OTW musuh jadi istri

1236 Words
Selepas kepergian Roy dan keluarga Imai terus berusaha menemui Roy untuk memprotes dan meminta penjelasan atas apa yang sudah ia buat malam ini. Namun ayahnya, sama sekali tidak mengizinkan Imai dan Roy bertemu. “Masuk mai!” Sergah ayahnya menolak Imai ingin mengejar Roy. Setibanya Imai di dalam kamar ia langsung mencari handphonenya dan mencari nomor handphone Roy. “Sial, aku kan nggak ada simpan nomor dia” buru-buru Imai membuka grup alumni sekolah dasarnya untuk mencari nomor Roy. “Dapat” Setelah melakukan panggilan lima belas kali, si punya nomor sama sekali tidak mengangkat telponnya. Sudah lelah menelpon karena terus-terusan di abaikan Imai keluar kamar untuk menemui kedua orang tuanya yang ternyata masih duduk di ruang tamu. “Ayah…ibu…Imai mau bicara” Mendengar suara putri keduanya itu Rosa, ibunya Imai dengan cepat menyeka air matanya. Melihat tidak ada reaksi menolak dari kedua orang tuanya Imai duduk di sofa berseberangan dengan ibu dan ayahnya. Ada rasa sesak di dadanya melihat ibunya yang masih terdapat jejak air mata. Tapi ia harus meluruskan semuanya, ia tidak ingin dianggap buruk oleh kedua orang tuanya. “Sebenarnya……” Belum sempai Imai menjelaskan pak Yudi, ayahnya lebih dulu bersuara. “Ayah tahu mai, kamu nggak akan mungkin melakukan itu. Tapi ayah nggak ingin kamu di tuduh-tuduh seperti itu apalagi sampai warga desa tahu. Mereka nggak akan ingin tahu faktanya, mereka lebih tertarik mendengarkan gosip mai” “Tapi itu salah ayah, Imai tidak suka Roy” katanya tegas menolak mentah-mentah laki-laki yang bukan lain musuhnya sewaktu kecil itu. “Lalu kamu punya orang yang kamu suka” sergah Rosa. Imai kepalang bingung harus menjawab apa. Kalau boleh jujur ia sedang menanti seseorang. Namun hingga saat ini pun laki-laki yang Imai sukai itu sama sekali tidak melakukan pergerakan apapun. Padahal sudah tiga tahun mereka menghabiskan waktu bersama di beberapa kesempatan. “Kalau kamu punya pacar minta dia datang kerumah buat melamar mu, kalau tidak ada suka tidak suka. Seperti yang ayah bilang tadi, besok kamu harus menikah di KUA dengan Roy” setelah mengucapkan dengan lantang Yudi beranjak meninggal Rosa dan Imai di ruang tunggu. Imai beranjak dari kursinya untuk duduk di samping ibunya yang masih menangis. Di peluknya perempuan yang sebentar lagi itu menginjak usia 50 tahun. Dalam dekapannya memeluk ibunya Imai terus memutar otaknya bagaimana cara untuk menghentikan pernikahan besok dengan roy. Apa harus ia meminta untuk laki-laki yang sudah lama ia kagumi dan sukai itu melamarnya. Sungguh bukan solusi yang tepat, masalahnya ia saja tidak tahu apakah laki-laki itu juga menyukainya dan mau menikah dengannya. Dalam kediamannya ia terus merenung mencari solusi, tetapi bukan solusi yang ia temui. Selalu saja jalan buntu. ***** Drettttt dretttttt Tepat di getaran ketiga handphonenya berbunyi ia selesai menuntaskan shalat malamnya. Nomor yang tidak bernama namun ia hafal nomor tersebut, nomor yang tidak pernah berganti dari dulu. Dan ingin sekali ia hubungi bagaimana kabarnya. “Hallo” sapanya. Masih dengan mengenakan kopiah dan juga sarung, laki-laki itu duduk di pinggir ranjangnya. “Gua nggak tahu ternyata lo nggak seramah ini” ucapnya sarkas tetapi dengan nada geli mendengar rentatan omelan si penelepon. “Pelan-pelan” katanya perhatian. “Maksud lo apa ngaku-ngaku udah hamilin gua? Lo belum puas suka berantem sama gua? Kenapa harus lo nikahan gua…Roy……!” Laki-laki satu tahun diatas Imai itu tertawa jail, “gua cuman mau iseng aja” katanya sesekali tertawa. “Hah! Iseng lo bilang, ya kalau lo cuman iseng dan pingin main-main untuk bahan gabut lo. Ya jangan gunain hal begini Roy! Lo pikir pernikahan itu cuman main-main apa?” “Hush hush udah lo malam-malam jangan ribut-ribut deh. Mending lo tidur, dan dandan yang cantik buat jadi penganten gua besok” Setelah mengucapkan hal tersebut, Roy menutup sepihak telpon dan melempar handphone terbarunya itu di atas ranjang. Ia rebahkan tubuhnya dengan tangan membentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Besok kalau semua berjalan dengan sesuai rencananya ia akan menjadikan musuh masa kecilnya sebagai istrinya. Dengan pikirannya tersebut ia merasa geli sendiri. Suara tangis yang sama itu terdengar lagi, rasanya sehari tidak mendengar tangis, omelan, dan marah dari gadis itu rasanya tidak lengkap. Bagaikan makan nasi tanpa lauk, hambar dan kosong. “Roy itu kan mama aku yang cuciin, kenapa seenaknya kamu buang ke tong sampah baju ku” Pelaku utamanya hanya cuek-cuek tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia tahu, bercandanya sangat kelewatan tapi ini di luar kontrolnya ketika ia ingin menjaili gadis itu. Niat hati ingin sekedar melempar-lemparkan baju olahraga milik Imai, ia tidak sengaja memasukkan ke tempat sampah yang ada di sudut kelas. Padahal ia ingin mengopor ke arah Toni. Sialnya baju itu mengarah ke tong sampah besar berwarna hijau dan masuk kedalamnya padahal posisi tempat sampah tersebut tertutup. “Ya salah sendiri kenapa bajunya mau masuk ke tempat sampah” katanya menyudutkan. Imai yang sudah naik pitam dan bersimbah air mata meminta Roy untuk mengambilkan baju itu di dalam tempat sampah. “Ambil nggak! Roy ambil!” Pinta Imai sambil menunjuk ke arah tempat sampah. “Nggak ah, ngapain juga” saut Roy dan duduk diatas meja samping tempat sampah “kan baju lo ya ambil sendiri lah” Dengan mudah Roy menendang tempat sampah itu hingga tutup nya terlepas. Syukurnya hari itu hari Jumat dan memang waktunya mengenakan seragam olahraga. Setiap Jumat pagi setelah senam bersama akan mengadakan gontongroyong bersih-bersih sekolah, sehingga tempat sampah tersebut sudah kosong dari isinya. Tetapi tetap saja yang namanya tempat sampah ya untuk sampah bukan pakaian yang masih di gunakan. Seperti hari-hari biasa Imai dan teman-temannya akan mengenakan baju double, kaos dan seragam sekolah. Sehingga jika menjelang istirahat mereka akan membuka seragam sekolah mereka. Apesnya, hari ini Roy bisa mengambil seragam Imai sehingga menjadi bahan ia menjaili Imai. “Roy!!!” Teriak Imai. “Roy, udah-udah coba ganggu Imai” bela Ita “Eh adukan sama guru aja” entah siapa yang berbicara tetapi bisik-bisik seperti itu akan selalu ada setiap kali Roy dan Imai berantem. Yang dimana jika guru sudah turun tangan Roy yang akan di marahi, dan yang menjadi guru di sekolah dasar tersebut kebetulan terdapat Rosa, ibunya Imai. Dan bukan berarti Imai akan di bela juga dengan Rosa, tetapi siap-siap saja jika di rumah hukuman akan menanti Imai yang sudah berulah di sekolah. Terlepas Imai yang selalu menjadi korbannya. Pintu kelas 6 tersebut masih tertutup rapat, dan rasanya percuma untuk mengadukan pada guru. Karena guru sedang ada rapat sehingga tidak bisa di ganggu. Melihat Roy sama sekali tidak ada itikat baik untuk mengambil baju yang masih di dalam tempat sampah itu, Imai berjongkok sedih dengan menelungkupkan wajahnya diantara kakinya. Lina, Ayuk, dan Della mendatangi Imai dan berusaha menenangkan gadis itu. “Stop! Awas ya sampai lo berani ngambilin” ancam Roy. “Ya kamu aja nggak mau bertanggung jawab” balas lendra. Drukkk…… Mendengar suara itu Imai mengangkat kepalanya dan melihat apa yang terjadi. Tempat sampah itu berpindah posisi dan tutupnya yang semakin menjauh. Dan baju Imai pun keluar dari tempat sampah itu. “Kenapa sih kamu suka banget jailin Imai” sergah lendra membela Imai. Roy yang terlihat marah menghadap tepat didepan lendra, “bukan urusan lo” dan lalu menabrak bahu lendra keras hingga ia merintih kesakitan. “Nih!!” Kata Roy yang menendang baju milik Imai tepat kearahnya dan berhasil di tangkap Imai. “Lain kali awas aja lo sampai buka-buka baju seragam lo kayak gitu” ancamnya dan memilih keluar kelas hingga kembali menutup pintu kelas dengan nyaring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD