Suatu pagi, beberapa bulan setelah kunjungan terakhir ke dokter, Arsila bangun dengan perasaan aneh
Tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya, dan ada sedikit rasa mual yang tidak biasa. Ia berpikir mungkin itu hanya akibat dari tekanan yang ia rasakan belakangan ini, tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya bertanya-tanya."Apa mungkin...?"
gumamnya pelan sambil menatap cermin di kamar mandi. Ada perasaan campur aduk antara takut dan harapan yang melintas di benaknya. Ia segera memutuskan untuk melakukan tes kehamilan, meskipun sedikit ragu. Dengan tangan bergetar, Arsila mengambil alat tes yang sudah lama disimpan di lemari obat.Beberapa menit berlalu dalam keheningan, dan ketika ia melihat hasilnya, air matanya mulai mengalir tanpa henti. Dua garis muncul di alat tes tersebut, menunjukkan bahwa ia positif
hamil."Mas!" Arsila berteriak dari kamar mandi, suaranya bergetar dengan emosi. Kavyan, yang sedang duduk di ruang tamu membaca koran, segera berlari ke arahnya."Ada apa, Sayang?" tanyanya cemas, melihat air mata di wajah istrinya.Arsila tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengulurkan alat tes itu ke arah suaminya.
Kavyan mengambilnya dan melihat hasilnya. Matanya membelalak, dan dalam sekejap, ia memeluk Arsila erat-erat."Sayang... kita akan punya anak," bisiknya penuh haru.Berbulan-bulan berlalu, dan kehamilan Arsila berjalan dengan baik.
Setiap hari, Kavyan memastikan bahwa istrinya mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian penuh. Ia menjadi lebih protektif dan perhatian dari sebelumnya, selalu memastikan Arsila merasa nyaman dan bahagia. Mereka berdua tidak pernah berhenti mengucap syukur atas anugerah yang mereka terima.Pada bulan kesembilan
Arsila melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat di sebuah rumah sakit di Bandung. Tangisan bayi yang menggema di ruangan itu menjadi musik terindah yang pernah mereka dengar. Kavyan tidak bisa menahan air matanya saat pertama kali menggendong bayi mereka. Arsila, meskipun lelah, tersenyum lebar, matanya bersinar penuh cinta saat melihat buah hati mereka.
"Kita beri nama siapa, Mas?" tanya Arsila sambil tersenyum.Kavyan menatap bayi mungil itu dengan penuh kasih
"Bagaimana kalau kita beri nama arvin ? Seperti mata air surga yang akan membawa kesejukan dan kedamaian dalam hidup kita."Arsila mengangguk setuju, merasa nama itu sangat indah. "arvin" gumamnya pelan sambil menyentuh pipi lembut putri mereka.
"Semoga dia tumbuh menjadi anak yang kuat dan penuh cinta."Waktu berlalu, dan kehidupan Kavyan serta Arsila berubah menjadi lebih cerah dengan kehadiran arvin. Rumah kecil mereka di pinggiran Bandung dipenuhi dengan tawa dan kegembiraan setiap hari.
Kavyan sering kali duduk di teras, memeluk putrinya sambil menikmati matahari terbenam. Arsila melihat mereka dari dalam rumah, tersenyum bahagia melihat impian mereka yang akhirnya terwujud.Meskipun perjalanan mereka untuk mendapatkan keturunan penuh dengan tantangan, mereka tahu bahwa semua itu sepadan.
Mereka telah melalui masa-masa sulit bersama, dan sekarang mereka bisa menikmati buah dari kesabaran dan cinta mereka. Harapan yang pernah terasa jauh kini telah menjadi kenyataan, membawa kehangatan dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka yang sederhana.
Dan setiap senja yang mereka saksikan bersama, Kavyan dan Arsila selalu mengingatkan diri mereka bahwa di balik setiap perjuangan, selalu ada harapan yang menanti. Terutama bagi mereka yang tidak pernah menyerah pada cinta dan impian.