aku ada di sini," kata Nathan dengan suara bergetar. "Biarkan aku memperbaiki semuanya. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang aku butuhkan, aku akan berusaha." Rachel menatapnya sekali lagi, dan kali ini, tatapan itu penuh keraguan. Ia ingin percaya, tapi hatinya sudah terlalu sering kecewa. Jadi, apakah ia masih sanggup berharap? “Aku tau, tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan. Tidak mudah berharap pada sesuatu yang berkali kali membuatmu kecewa. Tapi, untuk sekarang, jangan pikirkan apapun, ya. Kalau kamu lelah, istirahat dan jangan memikirkan hal yang berat. Aku akan di sini, menemanimu setiap saat. Jangan takut apa pun, Hel. Sekarang cukup nikmati saja dan turutin keinginanmu padaku, jangan melawannya,” ujar Nathan dengan serius hingga tatapan mereka terpaut satu sama lain. “Jangan cemaskan apapun, kamu aman bersamaku, Hel.” Rachel masih diam, hanya menatap Nathan tanpa ekspresi yang jelas. Kata-kata itu seharusnya bisa menenangkan hatinya, tapi bagian dalam dirinya masih menolak untuk percaya. Terlalu banyak malam yang ia lalui sendirian, terlalu banyak harapan yang ia genggam hanya untuk hancur dalam kekecewaan. "Apa kamu benar-benar akan tetap di sini?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. Nathan mengangguk mantap. "Ya. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Rachel menatapnya lama, seolah mencari kebohongan dalam sorot matanya. Tapi Nathan tetap teguh. Akhirnya, Rachel menghela napas panjang. Ia tahu dirinya terlalu lelah untuk bertengkar, terlalu lelah untuk terus merasa marah. Jadi untuk saat ini, ia memilih menyerah pada kelelahan itu. "Baiklah," ujarnya pelan, lalu berbaring kembali, memejamkan mata. "Aku ingin tidur." Nathan tersenyum tipis, meski hatinya masih diliputi kecemasan. "Tidurlah, aku akan tetap di sini." Rachel tidak menjawab, hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan yang mulai merayap pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa cukup aman untuk tidur tanpa rasa takut. Baru beberapa saat Rachel menutup matanya, wanita itu kembali membuka mata. “Ada apa? Kamu tidak bisa terus? Atau merasa gelisah?” tanya Nathan. “Aku-” Rachel terdiam cukup lama. Tiba-tiba Nathan memegang tangan wanita itu membuatnya menoleh ke arah Nathan dengan kernyitan di dahi. “Kalau kamu merasa gelisah. Genggam tanganku dan tidurlah, aku harap itu bisa meringankan kegelisahanmu dan bisa tidur nyenyak,” ucap Nathan tersenyum pada istrinya. Rachel menatap tangan Nathan yang menggenggamnya erat, seolah pria itu takut jika ia melepaskan, Rachel akan menghilang. Ada sesuatu dalam tatapan Nathan malam ini—sesuatu yang tulus, sesuatu yang selama ini ia rindukan. Tapi bisakah ia mempercayainya? Ia menggigit bibirnya ragu, lalu akhirnya menghela napas pelan. Tangannya sedikit bergerak, jemarinya meremas tangan Nathan dengan lemah. Nathan tersenyum kecil. "Aku di sini, Hel. Aku tidak akan pergi." Rachel tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya lagi, dan untuk pertama kalinya, genggaman tangan Nathan terasa cukup untuk menenangkannya. Hanya butuh beberapa menit sebelum napasnya mulai melambat, dadanya naik turun dengan ritme yang lebih tenang. Nathan mengamati wajah istrinya yang kini tertidur, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca melihat Rachel. “Seberat apa trauma kamu, Hel?” batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD