Avan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja. Saat Ardan sudah duduk dengan baik di hadapannya. Di atas meja yang menjadi pemisah antara kedua pria dewasa itu, sudah tersedia satu gelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap serta satu gelas air hangat. "Aku ingin kamu berbicara dengan jujur dan menjelaskan secara keseluruhan. Daripada aku bertanya kepada wanita itu, yang aku yakini justru akan membuatmu tersudut," ucap Avan dengan wajah yang begitu datar. Ardan pun meneguk ludahnya. Ini untuk pertama kalinya ia berbicara secara empat mata dengan Avan, setelah sekian tahun menjadi atasannya. Karena rasa bersalahnya terhadap Avan, Ardan tampak sering menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Keinginannya untuk jujur pun ikut sirna begitu saja. "Maaf

