11. Luka yang Tak Terlihat

1602 Words

Pukul 11.45 Key baru tiba setelah menghadiri meeting bersama dengan Rey di salah satu Mall terbesar yang memiliki outlet resmi Amora Jeans. Ia mengempaskan tubuh lelahnya di atas kursi kerjanya yang nyaman lalu memutar, memandang ke luar jendela. "Key..., Pak Santoso ... distributor dari Solo nelepon tadi." Hilda menghampiri tanpa mengetuk pintu. "Key?" melipat tangan bersandar di jendela tepat menghadap Key. "Nanti aku hubungi." Key menekan kepala dengan satu tangan, "Hil, tolong ... siapa pun jangan izinkan untuk masuk ke ruangan gue kecuali Rey." "Oke." Maju selangkah, "mm..., belum mau cerita dengan gue?" tanya Hilda hati-hati. Key menggeleng pelan. "Entahlah Hil, se-enggaknya untuk hari ini gue... mau berpikir sendiri dulu. Ada saatnya--gue butuh elo. Sory." "Hh..., it's oke,"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD