Lima

819 Words
“Jadi, kamu akan kembali pada Nathan, Hel?” tanya Laela. Saat ini, mereka sedang bersama di meja makan setelah anak-anak Laela yang seorang janda, pergi sekolah. “Aku meminta waktu untuk memikirkannya. Mungkin perceraian akan tertunda. Dia akan menunggu keputusanku,” ucap Rachel. Laela menatap Rachel dengan sorot mata penuh pertimbangan. Ia menyendok sup ke dalam mangkuknya dengan gerakan perlahan, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan. "Kamu masih mencintainya, kan?" tanya Laela akhirnya. Rachel tidak langsung menjawab. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya dengan sendok, tatapannya kosong. "Cinta bukan satu-satunya alasan untuk bertahan, Tante," ujarnya pelan. "Aku lelah, aku sakit hati. Dan Nathan... dia terlalu sering menganggap keberadaanku tidak sepenting pekerjaannya." Laela menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tapi dia sedang berusaha, Rachel. Dia bahkan mau ikut program kehamilan, sesuatu yang selama ini selalu kamu inginkan, dan dia selalu menundanya. Ini kesempatan kalian." Rachel terkesiap, hatinya mencelos. Benar, selama ini dia memang ingin memiliki seorang anak. Tapi apakah semua luka yang Nathan berikan bisa sembuh hanya dengan janji program hamil? "Aku takut, Tante," suaranya hampir seperti bisikan. "Aku takut ini hanya janji manis sesaat. Aku takut setelah aku kembali, setelah aku memutuskan untuk bertahan... dia akan kembali seperti dulu. Sibuk dengan pekerjaannya, lupa bahwa aku juga ada. Dan aku… aku sangat takut sendirian dan kesepian lagi." Laela meraih tangan Rachel yang gemetar, menggenggamnya erat. "Tenang, Hel.” Laela berusaha meredakan perasaan cemas yang dirasakan Rachel. “Kalau kamu masih mencintainya, kamu beri dia tenggang waktu. Minimal tiga sampai enam bulan. Kalau dia melakukan hal yang sama lagi, kamu bisa langsung menggugatnya,” ucap Laela. Rachel menatap Laela dalam-dalam. Bibirnya bergetar, tapi ia akhirnya menjawab dengan suara mantap, " Dan aku akan pergi. Kali ini, untuk selamanya." “Ya, kamu benar. Lakukan itu, Nak. Jangan siksa dirimu sendiri seperti ini, oke.” Laela masih mengusap tangan Rachel dengan lembut. Berusaha menenangkannya. “Dan Rachel, apa kamu tidak berniat memberitahu Nathan tentang kondisimu?” tanya Laela menatap Rachel dengan tatapan sendu. Rachel menggelengkan kepalanya cukup kuat. “A-aku tidak mau dia tau. Aku takut, dia… dia mengasihaniku, aku takut dia malah jadi takut padaku,” gumamnya dengan sorot mata penuh kecemasan dan berkaca-kaca. Kondisi Rachel tampak lebih rumit dari yang terlihat. Laela menatapnya dengan prihatin, tangannya masih menggenggam erat jemari Rachel yang sedikit gemetar. "Kamu yakin bisa menyembunyikan ini darinya?" suara Laela lebih lembut kali ini. "Bagaimana kalau dia tahu dari orang lain? Atau... kalau sesuatu terjadi padamu?" Rachel mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke arah jendela. Di luar, angin bertiup pelan, menggerakkan dedaunan di halaman kecil rumah Laela. "Aku hanya butuh waktu, Tante," ucapnya lirih. "Setidaknya sampai aku yakin dengan keputusanku. Kalau aku akhirnya memilih kembali padanya... mungkin aku akan memberitahunya. Tapi kalau tidak... lebih baik dia tidak tahu." Laela menghela napas panjang. Ada begitu banyak beban di pundak keponakannya ini, dan ia hanya bisa berharap Rachel tidak membuat keputusan yang nantinya akan ia sesali. "Baiklah, Rachel. Tapi ingat, kamu tidak sendirian. Kalau kamu butuh apa pun, aku ada di sini." Rachel tersenyum tipis, meskipun sorot matanya masih menyiratkan kegundahan yang mendalam. "Terima kasih, Tante." Sementara itu, Nathan duduk di dalam kokpit pesawatnya yang masih terparkir di bandara. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat, pikirannya melayang pada percakapan terakhirnya dengan Rachel. "Ayo program hamil," itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi malam. Sebuah tawaran yang bahkan membuatnya terkejut sendiri. Dia tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat, tapi satu hal yang dia yakini, dia tidak akan pernah membiarkan Rachel pergi begitu saja. Dia hanya berharap... kali ini, dia tidak terlambat untuk memperbaiki semuanya. Nathan menghela napas panjang, menatap panel kontrol di depannya tanpa benar-benar melihat. Suara lalu lalang di radio komunikasi pun hanya menjadi dengungan samar di telinganya. Rachel masih ragu. Itu jelas dari caranya menatapnya tadi malam, ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan sekadar kemarahan atau kekecewaan... tapi ketakutan. "Kenapa kamu begitu takut, Rachel?" gumam Nathan pelan. Ponselnya bergetar di saku celana. Dengan cepat, ia meraihnya dan melihat sebuah pesan masuk. Harapannya sempat melambung tinggi, mengira itu dari Rachel. Tapi ternyata... bukan. Pesan dari rekannya, Kapten Adrian. "Bro, kita take off dalam dua jam. Kamu baik-baik saja?" Nathan mengetik balasan singkat, "Ya, aku baik-baik saja." Ia memasukkan ponselnya kembali, lalu menghela napas sekali lagi. Dia harus menyelesaikan satu penerbangan hari ini, tetapi pikirannya tetap terpaku pada satu hal yaitu Rachel. Nathan meraih headset-nya dan memasangnya, bersiap untuk penerbangan. Namun, saat tangannya hendak menekan tombol komunikasi, layar ponselnya kembali menyala dengan sebuah email masuk. Itu adalah laporan bulanan pemakaian kartu yang dia berikan pada Rachel. Biasanya, Nathan tidak peduli dengan apapun transaksi yang dilakukan Rachel, tapi kali ini dia penasaran. Dia ingin tau apa saja yang wanita itu lakukan selama satu bulan ini. Kening Nathan mengerut dalam saat melihat transaksi di sana. Ada empat transaksi yang dilakukan Rachel di rumah sakit. Dan yang membuat Nathan bingung adalah dokter spesialis yang ditemui Rachel. Spesialis kejiwaan... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD