Keperawanan

1146 Words
"v****a seolah warga kelas dua untuk mendapatkan layanan oral. berbeda denganpenis sebagai pemegang kartu eksklusif. p***s bisa mendapatkan oral seks di mana sadan kapan saja. sedangkan perempuan belum tentu" Malam yang dingin. Sedingin perbincangan di antara diriku dengan Mas Sholeh. Entahlah, seperti ada yang ditutup-tutypi dari laki-laki itu, sehingga aku tidak merasakan Mas Sholeh yang seperti dulu. Ada sesuatu yang aneh dan aku tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. “Aku akan pulang,” kata Mas Sholeh kemudian. Tidak biasanya dirinya pulang begitu saja setelah beberapa bulan tidak bertemu. Biasanya dirinya akan menginap di rumah atau di mushola depan dengan Mas Subekan. Aku menyadari ada yang berbeda, namun aku tak tahu aku harus bertanya apa kepadanya. “Ohh iya Mas, kalau begitu biar aku panggilkan Ibu dan Bapak ya,” kataku kemudian. Tanganku dicekal olehnya. Aku memandang wajah Mas Subekan kemudian. Dirinya menggeleng dengan lemah. Aku mengerti apa yang dimaksudkan. “Takut ganggu istirahat. Mas pamit dulu ya,” pamit Mas Subekan kemudian. “Iya Mas.” “Assalamu’alaikum.” salamnya. “Waalaikumsalam.” Aku memandangi laki-laki itu pergi menjauh dari rumahku. Tidak ada rasa kehilangan seperti ketika aku meninggalkan Steve, aku hanya merasakan dia pergi saja. Tidak lebih dari itu. Rasaku berubah sejak kedatangan Steve dalam hidupku. “Sholeh,” panggil Mas Subekan dengan langkahnya dari dalam rumah yang terburu. “Sholeh kemana?” tanyanya. “Baru pulang Mas,” kataku kemudian. Mas Subekan menghenduskan nafas kesal. Lalu sesuatu yang ada di tangannya itu diletakkan di kursi depan. “Baru saja mau pamer burung baru,” ujarnya dengan membuka kain dan nampaklah burung kecil cantik dengan warna hijau dan merah itu. “Tangkap burung lagi Mas?” tanyaku. “Iyalah. Hasil kerja keras Mas kemarin yang mulut malam-malam di sawah,” ujarnya bangga. “Larasati tidur dulu,” kataku kepadanya kemudian. “Eh bentar,” sela Masku. Aku berhenti melangkah. Tatapan Mas Subekan penuh dengan selidik. “Nggak biasanya Sholeh pulang sore kayak begini. Kalian ada masalah?” tanya Masku. Aku menggeleng. “Kayaknya enggak deh. Tapi Sati rasa ada yang salah dari Sati, tapi aku nggak tahu apa itu,” kataku kemudian. “Kamu nggak dekat lagi kan sama londo sialan itu?” tanyanya menyelidik. Aku terperanjat dengan ucapan spontan Mas Subekan. Sungguh tidak terduga kakak laki-laki ku menanyakan perihal itu. Sudah pasti itu sangat membuat hatiku tidak karuan saat ini. “Sati,” penggilnya sekali lagi. “Oh Mas. Enggak. Sati nggak ada hubungan apapun dengan Steve Mas. Sudah selesai hubungan kami sejak Mas menyuruh buat berhenti,” kataku kemudian. “Ohh, lalu kalau begitu, ada apa sebenarnya. Ahh, aku akan bertanya langsung kepadanya besok,” tukas kakak laki-laki ku. Aku langsung melanjutkan langkah ku untuk masuk ke dalam rumah. Pikiranku gamang. Kupandangi bulan purnama yang sedang cerah-cerahnya malam ini. Beberapa pemikiran terlintas begitu saja di kepalaku. Secercah cahaya dan bayangan akan wajah Steve tiba-tiba terlintas Aku tidak tahu apakah perasaanku ini salah atau benar. Yang jelas aku tidak bisa mengontrol segala rasa yang ada di dalam hati dan pikiranku saat ini. Semua hal yang bernama cinta tidak bisa aku kendalikan di dalam tubuhku. Aku linglung. Bingung dengan batin dan pikiranku yang harus bagaimana. Malam semakin larut. Aku tidak bisa tidur dan hanya ingin memandangi purnama saja. *** Pagi ini aku dikejutkan dengan suara Jumani yang menggelegar. “Sati,Sati!” pekiknya dengan suaranya yang sangat keras. Tidak mencerminkan seorang wanita Jawa yang seharusnya lebih lembut dan lebih sopan. Iya, aku sangat menyayangkan seorang Jumani yang tidak bisa mnegontrol suaranya agar lebih baik. Aku melihat jam yang ada di dinding baru pukul tiga pagi. Ini masih sangat pagi. Dan dirinya gedor-gedir kamarku. “Ada apa? Kamu keseurupan apa hah?” tanyaku dengan malas sembari mengucek kedua mataku. “Aku boleh masuk nggak?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk. “Ada apa?” tanyaku lagi. “Eumm. Aku boleh ya nginep di sini,” katanya lagi. “Ada apa?” tanyaku lagi. Jumani tidak bisa menjawab. Dirinya langsung mengambil tidur di samping tempat tidurku yang hanya satu meter itu. Kulihat b****g perempuan itu. Agak ke atas. Tanda-tanda seseorang yang tidak perawan itu bisa dilihat dari bentuk tubuhnya. Salah satunya adalah bentuk b****g Jumani yang tidak normal sebagai perempuan normal. Apa jangan-jangan? “Jumani, kau harus jujur kepadaku. Sebanrnya ada apa? Tanyaku kemudian. “Aku nggak ada apa-apa. Aku hanya numpang tidur di rumahmu. Sudah itu saja. Memangnya ada pa sih?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng. Lalu ikutan tidur di samping perempuan itu. Perasaanku tidak enak. Ada sesuatu yang disembunyikan dari Jumani. Aku harus segera mencari kebenarannya dengan cepat. Adzan berkumandang. Aku langsung mengambil air dari sumur untuk mandi dan masak dari sumur. Di sampingku Jumani masih pulas tertidur. Aku tak tega membangunkannya. Kubiarkan dirinya tidak sholat. Bukan karena tanpa sebab, aku melihat noda di bagian belakang pantatnya. Sudah barang tentu dirinya menstruasi bukan. “Nduk. Tadi pagi kok sepertinya ada yang masuk ke rumah. Siapa?” tanya Ibu datang ke dapur dengan badannya yang terlihat masih lemas. “Ohh, Jumani Buk, dia nginep di kamar Sati tadi, sekarang masih tidur aku biarkan.” jawabku kemudian. “Loh, pagi-pagi kok nginep, ada apa? Ada masala sama keluarganya?” tanya Ibukku kembali. Aku hanya menggelengkan kepala. Tidak mau menjawab apa pun. Takut jika salah. “Keluarganya Jumani itu sedang ada masalah. Ibu nggak tahu apa masalahnya. Kau tahu kan Bapaknya Jumani itu nikah nggak hanya sekali?” tanya Ibuku kemudian. Aku pun mengangguk. “Iya Bu, tahu. Mungkin ada masalah di sana,” jawabku dengan senyuman. Kuteruskan untuk menghidupkan tungku. Ibu berjalan ke kiwan belakang untuk mengambil air wudlu. Pikiranku masih belum ikhlas. Masih ingin bertanya soal mitos jika wanita yang sudah disentuh itu pasti pantatnya lebar. Aku hanya ingin memastikan saja. Ketika Ibukku keluar dari kamar mandi, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Buk,” panggilku. “Hmm.” gumam Ibu. “Benar ya, perempuan yang pernah disentuh laki-laki itu pantatnya agak ke atas dan lebar?” tanyaku dengan sedikit takut. Ibu malam tersenyum dengan damai. “Iya, betul. Makanya, perempuan yang prawan dan tidak perawan itu kelihatan banget dari ara berjalan dan pantatnya yang lebar dan ke atas. Semua itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Makanya kamu jangan sampai hamil di luar nikah. Atau berhubungan badan sebelum menikah, nanti suamimu akan menyesal menjadikanmu istri. Apalagi kalau nggak jujur sebelumnya. Jadi perempuan itu sulit Nduk, nggak bisa kita banyak polah dan seenak kita. Jika laki-laki bisa melampiaskan hasratnya di mana pun. Kamu sebagai perempuan nggak. Karena kita diciptakan berbeda dengan laki-laki. Kau mengerti maksud Ibu kan?” tanya wanita itu sekali lagi dengan nada yang ingin jika aku paham dengan apa yang dikatakannya. “Iya Bu, Sati paham,” kataku kemudian. Ibu pun melangkah untuk melaksanakan sholat. Tinggal nanti cara berjalan Jumani seperti apa. Kalau dia jalan seperti bebek, sudah bisa dipastikan jika dirinya tidak perawan lagi karena pergaulannya yang terlalu bebas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD