Dia Aksa, bukan Faruq!

1046 Words
"Bu, saya bisa ke kamar mandi dulu?" Ucap Aksa yang tidak bisa menahan buang air kecil. Selagi belum ada Alfa datang membawakan minum, ia bisa pamit dulu ke toilet, karena berbicara dengan perempuan itu membuatnya sedikit canggung. "Oh iya iyaa, Nak Aksa lurus aja, mentok habis dapur nah itu kamar mandinya." Jelas ibunya Faruq. Wanita yang pada hari ini akan dianggapnya sebagai Ibu. Begitupun wanita itu, ia meminta izin pada Aksa untuk menganggapnya sebagai seorang anak, karena melihat Aksa seperti Faruq putra tercintanya. "Siap, Bu.. makasih yaa." Laki-laki itu pun segera menuju kamar mandi sesuai dengan instruksi dari wanita itu. Setelah selesai dari kamar mandi untuk buang air kecil, Aksa mendengar suara dari arah dapur. Karena penasaran, laki-laki itu pun yang harusnya kembali ke ruang tamu malah menuju dapur untuk melihat apa yang terjadi diruangan tersebut. Disana ada Alfa yang sedang menyiapkan teh hangat sembari menggendong Rubi, gadis kecil itu merengek terus-terusan, mungkin merasa tidak nyaman karena ibunya banyak beraktivitas saat menggendongnya atau juga sudah waktunya untuk Rubi minum ASI. "Bentar ya, Nak." Ucap Alfa berusaha menenangkannya, namun bukannya diam, gadis kecil itu semakin merengek. "Boleh aku bantu menggendong Rubi?" tanya Aksa, yang membuat Alfa terhenyak kaget, kenapa tiba-tiba ada laki-laki itu? "Bukan bermaksud apa-apa, daripada kamu kesulitan, ada baiknya aku membantumu gendong Rubi dulu." Ucapnya coba memberi pengertian bahwa dia tidak ingin mengusik Alfa, hanya sebatas ingin membantunya karena melihat ia kesulitan mengurus Rubi dan aktivitasnya sekaligus. "Ndak perlu, makasih." Jawab Alfa yang berusaha menjaga dirinya, meski sebenarnya ia sudah tau bahwa laki-laki itu orang baik yang sedang menawarkan bantuan padanya. Ia juga merasa bersalah saat Aksa membantunya membawa belanjaan, Alfa sudah berburuk sangka padanya. “Sudah aku bilang, aku nggak bermaksud apa-apa.” Aksa kembali memberi pengertian, kenapa ada perempuan sebebal Alfa? “Sudah aku bilang juga; ndak perlu.” Seperti yang dikeluhkan oleh Aksa, perempuan itu masih bebal dan tidak mau dibantu. “Kalo gitu, aku yang buat tehnya, kamu yang tenangkan Rubi.” Aksa memberikan pilihan, dan awas saja kalau perempuan itu masih belum terima. Alfa sejenak terdiam, lalu mengalihkan pandangannya kearah Aksa. “Apa ndak merepotkan?” tanya perempuan itu. “Akan sangat merepotkan kalo melihatmu melakukan ini sendiri. Sudah, tinggal tehnya, biar aku yang buat sendiri.” Ucap Aksa yang mengerti meski mau sekuat apapun Alfa, ia tidak bisa melakukan semuanya sendiri, ia tidak melakukan dua aktivitas dalam sekali waktu. Perempuan itu hanya menunjukkan kekuatannya saja, padahal sebenarnya ia sangat rapuh. “Makasih, sekali lagi makasih.” Alfa membawa Rubi sedikit menjauh, dan coba menenangkan putrinya. Ia menangis, mengingat kejadian yang sudah-sudah, saat ada Faruq bersamanya, ia akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Aksa, Faruq akan berusaha menjaga perempuan itu agar tidak terlalu kelelahan, padahal saat itu Faruq baru saja pulang dari kerja, dan sudah pasti dia jauh lebih lelah. Seandainya Faruq ada pada saat itu, ia akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Aksa. “Aku kedepan dulu kalo begitu.” Pamit Alfa karena tidak ingin Ibu mertuanya berpikiran yang tidak-tidak tentangnya dan Aksa, apalagi laki-laki itu baru saja bertemu kembali dengan keluarga suaminya. Mengetahui maksud dari Alfa, Aksa hanya mengangguk mengiyakan. Ia sebenarnya kagum dengan perempuan itu, Alfa sangat menjaga dirinya agar tidak timbul fitnah, meski sebenarnya hanya hal sepele dan orang yang melihatnya akan memaklumi. Mendapat persetujuan dari Aksa, perempuan itu sembari menggendong Rubi berjalan gontai menuju ruang tamu kembali. “Loh mana tehnya, Al?” tanya ibunya karena melihat Alfa kembali tanpa membawa teh buatannya. “Apa kamu kesulitan karena Rubi? Kalo gitu Ibu aja yang buatin tehnya, kami disini aja ya.” Seperti halnya Faruq, wanita itu sama baiknya, sangat menyayangi Alfa seperti putrinya sendiri, bahkan perempuan itu sering sungkan karena kebaikan Ibu mertuanya tersebut. Itulah kenapa Alfa tidak ingin menyakiti hati Ibu mertuanya. “Eh, ndak Bu, se…” Alfa mencegah Ibu mertuanya tersebut. “Ini teh saya ya?” suara itu berasal dari dalam, dan terlihat Aksa membawa tiga gelas teh hangat dengan sebuah nampan. Alfa ketar-ketir, apa laki-laki itu akan mengatakan bahwa mereka sempat bertemu di dapur? “Tadi saya melihat ada tiga teh ini diatas nampan. Benar ya, Bu? Maaf loh kok saya lancang.” Ucap Aksa sembari meringis, yang diluar perkiraan Alfa. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatakan bahwa ia menemukan teh tersebut sudah diatas nampan. Sedangkan tadi ia yang membuatnya sendiri. Alfa yang melihat dan mendengarnya berusaha menahan tawa, kenapa laki-laki itu malah terlihat sangat lucu. “Iya tadi sepertinya Alfa kesulitan bawa, maaf ya kok jadi Nak Aksa yang ambil sendiri.” Ucap wanita itu merasa tidak enak. “Maaf ya.” Sahut Alfa lirih. “Hoooh nggak masalah, Bu. Mari kita minum sama-sama.” Ucap Aksa mempersilahkan mereka untuk minum, laki-laki itu seperti tuan rumah saja. *** “Oh jadi Alfa freelance ya, bagus juga, supaya bisa ngerawat Rubi juga, Bu.” Ucap Aksa setelah mendengarkan cerita dari wanita didepannya, tadi wanita itu mengucapkan banyak bersyukur mendapatkan menantu seperti Alfa, yang pekerja keras dan lembut hatinya. “Iya, Nak. Alhamdulillah Ibu punya menantu sebaik Alfa.” Ucap wanita itu lagi yang tidak bosan-bosan mengucapkan syukur karena dihadiahi menantu seperti Alfa. “Oh ya, Bu… diperusahaan sedang cari content writer , mungkin Alfa berminat bisa langsung hubungi saya saja. Kebetulan lowongan masih dibuka sampai mendapatkan kandidat yang pas.” Ucap Aksa yang secara tidak langsung menawarkan pekerjaan untuk Alfa. Ia tau sekali menjadi Alfa akan merasa tidak enak tinggal di rumah Ibu mertuanya tanpa bisa membantu mencukupi kebutuhan, karena sebenarnya pekerjaan Alfa sebelumnya pasti tidak belum dapat mencukupi kebutuhan yang lain nantinya, apalagi Rubi semakin hari semakin besar, kebutuhan akan semakin besar juga. “Itu terserah Alfa, Ibu ndak mau ikut campur ya.” Ucap wanita itu sembari menggenggam tangan menantunya tersebut, ia memberikan isyarat bahwa tidak ada yang membebani perempuan itu untuk bekerja dan menafkahi keluarga tersebut. “Nanti akan saya pikirkan lagi, terima kasih sebelumnya.” Jawab Alfa sembari tersenyum simpul, kembali ia gumamkan dalam hati bahwa laki-laki itu baik. Aksa tersenyum, “Kalo gitu Aksa pamit ya, Bu. Maaf mengganggu waktunya, dan semoga keluarga tetap diberikan ketabahan.” Ucap laki-laki itu berpamitan. “Oh ya, Bu. Saya bisa diberi tau makam Faruq dimana? Saya mau mengunjunginya.” Tambahnya, ia ingin melihat makam sahabatnya tersebut, dan bercerita bahwa sepeninggal Faruq, banyak sekali yang telah berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD