" kenapa kamu berkata seperti itu nak, ada apa denganmu? Kamu jangan khawatir jika hari ini kita tidak dapat melunasi hutang ayahmu, ibu sudah punya tempat tinggal sementara untuk kita!" Ibu Ratna sedang berusaha membuat anaknya tidak putus asa.
Ia menghubungi salah satu keluarga yang bisa di andalkan, untuk bermaksud mengontrak rumahnya yang tengah kosong. Meskipun rumah itu sangat sempit namun masih layak untuk di huni.
Bahkan ibu Ratna boleh menempatinya sekeluarga dengan percuma, mereka tidak mau dikasih uang sepeserpun jika ibu Ratna mau menempatinya. Hanya dengan menjaga rumahnya dengan baik sudah cukup bagi mereka.
"Bukan seperti itu Bu, hanya saja Aninda itu kecewa dengan diri sendiri. Kenapa Aninda hanya bisa menyusahkan orang tua saja, bukan malah membuat ibu dan ayah bahagia di usia ibu serta ayah yang semakin menua!"
"Nak, kamu percaya Tuhan itu adil, mungkin saat ini kita masih di uji agar suatu saat nanti kita pantas menerima kenikmatan Tuhan yang tak terkira dan tak ternilai harganya." Saut pak Suparno, membuat Aninda kembali bersemangat.
"Habiskan makananmu Aninda, pasti Tuhan akan memberikan jalan keluar hari ini,"
"Aninda…!" Suara tak asing terdengar yang berasal dari arah depan rumah.
"Sinta itu Bu sepertinya, coba Aninda lihat dulu!" Aninda cepat berlari kedepan.
Sebelumnya wajah Aninda terlihat sendu, mendengar suara Sinta
"Sin masuk dulu yuk, kita sarapan bersama didalam," ajak Aninda bersemangat.
"Aduh nin aku udah sarapan tadi, nyak buat pepes pindang bumbu mangga, enak sekali! Aku udah makan 2 piring," katanya mantab dengan satu tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang terlihat buncit.
"Astaga, kamu lapar apa doyan!" Ejek Aninda.
"Ha…ha…ha.., Dua-duanya." Jawab Sinta cengengesan.
Aninda hanya geleng-geleng kepala, melihat sahabatnya yang semakin hari semakin bohai karena banyak makan dan ngemil. Berbeda dengan dirinya, Aninda yang juga jago ngemil namun tubuhnya masih saja terlihat kurus tidak bisa gemuk seperti Sinta.
"Kamu kan tau, restauran semakin hari semakin ramai, Betapa sibuknya kita nanti, jangan sampai ya kamu pingsan karena kurang makan!" Tegur sinta.
Sinta melongo mendengar ucapan Aninda yang fasih berbahasa Jepang.
Aninda memang memiliki kelebihan dalam menguasai Bahasa Inggris, Jepang dan mandarin karena restauran tempat ia bekerja adalah restauran internasional, banyak turis Bahkan orang penting dari berbagai negara sering kali berkunjung, entah hanya sekedar untuk sarapan, makan siang, dinner atau untuk pertemuan penting lainnya.
Sinta hanya diam tak menjawab, ia masih mencerna perkataan Aninda dengan bahasa yang tidak ia pahami, bahkan baru kali ini Sinta mendengar kata-kata asing ditelinga.
Ia hanya bisa mengucapkan beberapa kalimat saja, seperti, terimakasih, silahkan datang kembali, sarapan pagi, makan siang dan makan malam.
"Sudah jangan dipikirkan, nanti kamu enggak kuat, biar aku aja," Aninda menarik baju Sinta sahabatnya untuk cepat masuk rumah, agar ia menemaninya menghabiskan sarapannya untuk lebih cepat selesai s dan segera berangkat kerja.
Di tempat lain Dhaneo menjadi sorotan banyak kalangan pengusaha, Ia terkenal sebagai CEO muda yang sukses dan Arogan. Sudah banyak tender proyek yang dimenangkan olehnya, membuat banyak pengusaha iri akan kesuksesannya.
Tentu saja, dengan keberhasilannya DiDunia bisnis menjadikan Dhaneo sebagai target utama para musuhnya lantaran tak bisa menyaingi seorang Dhaneo Falcao Abraham.
Semua tamu sudah berkumpul di ruangan yang luas dan sangat megah, Dhaneo terlihat tampan dan sangar dengan mengenakan Jaz warna hitam.
Dhaneo pun tak luput dari sorotan awak media, sebelum acara dimulai ia sempat diwawancarai beberapa wartawan. Mereka melontarkan beberapa pertanyaan yang membuat Dhaneo sedikit risih.
Namun Dhaneo tidak mau menjawab pertanyaan dari awak media, dan mewakilkan Azka untuk menghentikan mereka bertanya kembali.
"Sebuah kehormatan untuk saya, atas kehadiran pak Dhaneo berkenan menghadiri acara opening hotel saya," ujar pemilik hotel yang terkesan dengan kedatangan CEO muda tersebut.
"Ini juga suatu kehormatan bagi saya, di undang untuk menghadiri acara besar seperti ini," balas Dhaneo menyenangkan.
Acara sebentar lagi akan dimulai, Dhaneo berada dimeja paling depan. Auranya begitu berkarisma membuat para ladies terpesona.
"Apakah itu Dhaneo Falcao Abraham ayah?," Tanya seorang putri pengusaha yang ikut menghadiri acara tersebut.
"Iya sayang ia adalah Tuan Dhaneo, pewaris perusahaan PT. ABRAHAM JAYA MANDIRI," jawab sang ayah dengan jelas.
"Beruntung sekali seorang model yang bernama Vella Claurin itu, bisa menjadi nyonya Dhaneo!" Batinnya dalam hati karena iri.
"Dia siapa suamiku, kenapa semua orang selalu memperhatikannya?" Tanya seorang wanita paru baya yang tak jauh mejanya dari Dhaneo.
"Itu adalah Dhaneo, putra bungsu almarhum pak Abraham," jelasnya singkat.
"Bukankah dulu kau pernah bilang kepadaku, akan menjodohkan putri semata wayang kita dengan putra pak Abraham?" Tanyanya semakin penasaran.
"Iya ma, sebelum pak Abraham meninggal beliau sempat mengajak kita untuk menjadi besan, namun putranya itu sudah mempunyai pilihan sendiri!" Balasnya tegas.
"Sayang sekali ya pa!"
"Bagaimana lagi ma, bukan jodoh!"
Acara telah dimulai, pak Alex selaku pemilik hotel bintang lima telah berada di podium untuk menyapa para undangan. Setelah memberi hormat acara opening dilakukan secara simbolis dengan pemotongan tumpeng dan pita.
Suara tepuk tangan meriahkan suasana, semua bersorak memberi selamat. Acara berjalan dengan lancar.
Hadiah bunga ucapan selamat dari Dhaneo pribadi dan dari Perusahaan PT. ABRAHAM JAYA MANDIRI sudah terpampang di depan pintu masuk hotel PANAMA.
Setelah acara selesai, Dhaneo bergegas pulang kembali ke ibu kota, Untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di kantor.
Di restauran tampak wajah Aninda yang letih melayani tamu, jam sudah menunjukkan tepat pukul 5 sore. Sebentar lagi Aninda akan segera pulang.
"Akhirnya waktu untuk pulang telah tiba juga, badan sudah pegal-pegal semua," keluh Aninda pada diri sendiri.
"Sampai dirumah mandi terus tidur, pagi kerja kembali Ya Tuhan begini amat ya cari uang!" Aninda yang kelelahan mulai ngomel tak jelas.
Sakunya terlihat sedikit menonjol, seperti ada sesuatu yang bersembunyi di balik kain sepan itu. Tanganya mulai meraba merasakan sesuatu yang sangat mengganjal, perlahan jemarinya menyusuri lubang saku di rok ketatnya.
Ia baru ingat hari ini aninda mendapat uang tips lumayan banyak, wajah letih nya kembali menunjukkan senyuman yang manis sekali. Seperti Madu Elvis yang terkenal sebagai madu termahal di dunia.
Tiba-tiba kebahagiaanya yang baru ia rasakan sepintas serasa dirampas bajak laut, dengan sekali kedipan mata, lantaran Aninda sadar, janjinya malam ini ia harus menyerahkan uang yang senilai dengan 1 unit rumah.
Aninda mengusap wajahnya dengan satu tangan, ia merasa lemas dan bersandar di laci lemarinya. Ia masih berada di ruangan khusus untuk waiters.
Setelah beberapa menit ia melamun, suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Aninda.
"Nin pulang yuk, capek sekali rasanya, aku hampir kehabisan nafas!" Celoteh Sinta yang Tak digubris oleh Aninda.
" Nin kamu masih hidupkan?" Godanya lagi.
"Hutang aku masih banyak sin, mana mungkin malaikat mengajakku ke surga dengan tanggung jawab yang masih amatlah besar DiDunia."
"Ya Tuhan, cuma bercanda Aninda, kata-katamu bikin buluku bergidik!" Jawab Sinta sedih.
"Lagian kamu tanyanya begitu," balas Aninda lemas.
Sinta lalu mendekati Aninda, dipegangnya tangan Aninda dengan lembut. Ia mencoba menguatkan sahabatnya yang sedang bertubi-tubi menerima ujian hidup.
"Hutang kepada renternir itu, memang nilainya besarkah nin? hingga membuatmu lemas begini!"
"Besar banget sin, bukankah kemaren kamu juga menyaksikan betapa renternir itu mengancam untuk menyita rumahku sebagai jaminan, hutang ayah mungkin kalau dibawa ke showroom, kita sudah bawa pulang satu mobil mewah!" Jelasnya.
Aninda juga memberitahu tawaran renternir untuk menikahinya sebagai gantinya hutang ayah Aninda dihitung lunas.
"Bayangkan saja, aku menjadi istri ketiganya dan berkumpul menjadi satu dengan istri pertama dan istri keduanya! Umurnya tak jauh beda dengan umur ayah, bagaimana aku bisa menyanggupi tawarannya! Apakah aku barang yang dibandrol harga dengan dua ratus juta!" Jelasnya lagi.
Kedua tangan Sinta seketika menutup mulutnya sendiri, ia sangat syok mendengarnya.
"Jangan non, kita masih sangat muda, jangan biarkan dia merenggut kebahagiaanmu hanya karena berhutang uang!"
"Aku hanya punya tabungan 10 juta , kamu bisa pakai dulu nin jika mau, siapa tau bisa membantu sedikit!"
"Tidak sin terimakasih, meskipun aku memakai uangmu itupun tidak cukup, aku harus segera pergi ke kantor Direktur muda itu" Ujar aninda dengan memakai jaketnya terburu-buru.
"Aku temani ya," tawaran Sinta meski ia tidak tahu direktur muda itu siapa.
"Tidak usah sin, aku akan sendiri kesana, kamu juga capek cepatlah pulang dan istirahat."
"Pokoknya aku temani!" Kekeh Sinta, tidak tega melihat Aninda sendirian.
"Tidak usah sayang, do'akan saja aku berhasil membawa pulang uang tersebut!" Sinta menangis terharu dan juga sedih melihat sahabatnya terombang-ambing mencari uang.
"Beneran enggak ditemenin?" Ujar sinta memastikan lagi, ia ingin sekali menemani Aninda, namun Aninda selalu menolak tawarannya.
Sinta masih terus memandang ke arah Aninda, hingga Aninda menghilang dibalik pintu ruangan tersebut.