“Apa kau tidak suka dengan makanannya?” tanya Saka lembut, memecah keheningan yang terasa ganjil di antara mereka. Tatapan pria itu terarah pada Nadia yang sedari tadi hanya menatap piringnya tanpa minat. Sendok di tangan perempuan itu bahkan belum sempat menyentuh nasi yang kini sudah mulai dingin. Nadia tersentak kecil mendengar suara Saka. Ia buru-buru tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat dipaksakan. “Aku suka makanannya,” jawab Nadia cepat, lalu ia segera menyuapkan sedikit makanan ke mulutnya. Dari sorot mata Nadia, Saka dapat mengetahui bahwa pikiran perempuan itu melayang entah ke mana, jadi ia memutuskan untuk bertanya. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Suara Saka penuh kelembutan namun di saat yang bersamaan penuh rasa ingin tahu. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap

