Urusan berkebun ternyata memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sekalipun Alexa memulai berkebun di pagi hari, baru tengah hari urusan itu selesai. Sekalipun melelahkan dan kotor, Alexa tetap bahagia. Selama berkebun, dia kembali menemukan Marco yang dulu dikenalnya. Marco yang bisa membuat hatinya berdebar. Bahkan, Alexa sempat sedikit kecewa ketika kegiatan berkebun berakhir.
Alexa baru saja akan membersihkan badannya saat Tante Rosa memanggilnya lagi. Alexa pikir, dia akan diijinkan pulang begitu urusan berkebun mereka beres. Tapi ternyata Alexa salah. Tante Rosa memanggilnya untuk menyuruhnya mandi dan mulai membantunya di dapur setelah itu. Besok pagi, Tante Rosa sengaja ingin memamerkan kemampuan memasaknya, jadi Tante Rosa membutuhkan bantuan lagi.
“Tapi saya nggak bisa masak lho, Tante. Nanti bukannya bantuin, malah jadi ngerepotin lagi, Tante,” kata Alexa sambil berdoa semoga Tante Rosa mengurungkan niatnya.
“Nggak masalah, Alexa. Nanti Tante kasik kamu tugas yang ringan-ringan saja. Dan kamu, Co, kamu juga bantu Mama ya!”
Marco yang baru lewat di hadapan mereka langsung mengeluh keras. “Yang bener aja donk, Ma. Masa Marco disuruh ikutan kerja di dapur sih?”
“Nggak masalah donk. Memangnya kenapa? Kamu toh tidak ada kerjaan!”
“Kenapa nggak beli aja sih, Ma? Marco yang cari roti terenak di Jakarta.”
Tante Rosa cepat-cepat menggeleng. “Nggak seru kalau bukan buatan sendiri. Semua teman Mama biasanya juga buat sendiri, masa Mama kamu suruh beli? Enggak ah. Sudah, buruan bantuin sana!”
Marco cemberut dan menggerutu, tapi tetap diturutinya perintah ibunya. Alexa yang semula keberatan dengan pekerjaan ini, perlahan mulai tersenyum. Paling tidak, dia masih bisa bersama Marco hari itu.
*
Alexa hampir tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Marco cemberut saat ibunya menyuruhnya menimbang tepung terigu dan bahan-bahan roti lainnya. Beberapa kali Alexa melirik Marco yang ada di sampingnya. Ekpresi Marco tetap sama. Cemberut.
“Kenapa kamu melirikku berulang kali?” tanya Marco galak.
Alexa hanya tertawa kecil. “Memangnya ada yang salah ya dengan pekerjaan ini?”
“Ini pekerjaan wanita!”
“Siapa bilang ini pekerjaan wanita? Banyak juga koki-koki professional yang berjenis kelamin pria. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari wanita.”
“Tapi aku bukan koki.”
“Sudahlah. Kalau memang tidak mau, bilang saja ke Tante Rosa.”
“Dan aku akan diberi tatapan ‘Lakukan atau kamu tidak usah makan malam ini?’. Terima kasih, itu ide yang buruk!”
Alexa kembali tertawa. Siapa yang menyangka, dua direktur yang dia kenal ternyata sama-sama ‘takut’ pada ibunya.
Marco menyendok tepungnya dengan kasar. Dengan malas, dilihatnya angka pada timbangannya. “Ini timbangan rusak apa ya? Kok nggak berubah sih dari tadi?”
Alexa menoleh ke arah Marco ketika Marco mengomel untuk kesekian kalinya. Dilihatnya Marco sedang menunduk melihat angka yang ada di timbangan terigunya.
“Awas, Co, kamu menaruh wadah timbangannya kurang pas!” kata Alexa saat melihat wadah yang berisi tepung itu tidak pas dengan tempatnya.
Plashh..
Terlambat… Wadah itu miring dan menjatuhkan sebagian terigu ke meja dan wajah Marco. Marco terpaku. Alexa tak bisa tidak tertawa. Dia malah tertawa terbahak-bahak.
Marco mengumpat seraya membersihkan wajah dan rambutnya dari tepung terigu itu. Saat tahu Alexa masih belum bisa berhenti tertawa, Marco berhenti membersihkan wajahnya. Dengan seringai licik, Marco mengambil segenggam tepung dan menaburkannya pada wajah Alexa.
Karena masih tertawa saat Marco memenuhi wajahnya dengan tepung, tepung pun masuk ke dalam mulutnya. Alexa terbatuk-batuk. Namun ketika batuknya mereda, Alexa balas mengambil tepung dan melempari Marco dengan tepung tersebut. Tak puas dengan tepung, Alexa menyambar coklat bubuk dan kembali melemparnya ke Marco. Tak terima, Marco pun mencari bahan lain yang bisa ditemukannya. Mereka masih asyik melempar ketika teriakan Tante Rosa berkumandang di rumah itu.
“ASTAGA MARCO, ALEXA, APA YANG KALIAN LAKUKAN???”
Baik Marco maupun Alexa langsung terdiam di tempat. Tawa mereka hilang seketika. Tante Rosa memandang sekelilingnya dengan putus asa. Dapurnya menjadi seperti kapal pecah. Tepung, coklat bubuk bahkan telur tercecer di mana-mana. Penampilan Marco dan Alexa pun lebih menjijikkan dibanding penampilan mereka dengan tanah tadi pagi.
“Kalian… Kalian ini niat bantu atau tidak sih? Kok malah bikin kotor kayak gini?” omel Tante Rosa syok.
Marco dan Alexa saling berpandangan resah. Mereka menatap berkeliling dan agak terkejut juga dengan efek perbuatan mereka.
“Sekarang—bereskan—semua—kekacauan—ini!” hardik Tante Rosa galak.
“Iya, Tante,” jawab Alexa yang segera diikuti dengan anggukan Marco.
*
“Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu nggak mulai, nggak mungkin kan kita harus membersihkan semua ini?” omel Alexa sambil mengepel lantai yang sudah disapu Marco.
“Enak saja. Kalau kamu nggak ketawa, nggak mungkin juga kan aku sampai menaburimu tepung!”
Alexa melotot. Enak saja Marco menyalahkannya. Siapa yang tidak tertawa jika melihat Marco tadi. Marco yang sedang mengelap meja pun balas melotot pada Alexa. Alexa melepaskan pandangannya dari Marco. Sambil melakukan tugasnya, Alexa mengomel tanpa henti.
“Alexa!” panggil Marco.
Alexa reflek menoleh. Tepat saat dia menoleh, percikan air terasa di wajahnya.
Alexa menggeram kesal. “Marcooooo!!! Itu kan kotor!” omel Alexa.
Marco meringis dan melangkah menghindar saat Alexa meletakkan pel nya. Keputusan yang tepat, karena Alexa langsung mengejar Marco untuk membalas pria itu.
“Sini kamu, Marco, jangan kabur!” omel Alexa tanpa menghentikan langkahnya.
“Enak saja. Makanya jangan ngomel terus. Tadi aku kan cuma berusaha mendinginkan kamu.”
“Bukan dengan menyiramiku air kotor!”
Marco tersenyum makin lebar. Alexa makin berniat menangkap pria itu. Karena ingin cepat menangkap Marco, Alexa tidak sengaja menyenggol ember air pel nya. Ember itu bergoyang dan memuntahkan sedikit air ke lantai marmer itu.
Alexa menginjak genangan air yang dibuatnya sendiri. Tepat saat berpikir dirinya akan jatuh, sepasang tangan menangkapnya dengan cepat. Alexa menatap penolongnya. Ternyata Marco. Selama beberapa detik, mereka saling berpandangan. Seakan banyak kata yang ingin masing-masing dari mereka katakan. Saat mendengar bunyi langkah kaki yang mendekati dapur, baru mereka tersadar dan saling melepaskan dengan canggung.
“Hati-hati,” kata Marco salah tingkah.
Alexa hanya mengangguk, lalu pura-pura sibuk dengan pekerjaannya semula. Hingga pekerjaan mereka selesai, baik Marco maupun Alexa tak lagi bicara sedikitpun. Mereka sama-sama sibuk menenangkan perasaan masing-masing.
*
Seluruh tulang Alexa terasa hampir patah saat tugasnya selesai hari itu. Dengan lega, dihempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu Tante Rosa.
“Capek, Lex?” sapa Philip sambil membawakan segelas orange juice untuk Alexa.
Alexa menoleh ke belakangnya. Philip menyodorkan orange juice yang langsung diteguk oleh Alexa.
“Kapan lo datang, Lip? Gue kok nggak tahu?” tanya Alexa setelah puas meneguk orange juicenya.
“Sepuluh menit yang lalu, tapi gue nggak mau mengganggu acara kalian.”
Alexa menepuk Philip dengan bantalan sofa. “Bilang aja malas bantu beres-beres!”
Philip tertawa. Dalam hati, Alexa bersyukur karena Philip tidak sampai memergokinya bersama Marco. Jika Philip baru datang sepuluh menit terakhir, berarti dia tidak melihat saat Marco menolongnya saat dia terpeleset tadi. Syukurlah…
“Jadi, apa saja yang lo kerjakan hari ini?” tanya Philip sambil berjalan dan duduk di samping Alexa.
“Gue berkebun, Lip. Lalu Tante Rosa nyuruh gue buat ngebantu bikin kue. Tapi belum sempat gue lakuin, Marco sudah mengacaukan semuanya. Akhirnya, gue menghabiskan waktu untuk menyapu, mengepel dan melakukan apapun yang sempat lo lihat tadi.”
Philip tertawa lagi. “Memangnya apa yang dilakukan Marco?”
“Dia ngelempar tepung terigu ke muka gue!” omel Alexa. “Gue nggak tahan dan ngebales Marco. Akhirnya kami saling membalas dan baru berhenti saat Tante Rosa memergoki kami.”
“Marco bisa begitu?" tanya Philip kaget. "Marco ngelempar tepung ke elo, Lex?"
"Nggak cuma tepung, dia juga nyipratin gue pakai air bekas pel."
Ekpresi tidak percaya makin tercetak di wajah Philip. Setahunya, kakaknya bukan orang yang bisa diajak bercanda seperti itu. Apalagi untuk memulai duluan seperti cerita Alexa.
"Lo kenapa, Lip?"
Philip tersentak dari pikirannya. Sambil tersenyum, Philip menatap Andrea puas. "Lo tahu, Lex, kayaknya Marco suka sama lo. Dia nggak mungkin bisa seperti itu kalau dia nggak suka sama lo," kata Philip lega.
Kedua pipi Alexa terasa panas seketika. Membayangkan jika kata-kata Philip barusan benar-benar terjadi membuatnya tersipu.
"Sepertinya kita sudah tidak perlu cemas. Mama dan Marco sudah setuju sama lo. Gue bisa aman untuk sementara. Good job, Lex," lanjut Philip puas sambil mengacak rambut Alexa.
Perkataan Philip membuat Alexa mencelos. Ah, tentu saja. Maksud Philip adalah suka dalam hal menyetujui hubungannya dengan Philip, bukan perasaan lebih dari pria ke wanita. Sambil pura-pura marah dan menyingkirkan tangan Philip dari kepalanya, Alexa memasang wajah datar dan berusaha menyembunyikan kekecewaan yang muncul di hatinya.
"Lip, gue bantuin nyokap lo dulu ya. Nyokap lo lagi nyiapin makan malam soalnya."
Philip mengangguk pelan. "Lo jangan ikutan masak ya. Biar nyokap gue aja. Gue nggak mau sakit perut dan batal kencan sama Jenny besok gara-gara makan masakan lo."
"Sialan lo, Lip!"
*
Marco baru akan keluar dari kamarnya saat matanya menangkap sosok Philip dan Alexa. Reflek, Marco menghentikan niatnya. Dengan cepat, Marco mundur dan mengintip Philip serta Alexa dari celah pintu kamarnya. Marco memandang kedua pasangan itu dengan perasaan yang tidak pernah lagi dirasakannya beberapa tahun terakhir ini.
Cemburu…
Marco tersentak saat mengenali perasaan yang muncul di hatinya. Dan perasaan itu semakin parah saat dirinya melihat Philip sedang mengacak rambut Alexa sambil tertawa puas. Ingin rasanya Marco menyingkirkan tangan itu cepat-cepat dan menggantikan tempat Philip.
Tidak sedetik pun Marco memalingkan matanya dari Philip maupun Alexa. Marco berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, tapi jarak kamarnya dan ruang tamu terlalu jauh untuk mendengarkan sesuatu yang tidak terlalu keras. Marco terpaksa harus puas hanya dengan mengawasi keduanya dari balik pintu kamarnya.
Saat Alexa beranjak pergi meninggalkan Marco, barulah Marco bisa memalingkan matanya. Dengan perasaan yang campur aduk, Marco menutup pintu kamarnya kembali dan menghempaskan dirinya kembali di ranjangnya.
Marco memejamkan matanya dengan geram. Ini semua tidak benar!
Alexa adalah wanita yang sangat terlarang baginya. Satu, Alexa adalah kekasih adiknya. Dua, Alexa adalah wanita yang ingin dihindarinya, wanita pengkhianat. Tapi kenyataannya, tidak semudah itu menyingkirkan Alexa dari pikirannya. Sekalipun tak ingin, bayangan Alexa memang selalu menghantui Marco.
“Sial! Aku nggak boleh seperti ini terus!” umpat Marco sambil membulatkan tekad.
Marco memandang langit-langit kamarnya dengan nyalang. Seharian ini, Marco sudah mengikuti hatinya, bukan logikanya. Akibatnya, sekarang Marco semakin susah melepaskan bayangan Alexa.
“Aku nggak boleh seperti ini terus. Jika terus-terusan seperti ini, aku bisa gila!” batin Marco setengah frustasi.
Dengan gusar, Marco bangkit menuju rak pakaiannya. Diambilnya kaos pertama yang dilihatnya. Hanya berselang sepuluh menit kemudian, Marco sudah berada di jalanan Jakarta yang luar biasa padat pada jam-jam seperti itu.
***