Untuk beberapa saat lamanya pasien-pasien lain di kamar-kamar sebelah harus bersabar. Satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan hanyalah mengelus d**a. Karena pertemuan sepasang sahabat yang sudah satu bulan tidak bersua ini benar-benar memekakan telinga dan menguras kesabaran. "BARRAAAAAAAA!" Rashi berteriak kencang sembari berlari memeluk Barra brutal. Rashi menggosok rambut tipis Barra. Ia juga mencubit pipi tirus pria yang lebih tua darinya itu. Sementara Xavier sebagai kekasih hanya bisa bersabar, menenangkan hatinya sendiri, supaya tak darah tinggi. Xavier memang harus lebih banyak belajar membiasakan diri dalam situasi seperti ini sepertinya. "Nih, nih, titipan Mama buju buneng. Masyaallah." Rashi mengeluarkan isi tasnya satu per satu. Ada beberapa jaket, baju hangat, sweat pant

