Part 2

1090 Words
BROKEN * Andra naik ke dalam mobil, setelah mengecek ponsel yang sempat berbunyi sebuah notifikasi. Lelaki itu melambai pada Andini dan Iyan yang masih berdiri di ambang pintu. Setelah itu mobil meluncur keluar pagar dan menghilang dari pekarangan rumah. Saat mobil membelah jalanan kota Jakarta, Andra kembali dihadapkan oleh pemandangan yang sama setiap harinya. Pedagang yang menjajakan makanan sambil berjalan, anak-anak jalanan yang mengamen di tepi jalan. Orang-orang berlalu lalang saling menyalip untuk lebih dulu sampai pada tempat tujuan, atau menghindari kemacetan di lampu merah. Membosankan. Benar saja, Andra terjebak di lampu merah hingga harus menunggu beberapa menit warna lampu berubah kembali menjadi hijau. Sambil menunggu, Andra membuka ponselnya. Ia mengirimkan sebuah pesan untuk seseorang yang kini tengah menunggunya. Berharap di sana Arya masih mau menunggunya. [Macet.] Setelah mengirimkan pesan itu, Andra kembali melajukan mobilnya, berhati-hati dengan jarak padat antara mobil-mobil lainnya. Fokus pada jalanan di hadapan, hingga laju mobil dipelankan di depan sebuah halte tempat pemberhentian bus. Mobil benar-benar berhenti. Seseorang membuka pintu mobil dan duduk di samping Andra. Terlihat wajah cemberutnya yang semakin gemas jika dilihat dari dekat. “Abang kebiasaan, kan!” protes seseorang yang kini tengah memasang seat belt di tubuhnya. Tangannya bergerak, seiring dengan bibir mungilnya yang terus mengomeli Andra. “Maaf, deh.” Andra mengakui salah. Sedetik kemudian ia membungkam mulut yang sedang banyak berbicara itu. Begitu cara Andra meminta maaf dengan gadis yang kini duduk di sampingnya. Cara meminta maaf pada perempuan yang dianggap spesial dalam hidupnya. Membosankan. Rasa itu kian hilang ketika gadis itu bersamanya. Entahlah. Andra hanya merasa nyaman dengan gadis itu. Untuk memberi status spesial, ia sendiri belum bisa memastikan. “Aku bisa telat lagi deh.” “Percaya sama Abang. Gak bakalan telat.” Gadis itu menatap Andra dengan penuh permohonan. Bagaimana pun, itu adalah kesalahan Andra yang telat menjemputnya. Bisa jadi ia akan dihukum lagi hari ini. Atau bahkan gerbang itu sudah tertutup dan ia harus memanjat tembok belakang sekolah. Gadis berusia tujuh belas tahun itu menghela napas lega. Mencoba membuang kekhawatiran dalam hatinya saat ini. Mencoba percaya pada perkataan Andra, seperti percaya pada lelaki itu sebelumnya. Mobil terus melaju dengan kecepatan lumayan, itu untuk menepati janjinya pada gadis itu untuk membawanya ke sekolah sebelum gerbang ditutup oleh satpam. Andra terlalu fokus menyetir, hingga tak banyak obrolan yang mereka lakukan. Hanya yang penting-penting saja, terlihat pun gadis itu benar-benar sedang khawatir. Beberapa kali ia melihat jam mungil yang melingkar di tangannya. “Udah mau sampai. Tenang aja.” Baru gadis itu merasa lega, saat kembali ia melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang beberapa menit. Perkiraannya, ia bisa sampai sebelum pintu gerbang ditutup. “Mama papa gimana?” tanya Andra memulai percakapan. Percakapan yang sebenarnya gadis itu tak suka membahasnya. Bukan tak suka mengobrol dengan Andra, tapi ia tak suka tema yang saat ini ditanyakan Andra. “Gimana apanya?” gadis berseragam putih abu itu balik bertanya. “Ya, keadaannya. Semuanya.” Andra menjawab sembari menatap gadis itu yang tersenyum miris. “Ya, gitu-gitu aja. Seperti biasa.” Andra hanya mengangguk mendengar jawaban gadis itu. Itu artinya, ia sedang tak ingin membahas tentang orangtuanya. Lelaki itu mencoba memaklumi. Ia juga tak ingin mengacaukan moodnya di sekolah nanti. Mobil berhenti sedikit jauh dari gerbang sekolah. Andra tak ingin ada yang melihatnya di sini. “Entar dijemput nggak?” tanya gadis itu saat ingin membuka pintu mobil. Andra nampak terdiam sejenak. Ia memikirkan seberapa banyak pekerjaan yang akan menunggunya di kantor. “Liat dulu deh, sibuk banget kayaknya nanti.” Akhirnya Andra memutuskan. “Nanti kalau enggak sibuk, aku w******p ya!” Ucap Andra lagi. “Sibuk terus,” gadis itu mengerucutkan bibirnya, membuat Andra ingin kembali membungkam bibir merah delima itu. “Ngambek nih?” tanya Andra sambil menautkan dua alisnya. “Iya deh. Aku ngerti. Nanti aku bareng Dinda aja.” Akhirnya gadis berseragam sekolah itu mengalah. Ia juga tak boleh egois untuk memaksa Andra menggunakan waktu untuknya. “Lauraa!” panggil seseorang yang berseragam sama dengan gadis itu. “Nah yang namanya disebut nongol tuh.” Laura menutup pintu mobil dengan rapat. Lalu sedikit menunduk untuk melihat wajah tampan milik lelaki yang beberapa bulan lalu dikenalnya. “Hati-hati ya.” Laura tersenyum yang dibalas senyum genit dari Andra. Setelah saling membalas senyuman, Andra kembali melajukan mobilnya untuk menuju ke tempat ia bekerja. Sementara Laura masuk ke dalam gerbang sekolah dengan tenang. Di sana ia telah ditunggu oleh Dinda, teman sebangkunya. “Eh cepetan dong. Gerbang mau ditutup mampus lo.” Dinda mengomel sendiri melihat Laura yang berjalan dengan santai, ia baru bisa bernapas lega saat melihat kaki Laura melangkah masuk ke dalam sekolah. Juga beberapa teman yang ikut masuk bersamanya. Sebagian yang terlambat di belakang Laura, harus menerima hukuman tak bisa memasuki sekolah. Dinda merangkul tangan Laura, mereka berjalan bersamaan di koridor sekolah untuk menuju ke kelas. Keduanya memang berteman baik, saling mengenal sejak kelas satu SMA, dan selalu duduk di satu meja. “Lo dianterin siapa tadi?” tanya Dinda pada Laura. Sejenak Laura terdiam. Ia memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menjawab kekepoan temannya. Itu pertama kali Dinda melihat Laura diantar seseorang selain ayahnya. Padahal sudah beberapa kali Laura diantar oleh Andra. “Om gue.” Laura menjawab dengan santai. “Om?” Dinda mengerutkan dua keningnya. “Iya, kenapa?” tanya Laura lagi. “Ganteng.” Dinda nyengir. Membuat Laura ingin menjitak kepalanya. Hampir saja ia khawatir Dinda akan curiga hal lain tentangnya. “Udah nikah belum?” Kembali Dinda bertanya penasaran. “Udah. Udah punya anak malah!” ketus Laura. “Ah, potek hati gue, Ra.” Tiba-tiba Dinda menghentikan langkanya, membuat Laura juga ikut berhenti. Laura menatap tajam pada temannya itu. Bisa-bisanya ia berbicara tentang lelaki lain disaat ia masih berstatus sebagai pacar orang. “Lama-lama gue beneran pengen jitak lu deh.” “Lah, gue ngapa? Salah gue apa?” tanya Dinda sok polos. “Terus Reno mau lu kemanain?” tanya Laura menyadarkan sahabatnya. “Eh, iya ya. Lupa.” Kembali Dinda nyengir, menunjukkan barisan giginya yang rapi dan bersih. Laura menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan teman satunya itu. Lalu, meninggalkan Dinda yang membuat gadis itu berteriak. ”Tungguin woi.” Laura terus berjalan, membuat Dinda berlari untuk mengajarkan langkah. Laura berbalik dan menjulurkan lidahnya pada gadis itu. Kembali Laura berjalan menatap lurus ke depan. Ia tersenyum miris pada diri sendiri. Menyadarkan Dinda tentang statusnya yang memilik pacar, dan memuji ketampanan lelaki lain? Lalu, bagaimana dengan dirinya? Ia bahkan menjalin hubungan dengan lelaki yang ia tahu sudah memiliki anak, sementara ia juga memiliki hubungan dengan Abimanyu, pacarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD