15

1689 Words

Anthea duduk di  kursinya. Memainkan pulpennya dan membantingnya di atas meja dengan  keras hingga membuat kepala Celin menoleh padanya. Celin memandang  Anthea yang sibuk dengan lamunannya sendiri. "Anthea?" Anthea menoleh. Mendapati Celin berjalan ke arahnya. "Kau baik-baik saja?" Anthea menatap mata   perak Celin. Dia ingin berteriak, dia ingin menangis. Pikirannya kacau.  Dia tidak bisa berpikir dengan baik. Tapi dia tidak bisa. Celin tidak  boleh ikut merasakan kesedihannya. "Aku baik-baik saja." Celin menatapnya  selidik. Seolah-olah Anthea baru saja menyembunyikan fakta baru. Dia  ingin bertanya tentang Sai, tapi Celin memilih untuk diam. Menghela  napas, Celin kembali ke mejanya. Membuka lacinya dan memberikan Anthea  sebuah undangan cantik berwarna ungu. "Dari Callia," Celin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD